“Kematian Tan Malaka bukan kematian seorang pahlawan. Ia ditangkap satuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) ketika sedang dalam pelarian yang terjadi pada tanggal 21 Februari 1949 di sebuah desa di lereng Gunung Wilis, dekat Kediri, Jawa Timur,” tulis peneliti Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), Harry A. Poeze, dalam tulisannya ‘Memuliakan, mengutuk, dan mengangkat kembali pahlawan nasional; Kasus Tan Malaka’ di buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia.

Menurut Poeze, presiden Soekarno tidak menaruh minat untuk mengetahui secara rinci kematian Tan Malaka, karena lebih tenang jika kematiannya tetap menjadi misteri. Seorang pecinta sejarah Eropa yang memandang masa lalu Indonesia secara relatif negatif ini, bukan sekadar negarawan cerdik, Tan Malaka juga seorang guru bangsa, yang bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia sudah memiliki jejaring internasional.

Menurut Anthony Reid dalam buku Indonesia, Revolusi, & Sejumlah Isu Penting, Berkat tulisan-tulisannya yang terbit sekitar tahun 1920-an, Tan Malaka memiliki banyak pengikut, dan setelah beberapa dekade bersembunyi, ia muncul kembali di Jakarta pada 1945. Pasca pemberontakan komunis di Madiun, Tan Malaka mencoba memperbarui tawarannya untuk kepemimpinan ideologis revolusi. Namun, ia malah dikejar-kejar dan dibunuh atas vonis pengadilan militer semu.

Guru bangsa

Amir Sjarifoeddin Harahap menganggap Tan Malaka sebagai ‘Trotskvist’ yang berpisah dari Moskow. Seorang pengusung gagasan revolusioner Marxisme Leon Trotsky yang konsisten memperjuangkan kepentingan kaum buruh ini, memang memiliki kawan seperjuangan di Rusia. Tan Malaka pernah mengirim sebuah surat kepada kelompok sosialis Uni Soviet, surat kabar De tribune; soc.dem. weekblad edisi 1 Mei 1930 melaporkan dukungan atas sekolah rakyat yang bertujuan membebaskan Hindia Belanda dari berbagai penindasan.

Sebelum berpetualang dalam dunia politik global, Tan Malaka telah berjuang melalui jalur kooperatif dengan berupaya mencerdaskan anak-anak pribumi. Setelah lulus dari Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (SDOV, atau Asosiasi Demokratik Sosial Guru), ia kembali ke desa kelahirannya, di Nagari Pandan Gadang, dan menerima tawaran dari Dr. C.W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli perkebunan di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Akan tetapi, ia kesal dengan tuan tanah perkebunan yang menganggap sekolah bagi anak kuli hanya membuang-buang uang saja.

Akibatnya, Tan Malaka menemui direktur sekolahnya, Janssen, dan mengajukan permintaan pengunduran diri. “Tan melihat sumber semua perbedaan itu dari kacamata Marxisme, yakni konflik antara kaum kapitalis dan proletar. Dia menyebutnya sebagai pertentangan antara Belanda-Kapitalis-Penjajah dan Indonesia-Kuli- Jajahan,” tulis tim penyusun seri buku Tempo Tan Malaka; Bapak Republik yang dilupakan.

Semenjak kejadian itu, Tan Malaka mulai menerjemahkan pemikiran Marxisme Trotsky, dari sisi upaya kemerdekaan hanya mampu dicapai melalui jalan revolusi menentang kolonialisme Belanda. “Sebab itu, kaum intelektual kita masih pasif. Karena didikannya di sekolah imperialis, mereka tak mengerti, bahwa kasta mereka mesti mencampurkan diri ke kasta buruh dan tani, karena kasta-kasta inilah di Indonesia yang bisa merebut kemerdekaan,” tulis Tan Malaka dalam bukunya Semangat Muda (1926).

Pada tahun 1921, Tan Malaka mengikut Kongres Sarekat Islam di Yogyakarta, dan ketika organisasi terpecah menjadi fraksi Islam dan Komunisme, ia memilih bergabung Sarekat Islam Semarang yang dipimpin Semaun dan Darsono.

