Generasi millennial hidup ditengah gemuruh nyinyir, luapan banjir quotes dan arus informasi media-media rempenyek yang silang sengkarut membangkitkan republik cinta. Akibatnya, mewabahnya fenomena nikah muda. Bahkan, virus nikah muda sudah melanda kampung saya tercinta, Celep Selatan, bahkan menjangkiti saudara perempuan saya.

Saudara perempuan tersebut merupakan cucu dari kakak nenek saya, sekaligus teman SD saya yang menyebalkan. Yang memberitahu berita pertunangannya kepada saya adalah nenek saya. Dengan bangga dan sedikit prihatin, nenek saya meninjau hubungan asmara calon mempelai putra dan putrinya dari ilmu romansa kekunoan, maksudnya berlandaskan alam berpikir orang-orang tua kelahiran akhir tahun 1950-an. Melalui analisis yang cermat, nenek saya menyimpulkan bahwa calon mempelai putra masih arek, dalam artian masih ingin merasakan masa muda sedangkan calon mempelai putri (baca : saudara perempuan saya) sudah tergesa-gesa ingin segera mengikat hubungan secara resmi menurut negara dan agama. Akan tetapi, tetap saja bukan kasus tersebut yang membuat nenek saya tidak pernah menanyakan ‘kapan nikah?’ kepada saya, melainkan beliau sudah memahami secara komprehensif mengenai kehidupan saya yang masih terseok-seok hanya dari isi dompet saja.

Baca juga : Konspirasi Global dan Aliansi Anti-Kafir

Perbincangan saya dengan nenek saya lantas beranjak pada fenomena ngebet (ingin cepat) nikah yang seringkali menyerang kaum hawa. Namun, saya tidak menceritakan fenomena-fenomena di kampus-kampus karena nenek saya bakalan kesulitan membayangkannya. Oleh karena itu, saya hanya mengkisahkan beberapa wanita yang mengajak saya menikah secara blak-blakan, belum termasuk yang menggunakan cara implisit.

Nenek saya langsung merespon dengan cara beragam. Nenek saya melarang untuk menikahi wanita-wanita dari daerah tertentu dan kebetulan saya juga sepakat. Akan tetapi, dari sekian banyak alasan yang masuk akal, nenek saya juga menyarankan untuk menjauhi wanita dari daerah “sensor” karena sudah banyak warga kampungnya yang menjadi korban. Nenek saya menggambarkannya sebagai wanita yang kasar, keji dan kejam.

Baca juga : Larangan Jilbab Masa Orde Baru

Selain itu, saya bercerita tentang gadis tertentu yang mengajak saya nikah, kebetulan rumahnya berada di daerah pesisir yang pernah nenek saya kunjungi dan mendapat sambutan hangat dari janda disana. Tanpa tedeng aling-aling, nenek saya mempromosikan wanita yang belum beliau kenal, bahkan menambahkan sedikit kisah saudara laki-lakinya yang menikah dengan orang tambakan (berasal dari keluarga petani tambak).

Nenek saya dengan gembira mengkisahkan ulang bagaimana beliau rutin setiap bulannya dua kali diberi ikan bandeng. Dari situ, saya mengadakan eksplorasi ke rumah saudara laki-laki nenek saya itu. Lokasinya di daerah Kepetingan, Sidoarjo.

Disana saya mendapati kisah yang sama dengan kisah-kisah para nelayan dan petani tambak lainnya. Ketika saya bersama tim mengadakan penelitian di kampung nelayan Greges di Surabaya, para nelayan disitu juga menceritakan periode keemasan perikanan tangkap dan budidaya perikanan pada tahun 1970-an. Beberapa buku membuktikan keterangan dari berbagai nelayan dan petani tambak tersebut dan ternyata saudara laki-laki nenek saya juga menikahnya pada tahun 1970-an.

Baca juga : Sarkies Brothers : Nasib Tragis Penerus Dinasti Hotel

“Berbeda dengan dulu yang menjamur tambak, sekarang hanya sedikit yang menekuni profesi sebagai petani tambak seiring dengan semakin menipisnya lahan akibat perluasan pabrik yang ada. Pembukaan berbagai macam industri sekitar tahun 1980-an menyebabkan perubahan di Kampung Greges. Greges yang dulunya banyak terdapat tambak harus bergeser dengan adanya gudang industri, pabrik dan peti kemas. Menurut keterangan masyarakat, dulu saking banyaknya tambak setiap hari selalu ada panen ikan di tambak”, tulis Manda Firmansyah, Eka Nurul Farida dan Muhammad Rohman Obet dalam makalah Penelitian Pemuda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga berjudul Hidup di Tengah Perbatasan; Kampung Nelayan Greges dan Sosial Budaya Masyarakat di Kawasan Peri-Urban Surabaya.

Pada 1960-an, Sebagian besar nelayan masih menggunakan perahu layar. Sekitar 70 % perikanan tangkap dan budidaya perikanan masih tergolong usaha mikro. Namun, modernisasi pada sektor perikanan terus-menerus mengalami perkembangan yang signifikan seiring peningkatan produktivitasnya. Hasil tangkapan ikan melimpah ruang bersamaan dengan pengembangan usaha yang melibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) (Masyuri, Iptek dan Dinamika Ekonomi Nelayan dalam bunga rampai buku Kembara Bahari; Esai Kehormatan 80 Tahun Adrian B Lapian : 67-68).

Universitas Nandes dan IPB mengamati laju perkembangan sektor perikanan ini dan membuat peta geografis perikanan Indonesia yang menyajikan gambaran keanekaragaman hasil tangkapan, armada kapal, metode penangkapan dan berbagai hal seputar manajemen pengelolahan. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kawasan pantai utara Jawa adalah pusat aktivitas perikanan tangkap maupun budidaya perikanan (Natalie Fau, Penyatuan Rumit Negara Kepulauan dengan Wilayah Perairannya dalam bunga rampai buku Revolusi Tak Kunjung Selesai; Potret Indonesia Masa Kini: 20).

Baca juga : Manjalani Kehidupan Sekolah di Tiga Zaman

Proses menuju puncak keemasan perikanan tangkap dan budidaya perikanan mengalami kemajuan pesat setelah pemerintah Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden RI No.215 tahun 1964 tentang pembentukan Departemen Perikanan Darat-Laut. Lembaga tersebut membina dan mensosialisasikan kepada para nelayan dan petani tambak terkait cara meningkatkan hasil tangkapan ikan dan hasil budidaya ikan. Selain itu, berdasarkan SK. MENTAN No.01/Kpts/Um/75 dan SK MENTAN No.607/Kpts/Um/9/76, lembaga tersebut juga bertanggung jawab membimbing para nelayan untuk tidak merusak dan mengeksploitasi sumber kekayaan laut Indonesia (Adnan Prayuwono, Kehidupan Nelayan di Surabaya Tahun 1945-1980 dalam bunga rampai buku Merentang Perubahan Menafsirkan Peristiwa: 233-234).

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here