Aku masih ingat, kisah masa kanak-kanakku yang kini aku anggap tragis. Tayangan televisi pernah mencuci pikiran polosku hingga membuatku tertawa terpingkal-pingkal mengingatnya. Ketika aku berumur kira-kira tujuh tahun, aku pernah menonton berita yang menceritakan seorang pelaut yang telah bergonta-ganti istri sebanyak 93 kali. Aku masih ingat betul (karena berkesan bagi bocah ingusan sepertiku, hehehe…), ia kecewa karena misinya untuk mengawini seratus wanita kandas disebabkan faktor usia. Akhirnya, ia berhenti menikah lagi lalu menjalani masa tuanya dengan istri ke-28 dan ke-53 nya (Maaf jika salah, ingatanku agak kabur). Saat itu (dulu, bukan sekarang!), aku menganggap hal itu sebagai prestasi gemilang yang patut dicontoh. Alhasil, semenjak itu, aku mendeklarasikan cita-citaku sebagai seorang pelaut. Sungguh miris!

Baca juga : Sejarah Raja Rempah-Rempah

Berbagai buku sejarah maritim mengulas topik seksualitas sebagai sempalan saja. Yang paling mencolok pun hanyalah penafsiran dari perkawinan sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam di Nusantara, tanpa mempertimbangkan pengetahuan tentang seluk-beluk kehidupan pelaut (baik saudagar maupun tentara) yang harus berlayar mengarungi lautan sembari menahan hasrat seksualnya.

Baca juga : Batavia de Moordkuil (Rumah Sakit Lubang Kubur)

Seorang veteran serdadu Belanda yang pernah dikirim ke Hindia Belanda dalam misi perang dekolonisasi (Revolusi Fisik; Agresi Militer Belanda 1945-1950) menulis anekdot umum dari marinir tua dalam memoarnya, bagi pikbroeken (pelaut-pelaut muda) yang belum terbiasa dengan suasana penuh ketegangan, tiada obat yang lebih mujarab selain sekali-sekali melampiaskannya pada kemaluan perempuan! (Gert Oostindie, Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950; Kesaksian Perang Pada Sisi Sejarah yang Salah : 260).

Baca juga : Krisis Bawang Putih

Perang dekolonisasi sangat mendebarkan karena tentara Indonesia menggunakan strategi gerilya dan serdadu Belanda meresponnya dengan taktik kontra-gerilya. Sang pencatat memoar masih remaja (tanpa pengalaman medan tempur ataupun dibekali pelatihan militer yang memadai) ketika ditugaskan dalam aksi polisional yang literatur sejarah Indonesia sebut sebagai agresi militer Belanda. Oleh karena itu, ia berupaya menggambarkan keadaan psikologisnya, situasi tidak menentu dan kondisi berbahaya melalui analogi anekdot umum dari marinir tua tadi.

Baca juga : Badut Belanda

Seorang pelaut, baik penjelajah, saudagar maupun tentara pasti berkecimpung dengan persoalan hasrat seksual. Solusi umumnya adalah perkawinan dengan penduduk lokal atau menyewa jasa pelacuran. Bagi pihak militer Angkatan Laut Belanda, solusi kedua dinilai lebih efektif dan efisien sehingga praktik pelacuran tumbuh subur di daerah sekitar pelabuhan. Bahkan, pada pertengahan abad ke-19, praktik pelacuran mendapat izin beroperasi di atas kapal Angkatan Laut agar para marinir tidak berkeliaran di tengah kota. Para pelacur bersiap menjemput pelanggannya dengan menaiki perahu-perahu kecil yang parkir di tepi pelabuhan. Mereka menunggu kedatangan kapal dagang maupun kapal Angkatan Laut dan akan menyerbu ketika jangkar kapal dilepaskan (John Ingelson, Perkotaan, Masalah Sosial & Perburuhan di Jawa Masa Kolonial : 216-221).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here