“Wah kebetulan, pikirku. Bercakap-cakap sendiri. Saya mendapat tahu, bahwa beliau (Tan Malaka) berpikir secara sosialis, komunis. Untung bagi gerakan rakyat revolusioner di Indonesia, pikirku pula. Besok marilah bersama ke Semarang, Bung. Rakyat menunggu putranya yang intelektual” kata Semaun seperti dikutip dalam buku yang hadir sebagai peringatan sewindu hilangja Tan Malaka.

Baca : Kampoong : Antara Hunian dan Hinaan

Semaun dan Tan Malaka sepakat membangun sekolah rakyat yang mengedukasi anak-anak pribumi agar bisa menjadi calon pemimpin yang revolusioner. Sarekat Islam Semarang membantu menyediakan gedung dan fasilitas pendidikan lainnya. Sekolah rakyat ini didirikan untuk membantu perjuangan ekonomi dan politik masyarakat. Sekolah rakyat ini, tulis Tan Malaka dalam surat kabar De tribune; soc.dem.weekblad edisi 31 Mei 1922, berencana bukan hanya menghadirkan pendidikan umumnya (berhitung, membaca, menulis, bahasa, dan lain-lain), melainkan juga mengajarkan anak-anak peduli dengan kondisi sosial masyarakat Hindia Belanda.

“Sebagai landasan kebajikan moral orang Hindia Belanda, terutama kaum proletar dan petani, yang harus memimpin sampai pembebasan ekonomi dan politik mereka. Kebajikan-kebajikan itu tidak dapat dicapai hanya dengan kata-kata dan buku, sehingga mereka juga harus melewati rapat dan asosiasi. Setelah bebas dari ideologi kapitalis, mereka harus merasakan sebanyak mungkin bebas dari jerat kolonialisme, sehingga dapat menjernihkan cita-cita yang telah mereka simpan,” tulis Tan Malaka.

Baca juga : Primadona Aroma, Sejarah Kayu Cendana

Selain sekolah rakyat di Semarang, Tan Malaka juga menjelaskan sekolah rakyat di Bandung yang memiliki andil penting dalam memberantas buta huruf. Masih mengutip De tribune; soc.dem.weekblad edisi 31 Mei 1922, sekolah rakyat tersebut independen, yang mana manajemen keuangan, dari pengumpulan biaya sekolah, pembayaran staf pendidikan, dan pemeliharaan persediaan sekolah – dipegang komite lokal yang memperoleh dana dari kas komisi pusat Sarekat Islam. Akan tetapi, Tan Malaka tidak sempat menyaksikan perkembangan sekolah rakyat yang ia dirikan. Sebab, pada 2 Maret 1922 pemerintah kolonial Belanda menangkap Tan Malaka di Bandung.

Baca juga : Mencari Muslim Millenial

“Tetapi sayang jika Bung Tan ditarik sampai ikut serta masuk dalam bahaya pemerintah Belanda. Sekolah sudah jadi, Bung. Murid-murid cukup banyaknya,” tutur Semaun seperti dikutip dalam buku yang hadir sebagai peringatan sewindu hilangja Tan Malaka.

Sebagai wakil ketua organisasi Vaksentral-Revolusioner, pemerintah Belanda tentunya menganggap Tan Malaka sebagai aktor intelektual dalam pemogokan buruk pelabuhan dan pengeboran minyak. Karena penangkapan Tan Malaka, pengumpulan dana untuk sekolah rakyat dengan mengadakan perayaan festival di Semarang tersebut, dibatalkan. Jaksa Agung, tulis surat kabar De Indische Courant edisi 4 Maret 1922, menghentikan festifal yang akan berlangsung di Semarang tersebut, meskipun panitia sudah melakukan banyak persiapan.

Baca juga : Yang ter(di)lupakan; Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia

Semenjak penangkapannya itu, Tan Malaka kerapkali menjadi buronan. Surat kabar De tribune; soc.dem.weekblad edisi 5 September 1927 memberitakan keberadaan Tan Malaka di Manila, Filipina, sekaligus menceritakan jasa dan riwayatnya.

“Para pembaca De Tribune tahu siapa Tan Malaka itu. Dia kelahiran Sumatera. Dia bertanggung jawab atas sekolah rakyat di Jawa … Pemerintah (kolonial Belanda), itu lebih suka orang Jawa tidak diterima dengan bijak dan sangat ketakutan jika terjadi kekacauan,” tulis De tribune.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here