Pada penghujung tahun 2018, Indonesia sedang mengalami duka yang diakibatkan oleh beberapa bencana alam. Dari data yang direkam BNPB (http://dibi.bnpb.go.id/dibi/ (6 Januari 2018), sepanjang 2018 bencana Puting Beliung, Banjir & Tanah Longsor menjadi bencana dengan kejadian paling sering terjadi. Selain tiga bencana yang sering terjadi tersebut juga terdapat bencana lain seperti kebakaran hutan, gelombang pasang, kekeringan dan letusan gunung. Sepanjang 2018 dapat  dikalkulasi terdapat 1.245 bencana yang telah terjadi di Indonesia. Menghadapi awal tahun 2019 ini, sudah muncul prediksi ancaman bencana yang akan terjadi disepanjang tahun 2019 yang diperkirakan sebanyak 2.500 bencana.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan rasa takut terhadap pembaca, akan tetapi dengan data yang ditampilkan diatas dapat digunakan sebagai pegangan dalam menghadapi ancaman bencana di tahun 2019. Dalam beberapa minggu terakhir bahkan muncul isu kebencanaan yang dikaitkan dengan keadaan politik pemerintah. Ambilah contoh mengenai bencana Tsunami Anyer dan Lampung pada 22 Desember 2018 silam. Beberapa pihak mulai menyalahkan salah satu lembaga pemerintah dikarenakan gagal melakukan mitigasi bencana.[1] Sebelum permasalahan tersebut melebar luas, ada baiknya kita sebagai individu mulai merenungkan permasalah-permasalahan tersebut sebagai “Manusia Bijak”.

Baca juga : Sebab Kepunahan Harimau Jawa

Beberapa pihak mungkin dengan seenaknya sendiri mencari ‘siapa yang paling bersalah’ dalam suatu peristiwa tanpa adanya pemikiran sebijak-bijaknya untuk mengambil pelajarannya. Sebagai Manusia Bijak ada baiknya sejenak waktu kita menengok sejarah kebelakang bagaimana Homo sapiens bisa bertahan hidup hingga sekarang. Jawaban simpelnya adalah karena mereka bisa beradaptasi dengan baik. Benarkah seperti itu? Mari kita urai satu persatu.

Baca juga : Bulgarian Horror, Episode Kelabu Sejarah Balkan

Menurut Yuval Noah Hariri dalam buku Sapiens; Riwayata Singkat Umat Manusia, ada beberapa spesies manusia purba selain Homo sapiens – spesies sapiens (bijak) dalam genus homo (manusia). Fakta tersebut menyeret pemahaman kita tentang klasifikasi ilmiah manusia yang masuk kedalam kingdom Animalia. Hal tersebut semakin mendukung teori Darwin bahwa manusia dan kera adalah kerabat dekat dalam satu famili besar. Dengan begitu juga menyiratkan arti bahwa selain spesies Sapiens ada spesies lain dalam genus Homo.

Di Eropa dan Asia Barat muncul Homo neanderthalensis (manusia dari lembah Neander) atau lebih singkat disebut Neandertal. Neandertal memiliki perawakan gempal dan lebih berotot daripada sapiens yang memang cocok beradaptasi di iklim yang dingin. Di wilayah tropis seperti Pulau Jawa muncul Homo soloensis (manusia dari lembah Solo), sedangkan di Flores juga muncul Homo floresiensis dengan perawakan yang lebih kecil dengan tinggi tidak lebih dari satu meter. Selain itu beberapa ilmuwan menemukan spesies manusia lainnya seperti Homo denisova di Siberia, Homo rudolfensis (manusia dari danau Rudolf), Homo ergaster (manusia bekerja) hingga spesies kita saat ini Homo sapiens.

Baca juga : Titik Balik Peradaban Romawi Timur

Keberadaan spesies tunggal Homo sapiens saat ini sebenarnya menjadi pertanyaan besar para ahli. Apa yang terjadi dengan spesies manusia lainnya, apakah yang membuat Homo sapiens sedemikian istimewa sehingga membuatnya menjadi penguasa tunggal kehidupan yang ada di bumi. Jika dilihat dari ciri-ciri yang melekat pada masing-masing spesies manusia, terdapat beberapa persamaan yakni volume otak yang luar biasa besar jika dibandingkan dengan hewan. Besaran volume otak sebenarnya tidak banyak berpengaruh dalam kehidupan manusia di rimba belantara. Kelemahan volume otak yang besar memerlukan energi yang besar untuk memulihkannya kembali, kelebihannya manusia bisa menganalisa lebih baik informasi yang diterima otak. Kemampuan analisa inilah yang membuat manusia berada di puncak rantai makanan.

