Terik sinar matahari menyengat. Padang pasir kering berdebu. Kafilah-kafilah berjubah kumal berjalan menuntun unta yang pundaknya dipenuhi barang dagangan. Melaju memanjang, gerombolan unta tersebu patuh membuntuti tuannya. Menyisakan jejak kaki sepanjang rute yang membakar kulit. Konon jalur kuno itu disebut jalur sutra. Lintasan tradisional yang melewati kekaisaran Sasanid Persia dan kekaisaran Byzantium.

Serangkaian pertempuran akbar seringkali terjadi di daerah perbatasan, tepatnya berada provinsi Irak. Orang-orang Persia, bukanlah rumpun semit sepertihalnya bangsa Arab atau Yahudi, melainkan rumpun bangsa Arya yang gemar berperang. Selama berabad-abad, orang-orang Persia menghegemoni tanah Sabit Subur (wilayah subur yang dibatasi sungai Efrat dan Tigris) dengan kekuatan militer yang disiplin dan terorganisir dengan baik.

            Demikian pula, orang-orang Romawi sudah melegenda melahirkan legion-legiun gagah berani, administrator ulung dan armada penguasa Laut Mediterania. Kedua kekaisaran tersebut adalah perpanjangan tangan dari kekaisaran kuno yang pernah berjaya sebelumnya. Byzantium adalah kekaisaran Romawi Timur, peradaban yang tersisa semenjak kejatuhan kekaisaran Romawi Barat di Roma sedangkan Sasanid dibangun kembali diatas puing-puing reruntuhan kekaisaran Persia yang hancur akibat ekspansi Alexander Agung.

Baca juga : Charles Martel, Membendung Ekspansi Islam ke Eropa Barat

            Perseteruan selama 400 tahun berakhir dengan perjanjian damai. Kekaisaran Byzantium berpindah fokus ke masalah Eropa yang kerapkali di teror oleh suku-suku Jermanik yang beringas. Sementara kekaisaran Sasanid sibuk memadamkan pemberontakan di sepanjang pegunungan Kaukakus yang selalu bergejolak. Kekaisaran Sasanid maupun Byzantium, membiarkan orang-orang Arab seliweran keluar masuk negerinya.

 Dua kekaisaran raksasa tersebut tidak menaruh curiga atau mendeteksi potensi bahaya dari Jazirah Arab-yang berselimut gurun tandus. Kawasan pelosok yang terpencil ini senantiasa mengurungkan minat siapapun yang ingin menguasainya. Miskin, kesulitan logistik yang parah dan tanah yang tidak dapat ditanami tumbuhan, bahkan tidak ada sumber pendapatan yang berarti disana. Seseorang akan dianggap gila jika pada tahun ketiga abad 5 M meramalkan tiga dekade kedepan akan muncul kekuatan tersembunyi dan tak terduga dari kawasan Jazirah Arab. Orang-orang Arab dinilai sangat dekat dengan dua kekaisaran raksasa tersebut, namun dianggap asing dan barbar. Semua pemahaman tentang itu akan berubah drastis ketika seorang laki-laki yang dikenang sebagai manusia paling berpengaruh di dunia, lahir di wilayah tersebut (Philip K. Hitti, 1946).

Baca juga : Siapa Sebenarnya Muslim Rohingya?

            Kegelapan malam yang sunyi selama akhir Ramadhan. Cahaya rembulan redup bulan kesembilan, sekitar tahun 610 M. Muhammad Ibn Abdullah, seorang pedagang berusia empat puluh tahun sedang tidur nyenyak di sebuah gua dekat Gunung Hirah. Ia merasa nyaman berada dalam gua, menghabiskan waktu malamnya untuk berdoa dan meditasi. Muhammad Ibn Abdullah seketika terbangun, setelah mendengar suara surgawi yang mengatakan kepadanya bahwa dia adalah Rasulullah. Menurut tradisi Islam, Muhammad Ibn Abdullah sedang menerima wahyu. Peristiwa yang mengawali, lahirnya salah satu agama terbesar di dunia (D.S Margoliouth, 2003).

