Rempah-rempah dikenal sebagai komoditas perdagangan global sejak ribuan tahun silam. Di antara bermacam-macam rempah-rempah, lada adalah rempah-rempah paling digandrungi. Bahkan lada yang disebut raja-rempah-rempah ini berulangkali menjadi komoditas ekspor utama dalam sejarah Indonesia. Permintaan lada di dunia pada tahun 2000 saja mencapai 280.000 ton (Rahmat Rukmana, Tanaman Perkebunan : Usaha Tani Lada Perdu : 7).

Baca juga : Mewabahnya Junk Food

Kembali ke 2000 abad yang lalu pun, masyarakat dari berbagai peradaban besar seperti Romawi, Mesir kuno dan Cina kuno mencari lada untuk menambah cita rasa pada makanan. Daging segar dipotong-potong, dimasak dan dibumbui dengan lada agar tidak terasa hambar. Lada yang berguna untuk penyedap makanan ini mampu meningkatkan selera makan (Heinz von Hoizen & Lother Arsana,The Food of Indonesia ; Delicious Recipes from Bali, Java and Spices Island :10).

Lada hitam dan putih mempunyai rasa berbeda. Tanaman asli penghasil butiran-butiran bulat yang diketahui sebagai lada berasal dari Malabar, pantai India yang dibawa ke Indonesia beraabad-abad yang lalu. Lada hitam yang isi buahnya masak kering dengan kulit utuh sementara lada putih kulitnya sudah terkelupas.

Baca juga : Gamelan Jawa Mengarungi Gelombang Sejarah

Lada juga berfungsi untuk menutupi rasa kurang segar daging serta, parfurm udara selama pemakaman, obat-obatan, ramuan sihir dan resep pembalseman. Orang Yunani kuno mengenal rempah-rempah seperti lada, bawang putih dan ketumbar dari kapal-kapal dagang yang berlayar ke Timur Tengah, India serta Asia Tenggara.

Lada di pasar Lisbon, kapal-kapal Portugis ambil dari pesisir Malabar. Seiring permintaan pasar Eropa terhadap lada membludak, diperparah dengan kiriman lada yang terhambat mendorong orang dari Inggris dan Belanda mengadakan pelayaran dan perniagaan mengarungi samudera Hindia menuju kepulauan Nusantara. Ekspedisi menemukan kepulauan penghasil lada mulanya berjalan secara bertahap dari membeli di pasar pesisir Malabar, berpindah ke kota-kota pantai Cina, berlanjut ke Malaka lalu menjangkau pelabuhan-pelabuhan di kepulauan Nusantara (baca juga Bandar Pelabuhan Internasional : Riwayat Pelabuhan Tuban Tempoe Doeloe).

Baca juga : Krisis Pangan Dibalik Hubungan Diplomasi India-Indonesia

Sekitar 4.670 ton lada angkut ke Eropa pada tahun 1521. Akan tetapi, lonjakan harga lada tidak dapat dihindari mengingat persaingan pelayaran dan perniagaan antara orang Inggris, Portugis, Belanda, Perancis dan Denmark. Fluktuasi harga lada juga tidak terkendali akibat masalah politik diberbagai negeri pemasok lada. Beberapa penjelajah Eropa yang membeli lada di pelabuhan pesisir Malabar dan menunggu kedatangan kapal-kapal Cina memilih untuk mencari lada ke tempat asalnya demi menghemat biaya pengeluaran (J.C Van Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia:183).

Sepanjang abad ke-16 dan ke-17, lada adalah komoditas terpenting di Kepulauan Nusantara yang diekspor sepuluh kali lipat daripada produk rempah-rempah lainnya. Budidaya dan pemeliharaan memerlukan kecermatan serta ketekunan mengingat durasi panen yang membutuhkan waktu 3 tahun. Total ekspor lada Sumatera, Jawa, Banten, Semenanjung Malaya diperkirakan mencapai 6.500 ton (Anthony Reid, Asia Tenggar Dalam Kurun Niaga; Jilid 2 Jaringan Perdagangan Global : 10-12).

Baca juga : Homo Bataviensis

Lada dijual di beberapa pelabuhan pesisir barat Sumatera (Pariaman, Selebar, Indrapura), pesisir utara (Pidie, Pasai) dan pesisir timur (Indragiri, Kampar, Jambi) yang dibudidayakan di lereng-lereng pegunungan. Di pelabuhan Banten, perdagangan lada sempat mengalami pasang-surut yang mana pada tahun 1629 budidaya hanya menghasilkan 7.000 hingga 8.000 kantung saja. Monopoli lada diterapkan oleh VOC dengan mengimpor lada murah dari Jawa Timur (Surabaya, Gresik dan sekitarnya) untuk dijual mahal di Batavia serta memblokade kemungkinan pengusaha China berpartisipasi dalam kompetisi perniagaan (M.A.P Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa & Asia di Nusantara : 16, 251-176).

Lada adalah produk penting ekspor pasar internasional, komoditas berharga bahkan menjelma jadi barang barter. Portugis biasanya menukar lada dengan beras di Jepara sedangkan orang Jambi di Malaka menukar lada dengan kain. Orang Jawa pergi ke Jambi menukar beras dengan lada sebaliknya orang Sumatera ke Jawa menukar lada dengan beras.

BAGIKAN
Berita sebelumyaSejarah Raja Pangan
Berita berikutnyaKrisis Bawang Putih
Goresan tinta kehidupan bukanlah balada cerita surgawi. Ada luka, fitnah atau darah yang mewarnai hitam-putih narasi sejarah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here