Kasus begal sadis di Tangerang seakan ditakdirkan abadi. Beberapa bulan yang lalu, polisi setempat berhasil melumpuhkan begal jaringan Cikampek yang terkenal sangat kejam dan sadis. Aksi komplotan begal yang melukai korban sampai cacat bahkan meninggal dunia menyebabkan kota Tangerang lekat dengan citra buruk.

Kasus begal jaringan Cikampek menambah rentetan panjang episode sejarah perbanditan di kawasan pinggiran Jakarta. Selain jaringan Cikampek yang pelakunya masih berusia masih relatif muda, terdapat pula komplotan begal lainnya, seperti jaringan Geng Amsterdam yang mengincar wanita sebagai korban. Namun, aksi-aksi perbanditan perkotaan yang lebih akrab disebut pembegalan ini tidak akan mereda sebelum pemerintah dapat mengatasi arus gelombang urbanisasi ke ibukota Jakarta.

Baca juga : Tetrarki : Kompetisi Perebutan Singgasana Romawi

Kawasan Jabodetabek (akronim dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) merupakan daerah pinggiran ibukota Jakarta yang menampung arus gelombang urbanisasi sejak permulaan abad ke-20. Atas arahan konsultan-konsultan Belanda, pada 1960-an, Presiden Soeharto mengawal pemerintah kota dalam upaya menata dan mengembangkan pemukiman urban untuk menunjang proyek kawasan industri. Poros Timur-Barat, Bekasi-Tangerang, diharapkan mampu menyangga perkembangan ibukota Jakarta sekaligus berfungsi selayaknya zona resapan air. Akan tetapi, pemerintah kota Tangerang gagal membendung upaya privatisasi lahan oleh pihak swasta sehingga kerapkali tidak mampu menerima banjir kiriman dari ibukota Jakarta sebagaimana fungsi semestinya (Jarome Tadie, Upaya Mengendalikan Jakarta: 87).

Selain pihak swasta, privatisasi ruang-ruang publik di Tangerang secara ilegal oleh masyarakat urban. Hal ini memicu permasalahan sosial lainnya, yakni kriminalitas yang acapkali melibatkan kekerasan. Sepanjang sejarah Tangerang, privatisasi ruang-ruang kota senantiasa menimbulkan konflik yang berujung kerusuhan. Pemerintah dari berbagai zaman mengkategorikan fenomena kerusuhan itu sebagai aksi kriminalitas yang melibatkan kekerasan, meskipun beraneka motif bermuara pada masalah privatisasi ruang-ruang kota.

Baca juga : Mencari Indonesia :Demografi-Politik Pasca Soeharto

Masyarakat lokal sudah tidak berdaya. Tanah-tanah leluhurnya banyak yang diambil alih pihak swasta. Oleh karena itu, aksi-aksi protes sosial mencuat. Persoalan agraria (pertanahan) ini mendorong beragam aksi perbanditan privatisasi ruang-ruang kota oleh pihak swasta.

Perubahan signifikan dari masyarakat agraris ke masyarakat perkotaan yang bertubrukan dengan pengembangan kawasan industri menebar berbagai problematika sosial. Berbagai kasus begal yang tergolong perbanditan itu menandai adanya ketimpangan ekonomi. Akibatnya kesenjangan sosial semakin lebar dan sejarah Tangerang pun terulang kembali.

VOC mewariskan masalah agraria yang pelik di Tangerang. Semenjak Kompeni menyewakan tanah partikelir di daerah Tangerang kepada orang-orang Cina, tanah partikelir dikelolah tidak sesuai perjanjian. Pertama, orang-orang Cina menganggap leluhurnya membeli tanah partikelir tersebut dan mewariskannya kepada keturunannya. Kedua, tiada pertanggung jawaban dari pihak pemerintah kolonial Belanda, bahkan cenderung lepas tangan dan menolak membayar ganti rugi.

Pada 1924, masalah agraria meledak dan berujung kerusuhan. Kaiin Bapa Kayah dari desa Pangkalan mengobarkan gagasan pembebasan tanah di Tangerang yang sebagian sudah berada dalam genggaman orang Cina. Privatisasi lahan pertanian oleh orang-orang Cina dapat memutar balikkan keadaan. Orang-orang lokal yang tidak memiliki lahan terpaksa bekerja untuk tuan tanah (Orang-orang Cina).

Baca juga : Tahta dan Tragedi : Kisah Suram Leluhur Muslim Rohingya di Tanah Rakhine

“Kehidupan petani di tanah partikelir sangat tergantung dari tuan tanah. Cuke, kompenian dan denda sangat memberatkan petani dan mereka merasa tidak tahan terhadap situasi yang semakin buruk. Petani yang kekurangan terpaksa meminta pinjaman pada tuan tanah dengan mengembalikan pada waktu panen yang dibayar jauh lebih banyak”, tulis Suhartono.

Kaiin Bapa Kayah yang bekerja sebagai buruh tani rendahan (pernah bujang sawah dan petani bagi hasil) tersuruk hingga hanya mampu membangun rumah di pekarangan kakak perempuannya. Berlandaskan nasibnya yang terseok-seok, Kaiin Bapa Kayah menghimpun pengikut dan membekali mereka dengan ilmu sakti dan kebal. Akan tetapi, kerusuhan kandas setelah bentrok dengan polisi setempat. Pertikaian itu menewaskan sembilan belas orang dan melukai dua puluh satu pengikut Kaiin Bapa Kayah (Suhartono W. Pranoto, Jawa ; Bandit-Bandit Pedesaan; Studi Historis 1850-1942 : 155-156).

Baca juga : Titik Balik Peradaban Romawi Timur

Meskipun Kaiin Bapa Kayah dan pengikutnya berhasil ditumpas, kerusuhan di Tangerang belumlah tuntas. Kerusuhan-kerusuhan lain kembali mencuat, menelurkan aksi kriminalitas dan tindakan kekerasan dengan bentuk berbeda tetapi bermotif serupa. Pasca kemerdekaan, anggota laskar para militer yang tidak terserap dalam kesatuan Tentara Nasional Indonesia terlunta-lunta. Veteran laskar para militer yang berjasa dalam perang Revolusi Fisik berjuang menghadapi kenyataan kehidupan setelah perang. Keahlian militer mereka tidak berguna untuk menyambung hidup di perkotaan yang juga sedang diterpa badai krisis multidimensional. Akhirnya, veteran laskar para militer ini membentuk semacam komplotan bersenjata yang menyasar rumah-rumah warga.

Komplotan Bulloh yang menebar teror di Tengerang pada 1950-an menyajikan kekejian yang tak kalah biadab dari jaringan begal Cikampek maupun Geng Amsterdam. Komplotan Bulloh yang bengis ini menggunakan senjata api dan golok dalam melancarkan aksinya. Akibatnya, Tangerang kembali berada dalam zona merah perbanditan.

Baca juga : Peristiwa Perang Bubat : Antara Fakta dan Fiksi

Pada 28 November 1952, komplotan Bulloh menggorok leher Ditung Danang hingga hampir putus. Komplotan Bullon ini menggondol barang-barang yang ditaksir seharga 250 rupiah. Masyarakat yang resah dan gelisah mendorong kepolisian setempat bertindak tegas. Pada 31 Desember 1953, polisi setempat berhasil melumpuhkan komplotan Bulloh setelah adu senjata api yang berlangsung di daerah Pasar Minggu, menyusul kemudian penangkapan lurah-lurah yang bersekongkol dengannya (M. Fauzi, Kriminalitas dan Kekerasan di Jakarta pada 1950-1960-an).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here