Perkuliahan sejarah maritim sangat menarik. Adrian Perkasa, dosen muda Ilmu Sejarah Universitas Airlangga mengupas buku Summa Oriental karya Tome Pires yang ia terjemahkan dalam bahasa Indonesia bersama Anggita Pramesti. Pada 1550, Ramusio melanggar hak karya cipta Tome Pires dengan menerbitkan sebagian isi Summa Oriental tanpa nama penulis. Mencetak karya tanpa penulis pada abad ke-16 di Semenanjung Iberia dan Italia lazim terjadi, entah karena tidak diketahui pengarangnya ataupun alasan lainnya.

Baca juga : Si Penjilat, Sosok Lain Ibnu Khaldun

Manuskrip utuh Summa Oriental karya Tome Pires telah menghilang dan ternyata terkubur di tempat yang terbengkalai hingga sekarang. Menurut Adrian Perkasa, Manuskrip utuh Summa Oriental tidak ditemukan di perpustakaan, kantor kearsipan atau kantor-kantor penyedia layanan penyimpanan arsip lainnya, melainkan terseok-seok dalam timbunan berkas-berkas Departemen Pertahanan Portugal.

Penemuan manuskrip utuh Summa Oriental dalam timbunan berkas-berkas Departemen Pertahanan Portugal yang sangat jarang terjamah tangan-tangan sejarawan mencerminkan urgensi dari karya Tome Pires ini. Summa Oriental bukan sekadar laporan perjalanan. Karya Tome Pires ini merupakan laporan investigasi yang memetakan kekuatan militer, menyelidiki kapasitas pertahanan, menggambarkan intrik politik, mereview lokasi strategis, mendeskripsikan watak penduduk setempat dan menyajikan data komoditas lokal.

Baca juga : Lubang Hama dan Rumah Maut : Meneropong Sejarah Kelam Jakarta Melalui Puisi

Surat-surat Tome Pires, terutama yang ditujukan kepada Alfonso de Albuquerque (Malaka, 10 Januari 1513) dan Raja Portugal, John II (Cochin, 27 Januari 1516) menunjukkan adanya muatan politis dalam kegiatan penjelajahannya. Selain penemuan manuskrip Summa Oriental di Departemen Pertahanan Portugal dan surat-suratnya kepada pangeran dan raja Portugal, tujuan politis Tome Pires tercermin dari perintah menjadi duta besar Portugal untuk Dinasti Ming (China), padahal ia seorang ahli obat-obatan herbal.

 

Portugis dan Ekonomi Eropa Abad ke-16

            Sepertihalnya Laut Jawa, letak strategis dan kondisi geografis Laut Mediterania merangsang peradaban maritim yang berlansung sejak zaman Yunani Kuno. Aktivitas perniagaan memutar roda perekonomian dan mendorong perkembangan kota yang tak jarang menjelma menjadi kekaisaran agung seperti Romawi, Karthago, Byzantium, bahkan Ottoman. Laut Mediterania adalah pasar global, tempat bertemunya berbagai komoditas dari segala penjuru dunia.

Akan tetapi, komoditas sutra dari Cina dan rempah-rempah dari kepulauan Nusantara yang hendak menuju ke dataran Eropa terakomodir dalam gilda-gilda (organisasi dagang) yang beroperasi di kota-kota pelabuhan Italia. Gilda-gilda ini memonopoli komoditas sutra dan rempah-rempah yang akan dipasarkan ke dataran Eropa. Akibatnya, harga sutra dan rempah-rempah melambung, sehingga Portugis berupaya merebut dominasi perekonomian oleh gilda-gilda tersebut dengan memindahkan pasar Eropa ke Lisbon.

