Sejarah Balada Pustaka

Bermula dari perbincangan konyol yang berujung pertempuran bullying di kamar,  kontrakan bu Dewi KarangMenjangan Gg. 4 No.23. Ku mulai akrab dengan Romi, teman  seangkatan yang cuek, misterus dan ternyata agak peleh. Dua minggu sebelum ulang  tahunku ke-21, Romi menaiki tangga sambil menengok ke arah kamarku.

Dengan bersikap bagaikan partner bisnis terpecaya dia mengajakku proyekan yang  sebenarnya aku kurang begitu jelas mendengarkannya. Selang dua hari kemudian, dia  memaparkan panjang lebar mengenai rencana membuat website yang menampung tulisan-tulisan sejarah dari tugas setiap mata kuliah.

Kami menarget pembacanya teman seangkatan, kakak tingkat dan tentunya adek tingkat  meskipun sering berjalannya waktu ekspektasi tak seindah kenyataan. Akhirnya, kami  mengalihkan target ke komunitas pemerhati sejarah yang memadati grup-grup Facebook  sehingga mengkondisikan postingannya merupakan bacaan sejarah  populer. Namun,  tulisan-tulisan yang diposting masih amburadul  sebagaimana desain websitenya. Usai diskusi panjang-lebar yang aneh dan penuh perdebatan, kami memutuskan memberi  nama blognya Balada atas usulan Romi dan Pustaka atas usulanku.

Atas kehendak Romi, kami menggunakan wordpress sebagai media untuk berkarir. Pembagian tugas sangat serampangan, aku ditugasi membuat artikel, menyebarkannya  ke OA Line dan mempostingnya ke grup-grup Facebook sedangkan Romi memposting  artikel baladapustaka.wordpress.com serta mendesain website. Selama pengerjaan,  kami mendapat banyak gangguan dari kesibukan  berkegiatan(Sie Acara LK I dsb),  tuntutan spontan dan aktivitas pertanggung jawaban (Penelitian Pemuda FIB Greges dsb). Terlebih  lagi, aku malah memutuskan pindah ke kontrakan Bollywood yang nantinya membantu  menyediakan banyak referensi menarik dari koleksi buku Baihaqi Al- Chassan dan Achmad Fanani.

OA Line aku promosikan secara brutal dengan membagikan keseluruh kontak Line di akun pribadiku.

Yang lebih konyol lagi, tanpa malu, strategi marketing wong ga duwe udel aku terapkan dengan membagikan setiap postingan ke grup-grup Line yang berdampak  beberapa grup menendangku keluar, meskipun akhirnya aku memperoleh grup lain yang  lebih besar jumlah anggotanya dari kawan-kawanku.

Periode membangun reputasi di wordpress sangat penuh perjuangan. Aku mondar-mandir  dari kontrakan Bolliwood ke kontrakan lama yang jaraknya jauh dengan jalan kaki. Kadang hanya untuk memastikan Romi memposting artikelku. Selain itu, nasib sial berturut-turut menghampiriku.

Tak seperti yang kubayangkan, hidup di kontrakan Bollywood justru semakin menipiskan kantung dompetku. Apalagi jauh dari makanan murah (mbok Yem), wifi perjanjian tidak dibayar oleh sebagian anggota sehingga harus mengungsi mencari suaka ke kontrakan  lama (sungguh miris padahal maksudnya sebaliknya) dan parahnya sulit akses menuju ke kampus.

Perkembangan baladapustaka.wordpress.com cukup signifikan dengan jumlah pembaca yang fluktuatif.

Naik-turunnya pembaca tergantung artikelnya sehingga aku mempelajari betul jurnalistik  (kepenulisan) dan marketing (target) untuk memetakan tema-tema yang menarik. Setiap hari mengecek search engine untuk memastikan kata kunci baladapustaka yang menanjak terus menuju puncak.

Proses yang berdarah-darah dan menyakitkan, karena perjuangan keras menemui jalan buntu. Ternyata wordpress tidak dapat dipasang iklan. Kalaupun bisa harus membayar  sekitar 1.300.000. Keputusan sulit, persoalan pun aku tanggapi tanpa putus asa.

Upaya dari menabung sampai meminta bantuan teman KKN Romi yang berujung ditipu ku jalani dengan ikhlas dan gembira. Persoalan kartu kredit untuk membayar premium wordpress yang menggunakan kartu kredit khusus menyebabkan aku dan Romi mondar-mandir ke bank dengan hasil zonk serta menuai simpang siur informasi dari interpretasi liar tak berdata.

Ketika ku bertukar informasi dengan temanku dari Celep, aku tersadar untuk membeli  web hosting. Romi dengan terlalu hati-hati dan santai membuatku jengkel karena tidak tegas dan cenderung mencari zona nyaman. Ia menelusuri pusathosting.com yang berakhir dengan hasil zonk, anehnya malah menggoda tante-tante.

Tanpa basa basi aku bergerak sendiri. Karena tegantung bukanlah kegemaranku, maka aku mencari  solusi dengan bertanya temanku Ilham Rusdi yang kebetulan baru saja lulus dari STAN. Pengalamannya membikin website memudahkan pembelian.

Hanya tiga hari, sambil ngopi dan nongkrong nyalain wifi, dari pembelian, pendesainan  hingga memposting seluruh website selesai tuntas.Tinggal persoalan iklan yang memusingkan kepalaku. Bergairah dan terburu-buru, aku mensetting agar websiteku dapat diterima oleh penyedia iklan.

Usaha mendapat restu dari Google Adsense disertai penantian menjengkelkan yang bikin  gigit jari. Lama sekali, ilham pun memaparkan testimoni pengalaman teman-temannya yang setidaknya  meredam ambisiku yang menggebu-gebu. Akan tetapi, dengan gigih  aku mulai mempromosikan ke grup-grup Facebook.

Pengunjung pun berdatangan dan artikelku pun banyak dibaca meskipun masih menggunakan iklan ilegal yliix.com yang ditawarkan Ilham karena terbukti membayar.

Tapi penyedia iklan itu terkena sistem keamanan Google sehingga websiteku dianggap malware. Websiteku menghilang dari search engine. Perasaan khawatir  menghantuiku setiap hari. Tidak putus asa, aku mencari jalan yakni menghapus penyedia  iklan sesuai dengan sarannya Ilham. Lalu, Ilham mendaftarkan kembali website ke Googlewebmaster agar  dapat muncul lagi ke google search enggine. Menunggu 12 jam,  akhirnya muncul kembali websiteku di search engine meskipun berada page 4 padahal kata kunci balada pustaka.

Promosi pun aku gencarkan lagi yang berdampak pada kepopuleran websiteku. Selang  beberapa jam kemudian, emailku mendapat pesan dari Google Adsense yang mengucapkan selamat karena websiteku layak diberi iklan. Bersamaan dengan itu, websiteku berada posisi kedua dalam mesin pencarian google dengan kata kunci balada pustaka.

….To be continue…