Kegiatan pelayaran dan perniagaan jalur rempah ditompang energi manusia. Elit birokrat lokal, keluarga kerajaan dan saudagar menjadi tokoh-tokoh sejarah yang menonjol dalam kurun niaga (1480-1680 versi Anthony Reid). Namun, dibalik layar kuasa terdapat aktor – aktor yang mendorong keberlangsungan perlayaran dan perniagaan seperti petani, masyarakat setempat, tetua suku dan budak.

Baca juga : Kiprah Politik Moh. Ali Jinnah

Sebagaimana aktor dibalik layar, selain komoditas rempah-rempah terdapat produk penyokong kebutuhan hidup semua aktor-aktor pelayaran dan peniagaan di kepulauan Jawa seperti asinan atau ikan kering, tuak, hewan, gula, buah-buahan serta sayur-sayuran. Akan tetapi, bahan pangan utamanya adalah beras.

 

“Di dalam keseluruhan gambaran perdagangan Asia Tenggara, rempah-rempah memikat para pedagang dari belahan dunia lain sebenarnya hanya barang dagangan dalam jumlah kecil. Justru bahan makanan seperti beras, garam, asinan atau ikan kering dan tuak, serta komoditas barter semacam logam dan tekstil yang memenuhi muatan kapal di perairan tenang lautan Sunda”, tulis Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2 : Jaringan Perdagangan Global hlm.4.

 

Beras, asinan atau ikan kering dan tuak adalah persediaan makanan selama berlayar. Di sepanjang perjalanan, kapal berkunjung ke berbagai pelabuhan untuk menukar logam dan tekstil dengan bahan makanan serta mengisi air minum (baca artikel sebelumnya Sejarah Raja Rempah-Rempah).

Baca juga : Krisis Pangan Dibalik Hubungan Diplomasi Indonesia-India

Peniagaan beras membentang lintas pulau yang terjadi karena konsumsi nasi sudah membudaya sejak ribuan abad silam. Situasi ekonomi, kondisi geografi dan beberapa aspek lingkungan mendorong permintaan beras setiap wilayah. Budidaya dan konsumsi beras menggambarkan selera makanan pokok penduduk Nusantara yang nantinya menular ke bangsa-bangsa lainnya (Fadly Rahman, Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia : 47-48).

 

“budidaya beras berikut niaganya pada abad ke-18 memang kian meningkat dan meluas jangkauannya ke kawasan Timur. Namun hal itu bukan berarti budidaya beras dan niaga beras bisa mengubah pola produksi dan selera konsumsi jenis makanan pokok lainnya…berabad-abad beras identik dengan raja pangan…”, tulis Fadly Rahman.

 

Orang Banda mengutamakan menanam pala, cengkih dan tanaman rempah lainnya, lalu menukar sebagian kecil dengan beras dari orang Jawa dan Melayu untuk memenuhi bahan pagan. Bagi pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa beras adalah komoditas pangan terpenting yang dikirim ke Banten atau dipertukarkan di Malaka dan kepulauan Timur Jawa. Orang Portugis di Malaka menukar kain tekstil dengan beras dari orang Jawa, bahkan terkadang mengunjungi langsung pelabuhan Gresik. Aktivitas pelayaran dan perniagaan antara orang Jawa (raja Surabaya) dengan orang Portugis terganggu blokade VOC yang kesulitan mendapat beras karena tidak mampu menyediakan tuntutan orang Jawa (raja Surabaya) berupa kain tekstil murah berkualitas (M.A.P Meilink-Reolofsz, Persaingan Eropa & Asia di Jawa: Sejarah Perniagaan 1500-1630 : 93, 235 dan 267).

Baca juga : Misi Menyelamatkan Perancis

Pada 1615, pengiriman beras dengan 50 jung berlayar dari Jepara ke Malaka sedangkan pada 1617, dikabarkan 120 jung Jawa yang berlayar ke Malaka. Van Leur memperkirakan setiap tahun total kapal yang berlayar mencapai 200 kapal. Selain Portugis, beras juga menjadi bahan pagan bagi penduduk Banda, Ambon dan pulau-pulau di sekitar Maluku yang menjadikan sagu sebagai makanan pokoknya.

 

Impor beras mencapai 1.440.000 pon beras yang dapat ditaksir jatah beras 12 pon per-orang bagi orangkaya Banda dan per bulan bagi petani miskin yang bertahan hidup dengan memakan umbi-umbian, kacang-kacangan dan sagu. Dibandingkan dengan Ambon dan Maluku Utara yang mengimpor beras dengan total 10.800.000 pon. Pengiriman beras sebesar itu melibatkan 130 sampai 140 kapal yang memiliki tonase 60 ton (J.C Van Leur, Perdagangan & Masyarakat Indonesia: Esai-Esai Tentang Sejarah Sosial dan Ekonomi Asia : 188-190).

 

Pada 1618, Ekspedisi Hongi VOC berhasil menangkap dan membakar jung pengangkut beras dari Mataram. Upaya mengukuhkan hak ekstirpasi dan monopoli perdagangan rempah-rempah mengalami kegagalan yang berujung perubahan haluan politik setelah momentum kudeta Susuhunan Pakubuwana II. Susuhunan meminta bantuan VOC untuk merebut tahtanya kembali dengan imbalan berupa izin menguasai dan menentukan gubernur di wilayah pesisir Jawa (M.C Ricklefs, Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792: Sejarah Pembagian Jawa : 61-62).

Baca juga : Mencari Indonesia : Demografi-Politik Pasca Soeharto

Kendali monopoli beras seiring pengaruh VOC dalam perpolitikan Mataram menunjang kebutuhan pangan mereka, yang nantinya mempengaruhi perubahan selera makan berbagai kalangan (suku, bangsa, ras) di beberapa tempat (wilayah-wilayah impor beras).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here