Warga kampung nelayan Greges sudah banyak yang beralih profesi sebagai buruh pabrik. Akan tetapi, peralihan profesi tidak serta merta menghapus tradisi. Sejumlah warga kampung nelayan Greges masih memperingati tradisi Larung Laut setiap tahunnya. Dengan menggunakan kapal-kapal nelayan, mereka berlayar menuju sebuah titik yang disebut Karang Maeso (karang yang tidak pernah tenggelam).

Baca juga : Kampoong : Antara Hunian dan Hinaan

Gelombang modernitas perkotaan yang menggerus pemukiman warga kampung nelayan Greges mengubahnya menjadi kawasan peri-urban. Sepertihalnya kampung-kampung nelayan lainnya di Surabaya, kampung nelayan Greges masih kental dengan nuansa dan atmosfer yang menggambarkan karakter hibrida antara sifat kedesaan dan kekotaan. Istilah peri-urban mengacu pada makna pinggiran kota. Dalam kasus kampung-kampung nelayan di Surabaya ditandai dengan penampakan fisik kekotaan yang tumpang tindih bersama kebudayaan masyarakat pedesaan (Hadi Sabari Yunus, Dinamika Wilayah Peri-Urban: Determinan Masa Depan Kota : 9-13).

Ahli geografi, terutama yang mengupas kajian kawasan peri-urban tidak mampu mengurai batas-batas kekotaan dan kedesaan secara spesifik. Oleh karena itu, identifikasi kekotaan dan kedesaan pada kampung-kampung nelayan di Surabaya lebih jelas bila ditinjau dari perilaku sosial dan perekonomiannya. Karakter pedesaan tercermin dari identitas sosial, budaya lokal, mentalitas dan kebiasaannya, meskipun secara administratif berada di wilayah perkotaan.

Baca juga : Si Penjilat, Sosok Lain Ibnu Khaldun

Kampung nelayan Greges termasuk bagian dari Kelurahan Tambak Sarioso, Kecamatan Asemrowo, Surabaya. Kampung nelayan Greges merupakan salah satu dari berbagai kampung nelayan di Surabaya. Selain kampung nelayan Greges, kampung-kampung nelayan lainnya di Surabaya dapat dijumpai di Kecamatan Mulyorejo, Rungkut, Bulak, Gununganyar, Kenjeran, Benowo, Krembangan, Sukolilo dan Asemrowo (Dinas Pertanian Kota Surabaya, Profil Perikanan Kota Surabaya 2012).

Karakter pedesaan lainnya juga terindikasi dari penghasilannya yang rendah. Kategori ekonomi menjadi pembeda antara kekotaan dan kedesaan yang masih diperdebatkan. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang ini masyarakat nelayan termasuk golongan masyarakat miskin yang lebih terpuruk ketimbang buruh pabrik (Baca juga: Pasang Surut Perekonomian Nelayan).

Baca juga : Karir Perancis di Afrika : Catatan Hitam Perbudakan

Berbagai penelitian pasca tahun 1980-an menyimpulkan bahwa kelompok nelayan merupakan kelompok masyarakat termiskin. J.G Butcher (The Closing of the Frontier; A History of the Marine Fishiers of Southeast Asia c.1850-2000) dan Pujo Semedi (Close to the Stone, Far from Throne; The Story of a Javanese Fishing Community, 1820s-1990s) menyimpulkannya berdasarkan riset komprehensif melalui pendekatan historis. Sementara M. Husain Sawit (Nelayan Traditional Pantai Utara Jawa ; Dilema Milik Bersama), Mubyarto (Nelayan dan Kemiskinan; Studi Ekonomi Antropologi di Dua Desa Pantai), Soejadmoko (Dimensi-Dimensi Struktural Kemiskinan dalam buku Kemiskinan Struktural; Suatu Bunga Rampai) dan S.Soemardjan (Kemiskinan Struktural dan Pembangunan dalam buku Kemiskinan Struktural; Suatu Bunga Rampai) menyimpulkannya berdasarkan riset kontemporer melalui pendekatan ilmu antropologi dan ilmu ekonomi (Masyuri, Iptek dan Dinamika Ekonomi Nelayan dalam bunga rampai buku Kembara Bahari; Esai Kehormatan 80 Tahun Adrian B Lapian : 66-67).

Baca juga : Politik Stigma Belanda : Tarekat dan Stigma Gendheng

Masyhuri, staf peneliti senior dari LIPI memandang permasalahan ini lebih pada ketidakmampuan nelayan mengadopsi IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Namun, kesimpulan tersebut terlalu sempit. Permasalahan sosial yang menimpa kelompok nelayan sangat rumit dan justru kendala IPTEK bukanlah tergolong vital.

Kondisi setiap kampung nelayan, misalnya dalam kasus di Surabaya sangat berbeda-beda. Kampung nelayan Kenjeran menjelma menjadi kawasan pariwisata berkat pemerintah kota Surabaya, sedangkan kampung-kampung lainnya tidak demikian. Kampung nelayan Greges yang terseok-seok di perbatasan kota Surabaya – Gresik tampak gersang dan tersuruk dibelakang hiruk pikuk perkotaan.

Semenjak tahun 1980-an, perubahan signifikan terjadi di kampung nelayan Greges. Tambak semakin menyusut dan berubah menjadi gudang industri, pabrik dan peti kemas. Ekspansi berbagai macam industri berdampak pada masyarakat nelayan Greges. Peralihan profesi dari nelayan ke buruh pabrik bukanlah hanya perkara ekonomi semata. Terbukti sebagian masyarakat kampung nelayan Greges masih bertahan sebagai nelayan (Manda Firmansyah, Eka Nurul Farida dan Muhammad Rohman Obet, Hidup di Tengah Perbatasan; Kampung Nelayan Greges dan Sosial Budaya Masyarakat di Kawasan Peri-Urban Surabaya : Penelitian Pemuda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga).

Baca juga : Anak Bangsa, Rasa Anak Tiri

Peralihan profesi dari nelayan ke buruh pabrik menciptakan polemik yang mengundang keluhan-keluhan. Habitat nelayan berbeda dengan buruh pabrik. Kesukaran beradaptasi dengan aturan-aturan ketat perusahaan tentu bertentangan dengan naluri kebebasan yang telah terpatri bertahun-tahun. Akan tetapi, sebagian nelayan dari kampung nelayan Greges terpaksa pasrah, mengingat tangkapan ikan maupun budidaya perikanan telah merosot drastis.

Pembuangan limbah pabrik ke laut mencemari perairan dimana nelayan menangkap ikan. Kandungan timbal dalam air berbahaya bagi biota laut. Akibatnya, tangkapan ikan dan kerang menurun tajam. Pada kasus nelayan Greges, reklamasi Teluk Lamong oleh PT. Pelindo III memusnahkan terumbu karang dan memblokade akses tercepat menuju laut. Hal ini sangat merugikan masyarakat kampung nelayan Greges, terutama hasil tangkapan ikan yang semakin jarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here