Sepulang dari Surabaya, aku menenggak air putih dengan keringat yang masih bercucuran dan membasahi kaosku. Mengayuh sepada dari Surabaya ke Sidoarjo cukup melelahkan sehingga aku beristirahat sebentar di ruang tamu sebelum ke kamar untuk melanjutkan aktivitas menulisku. Di ruang tamu, aku mengajak buyutku (ibu dari nenekku) berbincang tentang sejarah kampungku selagi nenekku memasak di dapur.

Baca juga : Anak Bangsa, Rasa Anak Tiri

Ketika aku melontar pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui sejarah kampungku secara umum, aku terkejut, buyutku tidak menjawabnya sebagaimana orang awam lainnya. Kesan pertamanya adalah tentang wanita yang ditinggal Londo (Belanda). Kampungku, Celep Selatan, pernah dikuasai serdadu Belanda saat perang revolusi fisik (Agresi Militer, Perang Dekolonisasi). Seluruh warga kampung mengungsi ke Mojoagung, melalui Gempol dan Pasuruan, kecuali beberapa wanita yang memilih menjaga rumahnya.

Baca juga : Misi Menyelamatkan Perancis

Seorang wanita yang terkenal telah berkencan dengan serdadu Belanda, melahirkan anak yang entah mengapa menjemput ajalnya dalam usia belia. Konon, wanita itu ditinggal serdadu Belanda untuk kembali ke Tanah Air setelah perang Revolusi Fisik berakhir. Beberapa wanita lainnya, yang dikabarkan oleh buyutku memilih menetap di kampung, bertahan hidup dengan menjadi pembantu para serdadu Belanda. Kisah itu menginspirasi saya untuk mencari literatur sejarah yang sekiranya dapat menjawab rasa penasaranku. Saya menemukannya dalam buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950; Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah karya Gert Oostinde yang menggunakan dokumen ego (buku harian, surat-surat pribadi, memoar dan lain sebagainya) para veteran serdadu Belanda sebagai sumber primer pada penelitian sejarahnya,

“Topik seks di masa itu tidak dibicarakan secara terbuka. Apalagi hampir setiap tentara berasumsi bahwa mereka akan menikah di Belanda; hal seperti akan bertabrakan dengan berita-berita tentang penyelewengan, apalagi tentang rasa jatuh cinta di Indonesia. Para veteran pun, sesudah kembali ke Belanda dan kebanyakan telah menikah, tidak tertarik untuk membuka diri tentang seks dan mungkin juga hubungan percintaan mereka di Hindia Belanda”, tulis Gert Oostinde dalam bukunya Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950; Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah.

Baca juga : Homo Bataviensis

Kecurigaan Gert Oostinde benar adanya, namun tindakan seksual, bahkan bukti anak haramnya mustahil dapat dikalkulasikan secara detail. Beberapa dokumen ego yang Gert Oostinde berhasil kumpulkan mengulas soal seks, sehingga realita adanya hubungan seksual antara wanita pribumi dan serdadu Belanda sudah dipastikan bukanlah sebuah mitos.

Meninjau dari kisah kelabu dari buyutku, tentu seorang wanita yang tidak disebutkan namanya itu mendapat sanksi sosial dari masyarakat berupa gosip dan cibiran. Buktinya, kisahnya membekas dalam memori kolektif masyarakat, karena termasuk dalam kategori aib. Pertama, ia mengandung anak haram. Kedua, bapak dari anak haram itu adalah serdadu Belanda yang notabene dianggap musuh bagi warga kampung. Ia melanggar norma sosial dan agama serta dianggap pengkhianat karena pernah mengabdi pada orang-orang Belanda. Dikisahkan, ia tidak menikah dengan siapapun, menua dan meninggal dunia.

Baca juga : Kisah Kegagalan Gandhi

Pantangan Seks Serdadu Belanda

            Polisi militer, pastor dan dokter merupakan pihak-pihak yang menganjurkan pantangan seks bagi serdadu Belanda. Polisi militer mengadakan pengawasan terhadap serdadu Belanda yang masih hijau itu dari godaan-godaan wanita-wanita pribumi. Mengingat keterbatasan pengawasan dari pihak polisi militer, maka mereka memikirkan alternatif lain yang efisien dan efektif.

Baca juga : Krisis Pangan Dibalik Hubungan Indonesia-India

Pertama, pertunjukan film. Pertunjukan film digunakan untuk sarana edukasi sekaligus hiburan. Polisi militer memanfaatkan pertunjukan film untuk mempropagandakan teror penyakit kelamin. Kengerian penyakit kelamin ini diharapkan dapat menghalangi serdadu Belanda yang bertugas tergoda dengan wanita-wanita pribumi. Bagaikan racun, bagi pihak polisi militer, pelacur dikhawatirkan dapat melalaikan serdadu Belanda, apalagi bisa saja menjual informasi (mata-mata). Kedua, praktik pelacuran dapat memicu berbagai masalah lainnya, terutama wabah penyakit kelamin.

Kedua, selebaran poster dan brosur. Sebuah brosur penyuluhan memperingatkan tentang pelacur dan penyakit, Awas: sebagian besar dari para vampire mengidap penyakit kelamin. Lain lagi dengan poster yang memuat tulisan, Jika kau terjerat oleh seorang wanita, bersihkanlah dirimu dengan segera. Karena syphilis mengantarmu ke neraka.

Baca juga : Kiprah Politik Moh. Ali Jinnah

Selain polisi militer, pihak yang mencegah serdadu Belanda bercinta dengan wanita-wanita pribumi adalah pastor. Pastor mengkhotbahi para serdadu Belanda untuk menjauhi wanita-wanita yang mereka anggap berbahaya. Para pastor yang pandai berbicara itu seringkali mengacam dengan api neraka dan menjanjikan masa depan yang cerah. Adapun dokter Bekker memperingatkan para serdadu Belanda, bahwa penyakit kelamin adalah medan perang kedua. Oleh karena itu, dokter Sirach menyarankan untuk melakukan masturbasi saja.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here