Kemampuan analisa yang baik membuat manusia mulai membuat dan menciptakan peralatan-peralatan yang dapat mempermudah kebutuhan hidup mereka. Kemampuan memanfaatkan api juga mempermudah kehidupan manusia seperti mengolah bahan makanan hingga menghalau hewan buas. Kemampuan-kemampuan alamiah tersebut yang menjadikan manusia sebagai penguasa tunggal di muka bumi. Kemampuan analisa yang baik inilah yang membedakan Homo sapiens dengan spesies manusia lainnya. Persebaran Homo sapiens menurut ahli dimulai dari Afrika Timur yang menyebar ke semenanjung Arab hingga ke daratan Erasia.

Persebaran Sapiens ke Eropa telah mempertemukan spesies Sapiens dengan Neandertal yang lebih berotot dan memiliki otak lebih besar. Ciri fisik Neandertal beradaptasi dengan baik di iklim dingin Eropa. Perjumpaan Sapiens dengan Neandertal memunculkan beragam teori yang menyimpulkan pertanyaan kenapa Sapiens lebih bisa beradaptasi sedangkan Neandertal punah. Jika dilihat dari struktur DNA manusia masa kini, populasi manusia Timur Tengah dan Eropa terdapat 1-4% DNA Neandertal, sedangkan populasi manusia Malenesia dan Aborigin terdapat 6% DNA Denisova. Teori tersebut sebenarnya cukup lemah untuk menjelaskan kenapa Neandertal dan Denisova punah. Kemungkinan terbesar yang membuat spesies selain Sapiens punah adalah karena Homo Sapiens-lah yang mendorong spesies lain untuk punah.

Aktivitas Sapiens dalam mendorong kepunahan spesies manusia lainnya bukan dikarenakan terjadi pembunuhan besar-besaran, akan tetapi lebih kepada sifat Sapiens yang lebih handal dalam memburu dan mengumpulakan makanan. Perkembangan otak yang lebih sempurna memungkinkan Sapiens dapat beradaptasi dengan baik, bahkan dengan kondisi iklim yang buruk. Kecerdikan Sapiens itulah yang mendorong spesies lain seperti Neandertal di Eropa menjadi punah karena kalah dalam mempertahankan hidupnya. Selain Neandertal di Eropa, spesies Homo soloensis, Homo Denisova dan Homo floresiensis menyusul punah setelah wilayah mereka kedatangan Homo sapiens. Meskipun jawaban-jawaban yang dijelaskan oleh para ahli belum dapat memuaskan pertanyaan kenapa Sapiens bisa begitu sukses bertahan hidup dibandingkan spesies lainnya, yang pasti Homo sapiens memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dibandingkan spesies yang lainnya.

Baca juga : Evolusi Teknologi Persenjataan di Kepulauan Nusantara

Jika penjelasan mengenai Homo sapiens dihubungkan dengan ancaman 2.500 bencana yang akan terjadi di Indonesia, kata kuncinya adalah adaptasi. Kemampuan adaptasi-lah yang membuat Sapiens dapat bertahan ribuan tahun dengan iklim yang berbeda-beda hingga saat ini. Kemampuan analisa yang lebih baik daripada binatang atau spesies Homo lainnya juga menjadi hal teristimewa yang dimiliki oleh spesies Sapiens. Dengan tanpa menyalahkan salah satu pihak, sebagai Homo sapiens harus memiliki kesadaran bahwa wilayah Indonesia yang kita tempati merupakan wilayah dengan ancaman bencana yang besar. Untuk menghadapi itu semua kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap individu adalah sikap Tanggap dan Sadar Bencana.

Pola pikir tanggap dan sadar bencana juga harus diiringi dengan pola pikir evakuasi mandiri.  Setiap individu dalam sebuah keluarga yang bertempat tinggal di zona rawan bencana harus memiliki tas emergency yang berisi perlengkapan kebutuhan darurat. Selain itu pemerintah juga mendukung dengan membuat fasilitas jalur evakuasi di zona rawan bencana. Simulasi keadaan darurat juga mulai dipraktikkan guna melatih kesadaran masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana kapanpun dan dimanapun. Melalui kesadaran dan dukungan penuh dari pemerintah pusat hingga daerah (berbagai lembaga pemerintah mulai BMKG, BNPB, PVMBG, DIKNAS dan lainnya) keberadaan kita sebagai Homo sapiens di zona rawan bencana pun bukan menjadi masalah besar bagi Manusia Bijak yang cerdik dan adaptif.


[1] https://m.facebook.com/notes/gian-ginanjar/catatan-kecil-tentang-kisah-inatews-dan-arogansi-pakarpenilitiahli-serta-framing/10161315746335010/?refsrc=http%3A%2F%2Finstagram.com%2F&_rdc=2&_rdr (4 Januari 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here