Tome Pires dalam Suma Oriental mengabarkan adanya industri galangan kapal di Jawa, Malaka dan Pegu. Galangan kapal Jawa hanya memproduksi kapal berukuran besar, sementara di Malaka cuma kapal berukuran kecil dan di Pegu memproduksi kapal berukuran besar dan kecil. Lokasi galangan di Jawa dipertegas dengan penuturan pelaut Belanda. Letak galangan kapal itu berada di antara pelabuhan Tuban, pelabuhan Jepara dan hutan jati Rembang. Pembangunan galangan kapal di Lasem merupakan keputusan yang tepat, lokasi sangat strategis dalam menunjang bahan baku dan area pemasaran.

Baca juga : Konspirasi Global: Perang Jawa dan Aliansi Anti-Kafir

Dalam prasasti Kamalagyan menceritakan bahwa Surabaya telah menjadi pusat perniagaan antar pulau. Surabaya sudah menajdi kota dagang makmur yang dikunjungi banyak perahu-perahu dan kapal-kapal yang mengambil barang dagangan ke hulu sungai. Semenjak Malaka muncul sebagai pusat lalu lintas perdagangan dunia, konsekuensi mutlaknya Surabaya mampu menggeser kedudukan Tuban sebagai pelabuhan internasional. Surabaya menghimpun rempah-rempah dari kepulauan Timur dan beras dari Jawa untuk didistribusikan langsung ke Malaka.

Baca juga : Larangan Jilbab Masa Orde Baru

Kerajaan Mataram di Jawa Tengah mengadakan serangkaian penaklukan di daerah pesisir Jawa Timur. Gresik jatuh tahun 1619, Demak menyusul setahun berikutnya, Madura di tahun 1624 dan setahun kemudian giliran Surabaya. Guncangan stabilitas politik akibat peperangan berdampak mundurnya aktivitas ekonomi. Saudagar-saudagar kaya banyak yang mengungsi ke Makasar atau Banjarmasin. Setelah peperangan usai, Surabaya sekejab menjadi kota pelabuhan yang ramai lagi. Namun, seringkali terjadi pemberontakan-pemberontakan sebagai sebab-akibat dari wilayah pesisir yang jauh dari pusat kekuasaan.

Baca juga : Pribumi, Biang Keladi Wabah Epidemi

Pelabuhan tradisional Kali Mas dan pelabuhan Tanjung Perak merupakan dua pelabuhan bersejarah di kota Surabaya. Pelabuhan tradisional Kali Mas ialah pelabuhan tua yang ramai pengunjung. Sejak era Kerajaan Majapahit, pelabuhan tradisional Kali Mas menjadi kantong-kantong penghasilan. Para pedagang-pedagang asing dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong memadati pelabuhan ini untuk sekedar tawar-menawar dan melakukan aktivitas jual-beli. Pelabuhan tradisional Kali Mas pada mulanya hanya sebuah tempat kurang penting yang berada di tepi muara sungai kecil. Pada abad ke-14, tempat kurang penting yang terletak di pesisir Utara Pulau Jawa ini menjelma menjadi pelabuhan internasional dibawah pemerintahan Hayam Wuruk.

Baca juga : Sebab Kepunahan Harimau Jawa

Pada abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mengangkat pelabuhan tradisional Kali Mas sebagai pelabuhan utama di Jawa Timur. Pelabuhan tradisional Kali Mas rangkaian terakhir pengumpulan hasil produksi perkebunan di daerah pedalaman Jawa Timur. Kali Mas sebagai satu cabang dari sungai Brantas memberikan sumbangan penting bagi lalu lintas menuju jantung kota Metropolitan, Surabaya. Masa tanam paksa, aktivitas ekspor-impor benar-benar di genjot. Pelabuhan tradisional Kali Mas semakin sibuk, kemajuan produksi cashcrop dan dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869 mengakibatkan peningkatan signifikan. Seiring berjalannya waktu, muncul masalah-masalah yang semakin mustahil untuk di atasi. Pelabuhan tradisional Kali Mas dianggap tidak lagi mamadai untuk menampung kunjungan kapal-kapal yang membludak dan  aktivitas bongkar-muat barang yang intensif.