Sepanjang abad ke-15 dan 16, kota Flanders, Tuscany, Lucca, Venice, Florence dan Genoa memonopoli perniagaan sutra, aneka wol, berbagai jenis gandum, garam, kayu, besi, timah, arang, tembaga, kulit, lilin, bulu, jelai, minyak, wine, rempah-rempah, beras, buah ara kering, pewarna, tawas dan tekstil (Paolo Massa, The Economy in the Fifteenth Century : Preconditions for European Expansion dalam buku An Economic History of Europe From Expansion to Development :3). Portugis berupaya menikung perekonomian sekitar Laut Mediterania yang merupakan titik temu jalur sutra dan jalur rempah menuju dataran Eropa dengan menciptakan jalur baru. Portugis mengancam kepentingan banyak pihak, sehingga menabuh genderang perang dari perairan Laut Merah hingga Samudera Hindia (baca juga: Mematahkan Dominasi Portugis di Samudera Hindia: Persekutuan Aceh dan Ottoman). Portugis dapat mengukuhkan dominasinya atas Samudera Hindia dan membangun beberapa pangkalan armada laut yang dilengkapi dengan benteng kokoh serta kantor dagang (Giancarlo Casale, The Ottoman Age of Exploration: 49 & 108-111).

Baca juga : Titik Balik Peradaban Romawi Timur

Karena dominasi Portugis di Samudera Hindia tidak dapat dipatahkan, maka harga-harga komoditas dari gilda-gilda semakin melonjak, sementara di pasar Lisbon justru sebaliknya. Pasar Laut Mediterania mengalami kelangkaan disebabkan banyak kapal-kapal pengangkut komoditas yang dikaramkan oleh armada laut Portugis. Selain kelangkaan, perpindahan dari tangan tengkulak ke tengkulak lainnya secara otomatis menaikkan harga jual, di sisi lain di pasar Lisbon tidak terdapat perpanjangan tangan. Kapal-kapal Portugis mengirim kapal-kapal penuh komoditas ekspor dari kepulauan Nusantara ke pasar Lisbon tanpa perantara pihak manapun. Akhirnya, saudagar-saudagar Eropa berpindah haluan ke pasar Lisbon yang menjual berbagai komoditas dengan harga jauh lebih murah.

 

Misi Pengelana Portugis

            Pengelana Portugis bukanlah sekedar menjelajahi. Mereka dipekerjakan oleh kerajaan Portugal yang bersekutu dengan Gereja Katolik Roma untuk memetakan dan menggali informasi mengenai tempat-tempat yang dikunjungi. Para pengelana Portugis menggambarkan peta rute perjalanan dan menyajikan informasi terperinci yang mampu mendukung terwujudnya semboyan Gold, Gospel dan Glory. Alhasil, para pengelana Portugis senantiasa menaruh perhatian dalam mendeskripsikan agama, terkait misi kristenisasi yang disokong Gereja Katolik Roma. Kedua, mendeskripsikan kekuataan militer yang juga mencakup benteng pertahanan, situasi politik, tentara, artileri dan lain sebagainya. Ketiga, mendeskripsikan sumber daya yang berpotensi menjadi komoditas ekspor.

Baca juga : Bulgarian Horror, Episode Kelabu Sejarah Balkan

Tome Pires, Francisco Rodrigues, Fenao Mendez Pinto dan Francisco Serrao merupakan para pengelana Portugis yang memetakan kepulauan Nusantara. Francisco Serrao yang mendarat di Ternate pada 1512 di pulau Banda, menjalin kerjasama ekonomi dengan kerajaan Ternate. Ia mendapat persetujuan dari Sultan Ternate dan Gubenur Portugis di Goa untuk mendirikan kantor dagang beserta benteng dan pangkalan armada lautnya. Francisco Serrao juga mengirim surat ke Ferdinand Magellan yang berisi peta rute perjalanan menuju kepulauan Maluku (M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah ; Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950 : 68-70).

Portugis membangun imperial maritim yang wilayah kekuasaannya tersebar di seluruh belahan dunia. Disokong dengan jejaring informasi dan armada laut yang kuat, Portugis mampu menjaga superioritasnya selama kurun abad ke-16. Berkat jaringan mata-mata, adopsi teknologi warisan kejayaan Andalusia dan kegigihan dalam mengarungi samudera, bangsa Portugis dapat mengalahkan musuh-musuhnya dalam pertempuran laut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here