Ketika berjalan menuju suatu masjid di kampung (baca juga artikel selanjutnya berjudul Kampoong : Antara Hunian dan Hinaan) Karang Menjangan, Surabaya, penulis memergoki seorang bapak sedang kencing pada selokan di lorong gelap sempit memanjang sambil disoraki bapak-bapak lainnya yang duduk bersenda gurau. Lalu penulis juga menjumpai seorang anak kecil mengambil bola yang terjebur di selokan yang cukup dekat dari lokasi tadi. Selain itu, penulis menemui seorang ibu membuang sampah di selokan yang masih terhubung dengan selokan tadi.

Sanitasi buruk akibat kebiasaan warga kota itu dihujat oleh teman penulis yang kebetulan berjalan bersamanya. Ia memasang wajah muram dan memakinya dengan ungkapan mental inlander. Yang menarik ialah mengapa kebiasaan, sikap, perilaku dan pola pikir semacam itu dihubungkan dengan stigma dan stereotipe inlander yang menjadi sebutan bagi kaum pribumi pada masa kolonial Belanda. Untuk mengurai jawabannya, memerlukan penelusuran sejarah yang mengulas kebiasaan, sikap, perilaku dan pola pikir kaum pribumi pada masa kolonial Belanda.

Kebijakan Gemeente Surabaya yang diskriminatif berdampak pada pemukiman miskin pribumi yang tidak terurus. Tata ruang berantakan dengan lingkungan yang kotor, jorok, miskin, kumuh dan kurang sehat menjadi pemandangan lazim perkampungan pribumi pada paruh pertama abad ke-19. Kehidupan masyarakat pribumi termasuk dalam kategori tidak layak, rumah-rumah kumuh dan gubuk-gubuk reot lebih menyerupai tempat tinggal hewan ternak.

Pada tahun 1910-an penyakit pes menyebar ke kawasan pemukiman Eropa. Bahaya epidemi tersebut memberikan efek jerah sehingga Gemeente Surabaya mulai memperhatikan perkampungan miskin pribumi. Akan tetapi, perbaikan kualitas hidup itu berkat kesadaran orang-orang Eropa untuk menjaga dan menebar gaya hidup higienis di perkampungan-perkampungan pribumi yang menjadi tetangganya.

Karena motif utama kesadaran itu adalah pencegahan agar epidemi berbahaya tidak menyebar ke pemukiman Eropa, maka muncul pula stigma dan stereotipe bahwa orang-orang pribumi merupakan sumber segala epidemi. Stigma dan stereotipe sumber segala epidemi lahir sebagai bentuk kekesalan masyarakat Eropa terhadap orang-orang pribumi yang bodoh. Stigma dan stereotipe sumber segala epidemi menjadi cerminan perbedaan gaya hidup sekaligus penjawantahan superioritas orang-orang Eropa dan inferioritas orang-orang pribumi.

Sikap dan perlakuan orang-orang Eropa itu dibangun atas pemahaman terhadap kebiasaan buruk dan gaya hidup tidak sehat masyarakat miskin pribumi. Gemeente Surabaya yang bertanggung jawab atas masalah ini mengirim Hendrik Freek Tillema, Herman Thomas Karsten dan agen-agen pembantu lainnya untuk merubah persepsi kaum pribumi dan menggantinya dengan ideologi sehat melalui propaganda kesehatan (Purnawan Basundoro, Dua Kota Tiga Zaman; Surabaya dan Malang Sejak Kolonial Sampai Kemerdekaan, 47).

 

Baca juga : Aib Slogan Pembangunan : Gizi Buruk Masa Orde Baru

Baca juga : Menjalani Kehidupan Sekolah di Tiga Zaman

 

Potret kehidupan perkampungan pribumi di Surabaya yang menyedihkan wajar jika menjadi sarang penyakit malaria, beri-beri, kolera, cacing tambang, cacar, tuberkolusis, skabies, lemah mental, skrofula, desentri, sifilis dan penyakit kelamin lainnya. Biang keladi segala penyakit ialah kutu dan kepinding yang menghinggapi setiap tempat tinggal di perkampungan pribumi dan kebiasaan buruk seperti perbudakan, banyak anak, hubungan seks bebas, kawin muda, perburuan kepala manusia, balas dendam, anak-anak terlantar dan permasalahan sosial lainnya.

Selain itu, beragam hewan ternak berkeliaran yang sengaja dipelihara dengan bebas mengotori sepanjang tepi jalan perkampungan yang dilalui oleh selokan yang tercemar dan tidak terawat (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12 Oktober 1909). Karena infeksi kolera berasal dari bakteri Vibrio Cholerae yang faktor utama penyebabnya ialah lingkungan hidup yang tidak sehat, maka kaum pribumi menjadi pihak yang di anggap bertanggung jawab atas wabah kolera di Surabaya (Leeuwarder Courant, 23 Juli 1910).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here