Secara wajar, daya tampung pelabuhan tradisional Kali Mas tidak mampu mencukupi kebutuhan yang semakin bertambah sehingga fasilitas-fasilitas pelabuhan banyak yang tidak bekerja maksimal. Pelabuhan tradisional Kali Mas tidak mempunyai luas yang cukup dan keterbatasan ruang menghambat kinerjanya sebagai pelabuhan yang sibuk serta dituntut serba cepat. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda berinisiatif membangun pelabuhan baru di Surabaya untuk menggantikan pelabuhan tradisional Kali Mas yang sudah tidak layak lagi menjadi pelabuhan utama.

Faktor lain semacam perkembangan jaringan transportasi menyebabkan bentuk dan struktur kota menajdi semakin seperti pita yang membentang dari utara ke selatan. Jaringan transportasi ini justru lebih mendukung adanya pelabuhan baru ketimbang mempertahankan pelabuhan tradisional Kali Mas. Pada tahun 1907 Raad van Justitie mengusulkan kepada Gubernur Jenderal untuk memabangun pelabuhan baru yang kelak bernama Pelabuhan Tanjung Perak.

Pelabuhan Tanjung Perak berbeda dengan pelabuhan tradisional Kali Mas. Pelabuhan tradisional Kali Mas dibentuk berdasarkan kebutuhan dan kepentingan yang kerajaan Majapahit, pastinya kebutuhan dan kepentingannya telah jauh berubah dengan situasi dan kondisi pada masa tanam paksa. Pelabuhan Tanjung Perak dibangun sebagai respon tuntutan zaman alias kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Desain Pelabuhan Tanjung Perak dibuat berstandar internasional dan memperhatikan manfaat jangka panjang. Pelabuhan Tanjung Perak mempunyai basin atau model kolam seperti mangkok yang berguna untuk menampung kapal-kapal terbaru. Dermaganya ditambah fasilitas-fasilitas penunjang seperti gudang yang langsung menghubungkan dengan rel kereta ap. Adapun perbaikan jalan umum, transportasi perahu, jaminan keamanana dan dilengkapi perumahan higienis bagi pegawai pelabuhan.

Pelabuhan Tanjung Perak meningkatkan kinerja produktivitas untuk menunjang semakin sibuknya aktivitas bongkar muat barang.  Pelabuhan Tanjung Perak berniat meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan memompa produktivitas. Sebagai kota perdagangan makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, Surabaya membutuhkan pelabuhan yang bisa mengatasi kepadatan lalu lintas pelayaran. Pelabuhan Tanjung Perak adalah solusinya, pada tahun 1910, kolam-kolam ikan ditimbun tanah dan membangun jalan kembar dengan lebar 48.00 meter untuk menghubungkan pusat kota ke pelabuhan yang terletak kurang lebih 4-5 km. Sepanjang kanan-kiri jalan tersebut dibangun tram listrik.

 

Daftar Pustaka :

Buku

Nasruddin Anshoriy dan Dri Arbaningsih. 2008. Negara Maritim Nusantara; Jejak Sejarah yang Terhapus. Sleman : Tiara Wacana.

M.C Ricklefs. 2002. Yogyakarta di bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792; Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta : Mata Bangsa.

Nasution. 2006. Ekonomi Surabaya pada masa kolonial (1830-1930). Surabaya: Penerbit Pustaka Intelektual.

Nugroho, Irawan Djoko.2011. Majapahit; Peradaban Maritim; ketika Nusantara menjadi pengendali pelabuhan dunia. Jakarta: Yayasan  Suluh Nusawatara Bakti.

Pires, Tome. 1944. Suma Oriental, edited and translate by Armando Cortesso. London: Hakluyt Society.

Journal

Handinoto dan Samuel Hartono, Juli 2007, “Surabaya Kota Pelabuhan (Surabaya Port City) Studi tentang perkembangan bentuk dan struktur sebuah kota pelabuhan ditinjau dari perkembangan transportasi akibat situasi politik dan ekonomi dari abad 13 sampai awal abad 21” Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 35, No. 1: 88 –

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here