Kota Safed dan Nasib Orang Yahudi Dibawah Kekuasaan Islameropa

              Semua bermula dari para pelaut Portugis berlayar mengarungi hamparan samudera yang luas. Keberhasilan penaklukan kembali tanah leluhur atas penguasa Arab – Berber berbuah malapetaka. Kerajaan-kerajaan Timur bercorak Islam memusuhi bangsa yang baru bangkit dari keterpurukan. Sebuah misi mereka emban. Misi pencarian sumber rempah-rempah yang selama ini dimonopoli pedagang Arab. Misi besar yang berjalan bertahun-tahun lamanya tersebut mendapat tantangan keras. Usaha Portugis ternyata dapat menghancurkan monopoli perdagangan rempah-rempah di laut Mediterania. Banyak pihak yang dirugikan. Gilda-gilda negara kota di sepanjang pantai Italia yang bermusuhan seketika berubah menjadi kawan. Begitu pula, kesultanan Utsmaniyah dan kesultanan Mamluk. Mereka semua bekerja sama dalam menghacurkan Portugis (Giancarlo Casale, 2010).

Baca juga : Misi Menyelamatkan Perancis

              Warisan kekayaan dan keilmuan dari orang-orang Arab terutama dibidang navigasi kelautan menjadi keberuntungan bagi Portugis. Pelayaran pertama yang terdampar di Tanjung Harapan (Afrika Selatan) bukan hal yang bodoh. Gebrakan besar dalam memusnahkan mitos konyol orang Eropa. Portugis keluar dari zona nyaman yang mana dulunya menganggap dunia hanya sebatas benua Eropa, Afrika Utara dan Timur Tengah selebihnya akan menghilang. Penemuan rute ke India dengan menyusuri pantai timur Afrika oleh Portugis adalah mimpi buruk kesultanan Utsmaniyah. Kesultanan Mamluk juga mulai merasakan kemerosotan pendapatan. Kesulitan ekonomi kerajaan ini sudah sangat parah, apalagi kontribusi pelabuhan Alexandria dalam keuangan semakin berkurang (Michael Winter, 1992).

          Portugis membuka pasar rempah-rempah di Lisbon dengan harga yang jauh lebih murah. Orang-orang Eropa berbondong bondong membeli rempah-rempah ke para pelaut Portugis. Aktivitas dagang dan militer Portugis mengancam Laut Merah dan tempat – tempat suci Islam di Hijaz. Kesultanan Mamluk kebingungan, tidak sanggup mengambil sikap melawan karena tidak mengembangkan angkatan laut. Kesultanan Mamluk meminta pertolongan kesultanan Utsmaniyah. Bantuan laut pun datang, sementara kekuatan lain mulai bangkit, dinasti Syi’ah Safavid (Safawi) di Persia (Iran) bersatu dibawah Ismail Shah.

Baca juga : Zona Merah Perbanditan di Tangerang

          Kesultanan Utsmaniyah khawatir akan terjadi aliansi untuk melawannya. Aliansi yang dibangun oleh Safavid bersama suku-suku Turkoman (suku suku Turki Seljuk yang terpecah pecah) di Anatolia dan Mamluk. Selim I yang selalu menampilkan muka muram membantai Turkoman yang menjadi simpatisan Safavid. Ia menggantikan ayahnya Sultan Beyezid II, anak dari penakluk kota Konstantinople. Kedigdayaan tentara Selim tergambar dari kemenangannya melawan Isma’il dalam pertempuran Chaldiran di Azerbaijan tahu 1514 M.

Selim I curiga akan kemungkinan perjanjian Mamluk Safavid. Kecurigaan yang berasal dari ketakutan itu berbuah tindakan Selim I yang memimpin pasukannya menuju Suriah Utara, tindakan yang belum memiliki tujuan jelas ini menyebabkan Mamluk mengambil langkah defensif. Dibawah Sultan Qansawh al Ghawri, tentara Mamluk bergerak maju menuju perbatasan Suriah – Utsmani. Langkah maju tidak biasa yang membenarkan keputusan untuk mendeklarasikan perang. Pertempuran pun terjadi secara singkat pada bulan Agustus 1516 M di daratan Marj Dabiq, utara kota Aleppo (Colin Imber, 2002).

Baca juga : Krisis Pangan Dibalik Hubungan Diplomasi India-Indonesia

Tentara Mamluk dikalahkan dengan mudah, Sultan Mamluk meninggal di Medan Pertempuran, entah terbunuh atau kemungkinan terkena stroke. Senjata api Utsmani dengan tentara elit Jennissarinya memberikan keunggulan penuh atas Mamluk. Kemenangan yang sudah pasti, perbedaan jumlah tentara, sekitar 60.000 tentara Utsmani berhadapan dengan 20.000 tentara Mamluk. Apalagi ketika berlangsung peperangan, Gubernur Aleppo Kha’ir Bey berkhianat, sebagian sayap kanan tentara Mamluk membelot dan bergabung dalam pertempuran di pihak Utsmani. Sayap kanan yang memerankan peran penting malah kocar-kacir dan sebagian darinya bergabung dengan pasukan Selim (Philip K Hitti, 1946).

Rencana keji, pengkhianatan, mental remuk, dan barisan tentara yang terpecah belah merangsang ketakutan yang mendorong pasukan Mamluk melarikan diri dari keganasan medan pertempuran. Di sisi lain, tentara Utsmani dengan percaya diri mengejar serta membantai mereka.

Baca juga : Kebiasaan Aneh Menyabung Ayam

          Kesultanan Utsmani dengan mudah merebut semua provinsi di Suriah termasuk kota Safed. Kota penting kaum Yahudi yang kurang terkenal dibanding Jerussalem. Sultan menjaga kota Safed, tidak ada penjarahan maupun pengerusakan terhadap kuil kuil kuno atau pemukiman pemukiman penduduk. Sebagai gantinya, berdasarkan daftar catatan Tavaşi Sinan Pasha, 600.000 orang Yahudi dikenakan pajak haraq. Kenyataannya pajak haraq jauh meringankan orang orang Yahudi ketimbang pajak dari kerajaan pimpinan mantan budak (Mamluk) yang memberatkan karena faktor korupsi yang sudah terlanjur membudaya (Evliya Celebi, 2011).

          Sampai hari ini, antara tujuh dan delapan puluh ribu orang Yahudi masih tinggal di Safed. Rumah mereka masih mempertahankan arsitektur kuno. Kesan klasik yang membekas merupakan keunikan kota ini. Kota Safed adalah tempat berhaji orang Yahudi selayaknya Mekkah bagi orang Muslim. Orang-orang Yahudi yang pergi ke kota Safed juga mempraktikkan ritual-ritual keagamaan sebagaimana ritual-ritual ketika berhaji di Mekkah bagi umat muslim yang mengusung kegiatan-kegiatan seperti mengelilingi Ka’bah, bermukim di Mina, memotong rambut, dan lain sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here