Perang Bubat menimbulkan polemik identitas yang masih berlanjut hingga sekarang. Luka harga diri masyarakat Sunda karena peristiwa Bubat terwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang kental. Masyarakat Sunda yang menjadi korban pengkhianatan Majapahit menjawantahkan kebenciannya terhadap orang Jawa melalui pembentukan ulang identitasnya untuk menciptakan komunitas yang berbeda.

Alhasil meskipun secara administratif masyarakat Sunda menghuni pulau Jawa, tapi berbagai perangkat kebudayaan mereka menunjukkan perbedaan sehingga dapat dikategorikan sebagai etnis tersediri. Raffles dalam History of Java sangat yakin bahwa Jawa perlu dibedakan dengan Sunda. Secara karakter, budaya dan bahasa, masyarakat Sunda berbeda dengan masyarakat Jawa (Sir Thomas Raffles, History of Java Jilid II: 4).

Akan tetapi, historisitas Perang Bubat masih dipertanyakan, apakah benar terjadi?. Sekian banyak bukti artefak arkeologi, floklor lisan ataupun kronik sejarah, beberapa ilmuwan masih mempertanyakannya dengan argumen yang tidak jelas. Tentu aneh, mengingat sumber sejarah dapat diperoleh dari berbagai bentuk yang semuanya saling mendukung.

Baca juga : Kristen Londo Tanpa Kursi : Johannes Emde dan Kristenisasi Kebarat-baratan di Kota Pahlawan

Oleh karena itu, penulis berupaya membuktikan historisitas Perang Bubat dengan mengikut sertakan sumber sejarah, bukti arkeologis maupun floklor lisan yang termanifestasi dalam memori kolektif masyarakat. Setelah Perang Bubat, Sunda berada dalam kekuasaan Majapahit. Namun, masyarakat Sunda masih berjuang melawan pengaruh dominasi Majapahit melalui perlawanan budaya. Salah satunya suatu mitos populer dari Sunda yang terwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Para tetua selalu mewanti-wanti agar sebisa mungkin wanita Sunda tidak menikahi pria Jawa (Mikihiro Moriyama, Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak dan Kesusasteraan Sunda Abad ke-19: 73).

Terciptanya mitos bersumber dari cerita Perang Bubat yang berbumbu unsur asmara – kekuasaan. Menurut narasi umum, Dyah Pitaloka, putri kerajaan Sunda berencana dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Namun, Dyah Pitaloka harus menemui ajal sehingga pesta perayaan yang sewajarnya bahagia justru sebaliknya bernuansa duka, luka dan darah.

Istilah “Perang Bubat” yang tertulis dalam kitab Pararaton yang terbit setelah era patih sebenarnya hanya upaya menutup-nutupi siasat licik untuk menjaga nama kebesaran Majapahit. Oleh karena itu, Pararaton lebih menitikberatkan kisah roman yang mengeksplorasi perihal masalah asmara serta mengesampingkan muatan politis. Kitab Pararaton dibuat untuk tujuan legitimasi kekuasaan (baca artikel sebelumnya, Gadjah Mada, Pengecut Paling Dipuja).

Walaupun berdasarkan kisah nyata, tentu setiap kata mengandung kuasa politis dan kontrol sosial dengan target berskala mikro hingga makro, dalam artian lain meliputi kalangan bangsawan sampai masyarakat akar rumput. Dengan memanfaatkan tradisi lisan yang kental, kisah Perang Bubat tertambat dalam memori kolektif masyarakat yang nantinya terwariskan secara turun temurun. Selain itu, tiada informasi sumber sejarah yang objektif. Subjetivitas setiap sumber sejarah ditinjau dari latar belakang pencatat kronik ataupun tempat asal ditemukan.

Bertolak belakang dengan kitab Pararaton, kidung Sunda justru menyuguhkan informasi yang mengcounter dominasi pengaruh Majapahit. Oleh karena itu, kritik sumber wajib untuk membedah fakta historis yang objektif. Persoalan lain ialah distorsi fakta historis.

Sebagaimana, kita ketahui Masyarakat Indonesia masih sangat kental dengan tradisi lisan. Validasi sumber lisan yang berasal dari generasi berbeda sangat diragukan. Terlebih lagi peristiwa historisnya telah terjadi berabad-abad yang lampau. Sumber lisan bersifat berubah-ubah tergantung penuturnya sehingga memicu keanekaragaman versi narasi cerita. Terjadi penambahan dan pengurangan dalam floklor lisan Perang Bubat.

Baca juga : Si Penjilat Sosok Lain Ibnu Khaldun

Akibatnya, keterangan floklor lisan dapat digunakan apabila sumber lain mendukungnya. Adapun faktor psikologis yang tentunya mempengaruhi proses transmisi cerita dari penutur ke penerima cerita.  Dalam narasi cerita perang bubat, muatan emosi cukup banyak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sudah berlangsung lama dari generasi ke generasi dan berulangkali terjadi penambahan dan pengurangan cerita.

Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur asmara dalam berbagai sumber sejarah hanya bumbu penyedap untuk keberlangsungan legitimasi kekuasaan. Dibalik itu, fakta sejarah Perang Bubat sesungguhnya bermotif politik dan kekuasaan belaka (Agus Aris Munandar, Gajah Mada: Biografi Politik: 81-82).

            Seorang Arkeolog dari Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, dalam buku berjudul Gajah Mada: Biografi Politik menganggap bahwa Perang Bubat merupakan peristiwa historis dengan berbagai sumber sejarah yang meliputi bukti arkeologis, floklor lisan sampai kronik sejarah. Agus Aris Munandar dengan tegas mempercayai peristiwa Perang Bubat yang pemaparannya ia uraiakan dalam BAB 8 – Pasundan-Bubat: Gadha Penghancur Kejayaan.

“Jika kisah Ken Arok yang penuh mistis malah dipercayai, sedangkan Pasundan-Bubat tidak dipercayai, maka ini tentu sangat mengherankan”, tulis Agus Aris Munandar.

Apakah peristiwa Perang Bubat ini benar terjadi masih diperdebatkan oleh para arkeolog dan ahli sejarah kuno. Para ahli sejarah kuno dan arkeolog yang meragukan peristiwa Pasundan-Bubat berpendapat bahwa itu hanya sekedar sisipan dari penyalinan Pararaton, atau malah tambahan peneliti Belanda pertama yang menerjemahkan Pararaton serta berbagai alasan lainnya.

Bagi para ahli sejarah kuno dan arkeolog yang meragukan peristiwa Bubat perlu dipertanyakan apakah mereka benar sudah menelusuri sumber sejarah selain dari Pararaton?, lalu apa bukti otentik jika kisah Perang Bubat tidak pernah terjadi?. Jika peristiwa Perang Bubat hanya sekedar sisipan penyalinan Pararaton mengapa kisahnya masih tertambat dalam memori kolektif masyarakat hingga kini?.

Yang membingungkan ialah tuduhan campur tangan Belanda. Apa tujuan orang Belanda memanipulasi kisah Perang Bubat? Jika bertujuan untuk mengadu-domba orang Jawa dan orang Sunda mungkin dapat dibenarkan mengingat terjadi pada zaman VOC (tambahan penyalinan kekawin tersebut pada bulan Kartika atau Oktober-November tahun Saka 1662 atau Masehi 1740).  Jadi menurut anda apakah peristiwa Perang Bubat adalah fakta historis atau fiksi sejarah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here