Kota Surabaya memiliki sejarah panjang. Surabaya termasuk kota tua di Indonesia. Prasasti Trowulan I berangka tahun Saka 1280 (1358 M) mengabarkan adanya nama desa di tepi aliran sungai. Kitab Negarakertagama pupuh XVII karya Empu Prapanca (1356 M) menuturkan bait yang berbunyi: yen ring jenggala lot Sabha nrepating ring Surabhaya menulus mare Buwun. Sejak Surabaya berada dibawah kerajaan Majapahit hingga kerajaan Mataram, pelabuhan tradisional Kali Mas selalu ramai. Pelabuhan tradisional Kali Mas menjadi kantong-kantong penghasilan bagi kerajaan-kerajaan itu. Para pedagang-pedagang dari berbagai suku-bangsa berkumpul di muara sungai kecil Kali Mas. Mereka saling menjajakan barang dagangannya.

Baca juga : Menjalani Kehidupan Sekolah di Tiga Zaman

Pemerintah kolonial Belanda menganggap pelabuhan tradisional Kali Mas sebagai pelabuhan utama yang strategis untuk wilayah Jawa Timur. Pengumpulan hasil perkebunan ditransfer dari daerah hinterland menuju pelabuhan tradisional Kali Mas. Pelabuhan Kali Mas semakin sibuk semenjak pemberlakuan tanam paksa. Arus ekspor impor barang benar-benar cepat sehingga pelabuhan Kali Mas tidak mampu lagi melayaninya. Pelabuhan yang dibangun atas kebutuhan yang sederhana ini gagal menyanggupi tuntutan zaman. Untuk mengatasinya, pemerintah kolonial Belanda membangun pelabuhan baru yang sesuai standar internasional. Pelabuhan itu adalah Pelabuhan Tanjung Perak.

Baca juga : Sarkies Brother ; Nasib Tragis Penerus Dinasti Hotel

Era liberalisasi ekonomi tahun 1870 menggenjot pertumbuhan ekonomi kota Surabaya. Apalagi kota Surabaya telah resmi ditetapkan sebagai gemeente di tahun 1906. Berdasarkan data, sekitar 10.000 tenaga kerja yang didominasi oleh orang-orang Madura bekerja di Pelabuhan Tanjung Perak. Pada tahun 1907, Dewan Gubernur Jendral Hindia Belanda yakin bahwa pelabuhan Tanjung Perak akab menjadi pelabuhan penting di Asia. Selain letaknya yang strategis, tanah Jawa Timur tergolong subur sehingga produksi perkebunan gula, kopi dan tembakau melimpah dan semakin meningkan seiring perluasan lahan pertanian dan industri. Laporan resmi menunjukkan pendapatan pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya meningkat 50% selama periode 1901 – 1905. Pelabuhan Tanjung Perak memainkan peranan penting pada sirkulasi barang.

Baca juga : Kaum Homoseksual di Jantung Peradaban Islam

Para pejabat Belanda Perak sangat optimis mengenai masa depan Pelabuhan Tanjung Perak. Mereka meramalkan pelabuhan Tanjung Perak akan menjadi pelabuhan utama di Asia Timur. Impian besar para pejabat tinggi yang mengurusi pelabuhan Tanjung Perak membuat mereka mulai bergerak meningkatkan pendapatan Tanjung Perak setiap harinya. Pemberian layanan maksimal untuk meningkatkan mutu Pelabuhan Tanjung Perak salah satunya adalah meningkatkan jumlah pekerja kasar. Pekerja kasar biasanya dipekerjakan untuk memindahkan barang barang, hasil panen yang akan diangkut dan lain lain. Mereka juga ditugaskan untuk membangun dermaga. Para pekerja kasar ditugaskan untuk memperbaiki dermaga, kapal dan melakukan apapun yang disuruh oleh atasannya.

Total pendapatan bersih setiap kapal tiba menampilkan prosentase yang tinggi. Dewan Hindia Belanda yang menangani Jawa bagian Timur telah mengkonfirmasi tahun 1907 terhitung sebesar 1.690.000 pendapatan bersih. Setiap tahun terus meningkat, Dewan membuat ulasan pernyataan peningkatan dari tahun ke tahun. Keuntungan yang diperoleh di tahun 1914 sekitar 55% dari 1907. Peningkatan drastis hingga 2.617.000. Peningkatan pendapatan yang melebihi ekspektasi harus berkurang disebabkan oleh berbagai peperangan.

Baca juga : Al-Jahiz, Praktik Homoseksual dalam Islam

Ketika Perang telah berakhir, aktivitas ekonomi pelabuhan Tanjung Perak yang sempat terhenti diaktifkan kembali. Usaha mempercepat laba penghasilan, beragam cara untuk meramaikan aktivitas perdagangan di pelabuhan Tanjung Perak pun dilakukan. Pelabuhan Tanjung Perak mengupgrade peralatan peralatan yang penting untuk mencapai tujuannya. Kebijakan lain adalah memperbanyak jumlah pekerja kasaran yang melayani bagian distribusi dibidang memindah-mindah barang. Alasan utama kebijakan ini adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Pelabuhan Tanjung Perak yang bergerak dibidang jasa harus mempunyai kontribusi yang besar dan dapat dihandalkan.

Pejabat tinggi pelabuhan Tanjung Perak berusaha untuk mengoptimalkan kinerja pelabuhan Tanjung Perak sesuai salah satu fungsinya sebagai bandar transit. Kebijakan kebijakan jangka panjang diterapkan untuk merancang masa depan yang lebih baik. Kemakmuran Surabaya sangat berhutang besar pada wilayah pedalaman Jawa Timur yang merupakan penghasil hasil panen yang sebelumnya diangkut terlebih dahulu menggunakan kereta api. Sepanjang dermaga yang aman dan tenang, laut yang memungkinkan kapal untuk melemparkan jangkar. Para pekerja kasaran biasanya dipekerjakan di jantung kota melalui Kali Mas, salah satu mulut sungai Brantas.

 

Sumber Referensi :

…., 1920. Harbourwork; Nedherlands East Indian Harbours. Batavia.

Basundoro, Purnawan.2009.Dua Kota Tiga Zaman; Surabaya dan Malang;Sejak Kolonial Sampai Kemerdekaan.Yogyakarta: Ombak.

Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya Warisan Kerajaan-Kerajaan Kosentris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Noordjanah,Andjarwati. 2004. Komunitas Tionghoa di Surabaya.Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Pires, Tome. 1944. Suma Oriental, edited and translate by Armando Cortesso. London: Hakluyt Society.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here