6 Februari 1982, Harian Tempo menerbitkan opini bertajuk ‘Naipaul dan Islam yang tidak Marah’, yang bikin saya tergelitik. Abdurahman Adakhil, atau dikenal dengan Gus Dur, berupaya menghadirkan wacana tandingan dengan mengomentari anggapan Naipaul tentang wajah Islam yang marah terhadap modern.

Naipaul dan kunjungannya ke Indonesia, adalah salah satu contoh sederhana, yang mewakili kesalahpahaman Barat (Amerika Utara dan Eropa) atas Timur (Eropa Timur, Asia, Afrika, Amerika Latin dan Amerika Selatan ). Orientalisme karya Edward W. Said, dapat menjadi rujukan otentik dalam membedah deskripsi Naipaul yang seakan-akan memaksakan pola pikir Barat untuk menafsirkan Timur.

Baca juga : Primadona Aroma, Sejarah Kayu Cendana

Among the Believers; An Islamic Journey, karya Naipaul yang beredar pada tahun 1981, menuai banyak kritik dari Gus Dur. Jelas, landasan berpikir dan konsep-konsep Barat yang Naipaul usung, tidak pernah singkron dengan kenyataan dan keadaan lingkungan Timur. Dan upayanya untuk memperkenalkan Islam Indonesia justru terjebak dalam tradisi Orientalisme, yang muncul semenjak bangsa Eropa menyadari dunia Timur (termasuk Indonesia) sangat berbeda dengan daerah asalnya.

Jikalau Van Leur mengkritik penulisan sejarah yang mengambil posisi sudut pandang ‘menulis di atas geladak kapal VOC, Naipaul menghiraukannya, dan bersikukuh menulis panorama alam Indonesia dan kondisi masyarakatnya ‘di atas mobil’. Tepat pula, Naipaul mewarisi kebiasaan pengelana Eropa sebelumnya, yang sejak pertama kali kedatangannya, senantiasa bersikeras mencerna keterangan dari warga setempat dan menafsirkannya berdasarkan pandangan dunianya.

Baca juga : Terjebak Pergundikan Tangsi

“Jawa disini serba kecil, sulit menghubungkannya dengan kerajaan-kerajaan tua yang terkenal. Tanah ini sepertinya merupakan kediaman dari orang-orang malas, wong chilik, masyarakat kecil, yang dikutuk oleh kesuburan mereka sendiri,…”, (James R. Rus (Ed.), 2013 : 401).

Naipaul dan Kunjungannya ke Indonesia

Sir Vidiadhar Surajprasad Naipaul, seorang penulis karya fiksi dan non-fiksi lulusan universitas terkemuka, Oxford. Penulis kelahiran Trinidad yang memperoleh nobel sastra pada tahun 2001 ini, mengadakan perjalanan mengunjungi dan mengeksplorasi tempat-tempat yang dihuni masyarakat Muslim, untuk memahami perkembangan modernisasi. Kunjungan Naipaul ke Indonesia pada tahun 1980-an bukan sekadar menulis laporan perjalanan, tetapi juga mengingatkan kembali kesalah-tafsiran orang-orang Barat terhadap dunia Timur, khususnya Islam, yang sudah terhegemonik selama berabad-abad silam.

Baca juga : Yang Ter(di)lupakan, Kaum Indo dan Benih Nasionalisme di Indonesia

Di Indonesia, Naipaul mengunjungi berbagai tempat. Akan tetapi, Naipaul hanya sepintas lalu dalam mengamati, dan lebih senang membingkai kisahnya dengan sekehendak hatinya. Sepanjang perjalanan dari Surabaya, ia ditemani asisten muda, yang merangkap sebagai pemandu lapangan. Prasojo, nama asisten muda bertubuh tinggi dan berwajah mirip pria Tionghoa itu.

Sesungguhnya Prasojo bukan sekadar pemandu, melainkan juga sumber informasi bagi Naipaul. Meskipun dalam karyanya, pengamatan sepintas lalu dan penafsiran Naipaul yang tanpa data cenderung dominan.

Baca juga : Kota Pelabuhan Surabaya

“Sungai lumpur tampak mengalir melintasi dataran hijau di lahan yang telalu sering diolah dan kelebihan penduduk. Tanah di sekitar Surabaya adalah daerah persawahan, sawah yang dibuat kecil dan memanjang agar lebih mudah diirigasi, tetapi jika dilihat dari udara, sawah terlihat tidak terawat”.

Penggambaran panorama alam yang cenderung bersumber dari pengamatan sepintas lalu dan penafsiran tanpa data yang jelas tersebut, juga dihadirkan Naipaul dalam tulisannya tentang pesantren.

“…telah berkali-kali melewati pesantren itu; bangunan itu terlihat biasa saja, bahkan dengan papan nama sekalipun dan bukan seperti peristirahatan yang teduh pada umumnya. Tempat ini lebih merupakan gabungan antara pedesaan dan sekolah, seperti yang sudah saya (dan Prasojo duga) duga…saya berpikir mungkin semua pusat pembelajaran pada abad pertengahan terlihat seperti ini”.

Menurut Gus Dur, pemahaman Naipaul tentang Islam, terutama Islam pesantren di Indonesia, sangat dangkal. Bahkan, Naipaul tidak menyadari adanya proses perubahan struktur kehidupan masyarakat yang mendasar, yang mana pusat pengaruhnya justru dari pesantren Tebuireng di Jombang dan Pabelan di Mutilan.

Naipaul tidak menyadari karena sejak awal menggunakan pandangan dunia Barat dalam menafsirkan Timur. Seperti ketika Naipaul menafsirkan pesantren Tebuireng sebagai institusi yang menyerupai organisasi kependetaan khas Abad Pertengahan. Sementara penilaiannya terhadap pesantren, terutama tentang modernitas justru dimulai dengan memasang konsep berpikir ‘modernitas’ Barat yang eksploitatif dan kapitalistik. Tentu gagal paham, mengingat yang terjadi malah menjadi semacam memaksakan konsep ‘modernitas’ Barat kepada dunia Timur, dalam hal ini pesantren.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here