Usai kuliah sejarah komunitas, aku menuju perpustakaan untuk membaca buku dan koran. Siang itu, ku duduk santai di sofa dengan rileks menyembujurkan kaki sambil membaca headline koran Jawa Pos yang sempat menyita perhatian. Suatu komunitas yang menamai dirinya Love Suroboyo mengklaim penemuan makam foto grafer top berkebangsaan Armenia. Keberadaan fotografer kawakan, Ohannes Kurkdjian yang reputasinya dalam mengabadikan potret bangsawan Jawa, transportasi masa kolonial, perempuan Jawa bahkan erupsi Gunung Semeru ini terinstal dalam memori kolektif masyarakat Surabaya (Jawa Pos, Cara Komunitas Love Suroboyo Mengabadikan Kenangan Makam Peneleh : 27 September 2016).

Bagi masyarakat Surabaya, Ohannes Kurkdijan berkontribusi besar dalam mendokumentasikan foto langka terutama foto mengenai orang-orang pribumi dan pemandangan alam yang kini tidak dapat dijumpai lagi.

Memasuki abad ke-20, lonjakan jumlah penduduk berkebangsaan Armenia yang terjadi di Surabaya berkaitan langsung dengan faktor pertumbuhan ekonomi (baca juga artikel Sarkies Brothers : Nasib Tragis Penerus Dinasti Hotel) . Bermula dari pendirian Gereja St. George, disusul kemudian pembangunan sekolah Manuck and Arathoon, perpustakaan Edgar Hall, asosiasi perempuan amal Armenia yang merawat anak yatim serta fakir miskin, gedung olahraga Armenia, bahkan studio foto (G.H.Von Faber, Nieuw Soerabaia : 38).

Seorang fotografer Armenia yang namanya masih terpatri dalam memori kolektif masyarakat Surabaya hingga kini adalah Ohannes Kurkdjian. Menurut Von Faber dalam Oud Soerabaia, terdapat patung Ohannes Kurkdjian yang menghiasi kuburannya di pemakaman Eropa Peneleh. Invasi militer Jepang menghancurkan segala jenis simbol-simbol Eropa dari monumen sampai patung Ohannes Kurkdjian. Pria berkebangsaan Armenia yang lahir tahun 1851 di Erzeroum ini merintis profesi fotografernya sejak berada di Tiflis, lalu kemudian belajar lagi ke Moskow sebelum memulai karir di Surabaya pada tahun 1884.

Baca juga : Aib Slogan Pembangunan : Gizi Buruk Masa Orde Baru

Baca juga : Kampoong Antara Huniaan dan Hinaan

 

Ohannes Kurkdjian sempat tinggal beberapa tahun di Wina, tempat dimana ia berjumpa dengan partnernya di bidang seni. Ia mengaplikasikan keahliannya dengan membuka studio foto pertamanya di sebuah rumah yang terletak di seberang Genteng Kali, tapi kemudian memindahkannya ke Aloon-Aloon Tjontong. Pada tahun 1897, Ohannes Kurkdjian memilih berpisah dengan partnernya, G.P Lewis yang berkebangsaan Inggris untuk membangun studi foto pribadinya. Ia pun merangkap sebagai manajer sekaligus pemiliknya. Pada tahun 1898, ia menjalin kemitraan yang mengizinkannya menggunakan sebuah bangunan di Tundjoengan untuk dijadikan studio foto.

Ohannes Kurkdjian mampu menorehkan beberapa karya fotografi yang memuaskan dengan selebriti perusahaan Kurkdjian sebagai objek bernilai tukar tinggi. Bahkan, ketenaran Ohannes Kurkdjian terdengar oleh pejabat kolonial sehingga ia di instruksikan untuk mengambil gambar letusan gunung Kelud pada tahun 1901. Kumpulan foto di arsipkan dalam album yang nantinya di tawarkan ke H.M Ratu (Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange Nassau – Ratu Belanda). Atas kerja kerasnya, ia mendapat hak  untuk menyebut dirinya Hoffotograaf. Sejak kematiannya pada tanggal 10 Juni 1903, saham PT kemitraan tanpa nama masih berlanjut ke tangan penerus-penerus bisnisnya (G.H.Von Faber, Oud Soerabaia : 161).