            Agama Islam masih berupa benih. Perkembangan di dunia Arab kuno jelas sangat sulit. Rumpun semit yang suka jual beli budak bertentangan dengan konsep Islam. Penyiksaan, penghinaan, intimidasi bahkan pengucilan selalu diterima pengikut setia Muhammad bin Ibn Abdullah dengan hati ikhlas. Perjuangan Assabiqunal Awwallun hampir mirip dengan penderitaan umat Kristiani ketika dituduh Romawi sebagai biang keladi kesialan kekaisaran Romawi. Nasib umat Islam berangsur-angsur membaik setelah hijrah ke Madinah (Yasrib), sekitar 275 mil dari Mekkah. Madinah, kota oasis yang menjadi jalur sutra versi Arab. Romawi menaklukkan Palestina pada abad pertama Masehi, dan banyak orang Israel lari ke Yasrib dan mengelolah perkebunan kurma (J.J Saunders, 2002).

Baca juga : Organisasi Islam Merespon Persoalan Perempuan

Suku utama non Yahudi, yang berasal dari Yaman, Kharaj dan Aws yang ramah menyambut hangat kedatangannya. Mereka berikrar, memberikan sumpah setia kepada Muhammad bin Ibn Abdullah dan sigap bertarung dengan siapapun yang memusuhinya. Perananya di Yasrib sangat krusial. Menjadi juru damai dan hakim bagi suku Kharaj dan Aws yang rentan bertikai. Disana, pengikut Muhammad Ibn Abdullah semakin bertambah. Orang-orang Mekkah yang cemas, sepakat membinasakan Islam selamanya. Mereka tidak tangung-tanggung menghimpun 1000 orang yang maniak berperang. Mengantarkan pada perang yang tidak adil, 300 prajurit Islam berduel dengan semangat membara. Serangkaian peperangan yang melelahkan, antara kedua kubu yang bersitegang berujung gencatan senjata, dan baru diumumkan setelah pasukan Muslim menang telak dalam pertempuran parit pada 627 M. Muhammad Ibn Abdullah mulai menyusun pondasi imperiumnya, mengalihkan pandangan ke komunitas Yahudi Khaibar yang kaya (Karen Amstrong, 2002).

            Ia menghukum komunitas Yahudi yang ingkar janji tersebut dan mengepung kota Khaibar hingga menyerah. Komunitas Yahudi yang membelot akhirnya bersedia membayar upeti tahunan. Kekuatan Islam Madinah sudah patut dipertimbangkan. Pembunuhan seorang Muslim oleh kafir Quraisy Mekkah tergolong upaya melanggar perjanjian Hudaibiyah. Muhammad Ibn Abdullah bertindak tegas, pada tanggal 1 Januari 630 M ribuan pasukan Islam yang tangguh mengadakan kampaye militer dan kota Mekkah menyerah tanpa menawarkan perlawanan serius, nantinya peristiwa ini dikenal di dunia Islam sebagai Fathu Mekkah.

Baca juga : Generasi Muda Menemukan Indonesia

            Beberapa tahun berikutnya, Madinah dibanjiri tamu-tamu berwibawa. Pejabat-pejabat lokal dan kepala suku setempat dari seluruh penjuru semenanjung Arab berduyun-duyun menyatakan sikap tunduk kepada Muhammad Ibn Abdullah. Pada bulan Maret 632, Ia melaksanakan ibadah haji dengan suasana damai. Puas menikmati ketenangan kota kelahirannya, tiga bulan kemudian nabi tiba-tiba demam tinggi dan mengeluh kepalanya sakit. Takdir pun menjemputnya, seberapa pun luar biasa sosok Muhammad Ibn Abdullah,tetap saja manusia yang pasti meninggal dunia (tanggal 8 Juni 632 M).

Seluruh jazirah Arab dirundung duka atas wafatnya sang nabi. Sepeninggalannya menyisakan misteri. Muhammad Ibn Abdullah tidak menunjuk penerus kepemimpinannya. Perseteruan hebat kembali muncul. Siapa yang berhak menggantikan nabi?. Persoalan publik di gembor-gemborkan, dua kubu beradu argumen. Kubu Muhajirin mengklaim layak atas dasar golongan pertama yang mengakui kenabian Muhammad Ibn Abdullah, sedangkan kubu Anshar berhak karena tanpa mereka Islam masih lemah dan terancam musnah. Meski demikian, kedua kubu akhirnya sepakat memilih Abu Bakr yang saleh dan lanjut usia.  Kekhalifahan Abu Bakr yang singkat dan disibukkan masalah internal. Peperangan melawan kelompok murtad yang membelot dan membasmi nabi palsu yang sedang tren. Negara Islam Madinah pun selamat dari perpecahan, bahkan penerus-penerusnya mampu menganeksasi kekaisaran Sasanid Persia dan mencaplok hampir seluruh wilayah kekuasaan Byzantium yang berada di benua Asia dan Afrika (Efraim Karsh, 2007).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here