Pelindo tetap bersikukuh melanjutkan reklamasi Teluk Lamong meskipun berulangkali menuai protes. Masyarakat kampung nelayan yang geram hanya bisa mengeluh dan menyaksikan ladang rezekinya tergusur secara bertahap. Reklamasi Teluk Lamong menutup akses tercepat menuju laut, sehingga memaksa nelayan dari kampung Greges berputar cukup jauh.

Ongkos perjalanan membengkak, namun tidak diberangi dengan peningkatan hasil tangkapan ikan. Bahkan justru sebaliknya, hasil tangkapan ikan semakin berkurang karena banyak ikan teracuni limbah dari PT. Pelindo. Selain itu, terumbu karang terancam musnah sebagai akibat proyek reklamasi Teluk Lamong.

Baca juga : Al-Jahiz, Praktik Homoseksual Dalam Islam

“Sekarang habis lautnya, lautnya direklamasi. Sepertinya sudah terdapat rencana perluasan reklamasi Teluk Lamong. Lalu kami makan apa?, sekarang sudah diukur dan dibatasi, besok pasti terimbas semua”, keluh Syafi’i, salah seorang nelayan dari kampung Greges Surabaya.

Kehidupan masyarakat dari kampung nelayan Greges tersuruk jauh dibelakang buruh-buruh pabrik. Tingkat kesejahteraan nelayan terjerembab bersama hasil tangkapan ikan yang merosot. Padahal sebelum puluhan hektar tambak berubah menjadi gudang, pabrik dan peti kemas yang tandus, masyarakat kampung nelayan dapat merayakan panen ikan setiap hari.

Baca juga : Kaum Homoseksual di Jantung Peradaban Islam

Perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat kampung nelayan Greges terjadi semenjak tahun 1980-an. Berbagai macam industri mulai menjamah kawasan Greges serta secara bertahap dan konsisten mengadakan perluasaan yang berujung menyudutkan masyarakat kampung nelayan Greges. Kondisi sosial-ekonomi masyarakat kampung nelayan Greges yang kian terseok-seok, beriringan dengan penyusutan jumlah tambak dan perpindahan profesi dari nelayan ke buruh pabrik (Manda Firmansyah, Eka Nurul Farida dan Muhammad Rohman Obet, Hidup di Tengah Perbatasan; Kampung Nelayan Greges dan Sosial Budaya Masyarakat di Kawasan Peri-Urban Surabaya : Penelitian Pemuda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga).

Menurut penelitian dari Universitas Nandes dan IPB, pusat perikanan tangkap dan perikanan budidaya berada di Surabaya dan daerah-daerah pesisir pantai utara Jawa. Informasi dari berbagai narasumber, yakni para nelayan kampung nelayan Greges selaras dengan hasil penelitian Universitas Nandes dan IPB. Perikanan tangkap dan perikanan budidaya pernah berjaya dengan panen melimpah, bahkan klaim nelayan kampung nelayan Greges dibenarkan oleh penelitian tersebut. Masyarakat kampung nelayan Greges dan kampung-kampung nelayan lainnya di Jawa Timur mengembangkan beragam jenis armada kapal, menggunakan berbagai cara menangkap ikan serta mengelolah dan menanganinya aneka hasil tangkapan dengan baik (Natahie Fau, Penyatuan Rumit Negara Kepulauan dengan Wilayah Perairannya dalam bunga rampai buku Revolusi Tak Kunjung Selesai; Potret Indonesia Masa Kini: 20).

Baca juga : Askari Bayt Al-Mugaddas : Mengungkap Rahasia Akademi Militer Turki Utsmani di Aceh

Produktivitas nelayan pantai pesisir utara Jawa Timur pada tahun 1970-an menyebabkan overfishing (kelebihan tangkapan) yang justru berdampak ganda, yakni harga ikan jatuh dan sumber daya perikanan terkikis sebelum regenerasi. Modernisasi sektor perikanan dan tuntutan ekspor adalah dua faktor utama pendorong laju ekploitasi sumber daya laut yang ekspolitatif ini. Oleh karena itu, secara bertahap pemerintah Indonesia mengeluarkan regulasi yang mengatur perikanan tangkap, terutama terkait jaring trauwl dan pukat harimau.

Modernisasi dan penggunaan jaring trauwl berhubungan erat dengan kondisi perikanan Indonesia pasca kemerdekaan. Setelah tersingkirnya Jepang dalam kancah perpolitikan Indonesia, negara baru ini mengalami berbagai kesulitan, termasuk persoalan perikanan, yang mana persediaan alat-alat berlayar untuk mencari ikan terpakai habis untuk peperangan. Hampir separuh perahu nelayan hilang bersama sejumlah jaring untuk menangkap ikan.

Baca juga : Rantai Pemberontakan di Nusantara : Jaringan Pemikiran Militer Turki

Pada 20 November 1946 diadakan Konferensi Perikanan yang menghidupkan kembali koperasi nelayan dengan mengirim permohonan bantuan sebesar Rp.3.000.000 untuk memperbaiki perahu dan alat-alat tangkap ikan. Di tahun-tahun selanjutnya, berbagai lembaga perikanan berduyun-duyung saling membantu dalam mengupayakan perkembangan perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Pada 1955, Yayasan Perikanaan Laut Surabaya merencanakan eksperimen cara baru penangkapan ikan, mengoptimalkan teknologi mesin untuk perahu nelayan, meupayakan adanya galangan kapal dan mengembangkan pengawetan ikan yang efisien dengan mengadakan berbagai penelitian (Adnan Prayuwono, Kehidupan Nelayan di Surabaya Tahun 1945-1980 dalam bunga rampai buku Merentang Perubahan Menafsirkan Peristiwa: 229-232).

Pasang surut perekonomian yang dipengaruhi faktor modernisasi dan perpolitikan juga terjadi pada masa kolonial Belanda. Menjelang akhir abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20, sektor perikanan mengalami deindustrialisasi. Produktivitas merosot seiring menurunnya hasil tangkapan ikan, terutama terkait indikasi penggunakan teknologi yang lebih sederhana, atau kita mengenal istilah peyoratifnya sebagai tradisional. Penangkapan ikan beralih dari lepas pantai ke dekat pantai disertai mengendurnya minat masyarakat kolonial dalam mengembangkan sektor perikanan (Masyuri, Iptek dan Dinamika Ekonomi Nelayan dalam bunga rampai buku Kembara Bahari; Esai Kehormatan 80 Tahun Adrian B Lapian : 62-63).

“Apabila pada 1860-an industri pengasinan ikan dapat ditemukan hampir di semua daerah di sepanjang pantai utara Jawa dan Madura misalnya, pada 1900-an industry pengasinan ikan tersebut menjadi hal yang langka. Bahkan pada 1925, di pantai utara Jawa hanya terdapat 9 industri rumah tangga pengasinan ikan”, tulis Masyuri yang mengambil sumber buku Het Chieneesche Zakenleven in Nederlandsch-Indie karya Vlemming.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here