Mengenai Ohannes Kurkdjian dan sisi gelap studio fotonya tentu harus membedah secara kritis karya foto digitalnya dan profesinya juru foto kolonial. Foto adalah rekayasa canggih berupa gambar visual yang diperoleh dari tekonologi kamera melalui proses pemotretan antara juru foto dan objek fotonya. Foto dapat menyampaikan kesan yang terjawantahkan dalam ide realitas dan ide kebenaran. Sedangkan juru foto adalah profesi yang memproduksi dan menjual foto. Oleh karena itu, setiap foto sebenarnya tidak merepresentasikan ide realitas dan ide kebenaran yang objektif, justru sangat subjektif karena penciptaan foto harus memesan. Terlebih lagi bermuatan politis tinggi jika pemerintah Hindia Belanda yang memesannya. Pada tahun 1841, pemerintah kolonial Belanda telah memahami potensi fotografi sehingga memanggil juru foto untuk mendokumentasikan foto Borobudur dan peninggalan purba lainnya.

Pemasaran kamera Kodak pada tahun 1888, menghapus sekat batas-batas antara fotografer professional dan fotografer amatir serta tidak terbatas lagi dalam mendokumentasikan foto. Studio foto bertebaran di Hindia Belanda, salah satunya milik fotografer professional Ohannes Kurkdjian yang berpartisipasi aktif menyumbang kumpulan foto zaman kolonial yang menampilkan kesan bahwa orang Timur tidak dapat mengikuti modernitas sehingga pekerjaannya masih berada dalam lingkup tradisional, dibandingkan dengan pekerjaan orang Barat yang rumit dan menguasai seluk-beluk teknologi mesin uap. Ohannes Kurkdjian mencurahkan perhatiannya pada simbol-simbol status dalam foto-foto pribumi. Perhatikan bagaimana mengambil foto dari karya fotografinya, terdapat jarak yang membentang antara orang yang melihat foto dan orang yang dilihatnya dalam rangka membedakan (othering).

All knowledge that is about human society, and not about natural world, is historical knowledge, and therefore rest upon judgement and interpretation. This is not to say facts or data are nonexistent, but that facts get their importance from what is made of them in interpretation… for interpretations depend very much on who he or she is addressing, what his or her purpose is, at what historical moment the interpretation takes place” – Edward Said, Orientalism

Kaum pribumi dalam karya fotografi Ohannes Kurkdjian seringkali ditampilkan sebagai tipe penduduk asli seperti jongos, pelayan rumah, tukang masak, gadis penari, kuli, penjaja makanan dan pengasuh anak yang semuanya difoto tanpa catatan nama masing-masing. Sebaliknya, foto orang Eropa yang berstatus apapun dari gubernur, jenderal, pengusaha, pekerja biasa bahkan anak-anak biasanya disebutkan namanya serta dilihat sebagai manusia bukan objek foto tertentu. Karya fotografi tercetak tergantung siapa yang membayar. Seluruh karya foto Ohannes Kurkdjian adalah pesanan dari pengusaha yang mempromosikan bisnis hotel misalnya, dari kolektor barang unik di Belanda yang menggemari foto pribumi ataupun dari pemerintah kolonial untuk kepentingan proyek seperti foto letusan gunung, foto candi Borobudur dsb (Jean Gelman Taylor, Aceh : Narasi Foto 1873-1930 : 314 – 316).

Album foto Ohannes Kurkdjian dapat dilihat di https://www.flickr.com/photos/7687218@N05/sets/7215760605033798074/page2 silakan telusuri lebih lanjut.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here