Generasi millennial tentu tidak asing dengan anime Shingeki no Kyojin. Anime berkonsep survival anti-meanstream yang suddenly meanstream (mendadak populer). Anime bergenre action, drama, fantasi, shounen, super power dan sebenarnya juga pantas digolongkan dalam genre misteri ini mengisahkan perjuangan umat manusia untuk bertahan hidup dari serbuan raksasa.

Baca juga : Sarkies Brother, Nasib Tragis Penerus Dinasti Hotel

Diceritakan umat manusia berada dalam ambang kepunahan dan terkurung dalam sebuah kota yang tertutupi tembok yang sangat tinggi. Setiap episode Shingeki no Kyojin seakan membongkar konspirasi yang memanfaatkan sejarah sebagai legitimasi politik rezim penguasa. Episode 3 dalam season 3 anime Shingeki no Kyojin yang tayang 5 Agustus 2018 kemarin, memaparkan berbagai rahasia kerajaan yang mengingatkan penulis pada rezim Orde Baru.

Episode 3 dalam season 3 anime Shingeki no Kyojin menyuguhkan rencana komandan korps pasukan pengintai, Erwin Smith yang bersekongkol dengan komandan korps pasukan penjaga untuk mengkudeta raja tanpa pertumpahan darah karena bukanlah perwaris sah tampuk kekuasaan. Erwin Smith menyakinkan komandan korps pasukan penjaga, Dot Pixis, dengan menceritakan masa kecilnya.

Baca juga : Konspirasi Global, Perang Jawa dan Aliansi Anti-Kafir

Ayahku adalah seorang guru. Suatu hari kami sedang belajar sejarah. Demi melindungi diri dari Titan (raksasa), umat manusia mengungsi ke dalam dinding dan mendapatkan kedamaian selama 100 tahun. Tapi, catatan umat manusia sebelum masuk ke dinding hilang entah kemana. Itulah yang diajarkan pada kami. Tapi, aku merasakan kejanggalan, bertanya ke ayahku. Ayahku tidak menjawab pertanyaanku dan membubarkan kelas seperti biasa.

Tapi… setelah pulang ayahku menjawab pertanyaanku. Dia bilang buku sejarah yang diberikan pemerintah penuh kontradiksi dan misteri. Walau aku masih kecil, aku paham betul apa yang diceritakan oleh ayahku. Ada alasan dia tidak memberitahu cerita itu pada siswa di kelas, tapi aku tidak cukup pintar untuk mengetahuinya.

Aku menceritakan kisah ayahku pada anak-anak lain, lalu suatu hari polisi militer datang bertanya padaku. Pada hari itu, ayahku tidak pulang ke rumah… Dia mati karena kecelakaan di luar kota. Tapi aku tahu bahwa ayah dibunuh oleh pemerintah. Seratus tahun yang lalu… umat manusia datang ke dalam dinding ini…Raja mengubah ingatan mereka agar mudah untuk berkuasa. Itulah teori ayahku.

Baca juga : Rantai Pemberontakan di Nusantara, Jaringan Pemikiran Utsmani

Kisah masa kecil komandan korps pasukan pengintai, Erwin Smith ini merupakan penyelidikannya untuk menjawab mengapa ayahnya harus mati karena hampir mengetahui kebenarannya?. Erwin Smith menyimpulkan, yang ingin mereka (penguasa dan kroni-kroninya) lindungi bukan umat manusia, tapi kebun, rumah dan tanah mereka. Jika ada seseorang yang ingin merebut daerah kekuasaan mereka, mereka akan menghancurkannya tak peduli siapapun orangnya. Ia percaya musuh dari umat manusia bukanlah para raksasa, tetapi manusia itu sendiri sebagaimana rezim Orde Baru, musuh mereka bukanlah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Freemanson, Zionis, Yahudi Israel dan lain sebagainya, melainkan rakyatnya sendiri. Barak-barak militer angkatan darat bertebaran dimana-mana, bukan untuk memerangi tentara musuh, tetapi untuk menjaga stabilitas dengan melibas oposisi maupun siapapun yang berpotensi menentang rezim Orde baru.

Rezim dalam anime Shingeki no Kyojin serupa dengan rezim Orde baru, lingkungan istana penuh pejabat serakah yang melanggengkan praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Di ranah korp pasukan polisi militer yang pro-rezim, suap-menyuap dan jual-beli senjata ilegal sudah menjadi hal lumrah, bahkan sosok religius digambarkan hanyalah penebar mimpi omong kosong. Pada akhirnya, tabir rahasia dari kemunculan raksasa merupakan hasil konspirasi dari kejahatan sekelompok manusia yang mendambakan kekuasaan. Bukankah pola kisah menyerupai rezim Orde Baru?

Baca juga : Mencari Indonesia, Demografi Politik

Historiografi masa Orde Baru yang diarsiteki Nugroho Notosusanto (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan IV) mengukuhkan kebenaran tunggal. Sejarah hanya menjadi legitimasi politik rezim Orde Baru yang berkuasa, meskipun kebenaran sejarah sebenarnya subjektif seperti kesimpulan dari E.H Carr dalam bukunya Apa itu sejarah?. Rezim Orde Baru menerapkan narasi kebenaran tunggal dalam sejarah Indonesia dengan merealisasikan proyek penyusunan buku babon Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang tebal dan berjilid-jilid itu.

Hampir mirip dengan kisah komandan Erwin Smith tadi, rezim Orde Baru menerapkan kebijakan politik kebudayaan hingga ranah mikro, dari PKK sampai ruang-ruang kelas. Pengajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) secara tidak langsung mengesampingkan peran sipil dan mendewakan militer. Jangan kaget, jika novelis terkenal Tere Liye pernah menulis, Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan-yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh-tokoh agama lain. Orang-orang religius, beragama. Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silakan cari. Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali, sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.

Alam pikir Tere Liye adalah produk rezim Orde Baru yang membenarkan anekdot menggelitik, sejarah adalah milik pemenang. Oleh karena itu, penulis meniru Tere Liye, Jangan terlalu terpesona dengan rezim Orde Baru dan berbagai kisah pahlawan-pahlawannya, seolah itu keren sekali, sementara peran sipil dan narasi sejarah lainnya dilupakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here