Setahun lalu, proposal program kreativitas mahasiswa sosial-humaniora (PKM Sos-Hum) tim saya diterima dan dibiayai DIKTI. Proposal PKM Sos – Hum yang berjudul Pemetaan Bahasa Pandhalungan Pada Masyarakat Kabupaten Situbondo Sebagai Upaya Konservasi Kearifan Lokal ini mengharuskan tim saya mengadakan observasi langsung. Kami berupaya meneliti fenomena bahasa Pandhalungan (bahasa Madura Tapal Kuda) dengan terjun ke lapangan untuk menyebar angket dan melakukan wawancara.

Ketika saya mengunjungi alun-alun kota Situbondo, saya berjumpa tugu yang dibawahnya tersusun tulisan Situbondo; Kota Santri. Jika ditanya apa kabupaten yang dijuluki Kota Santri? Tentu orang akan menjawab Jombang. Alasan sederhananya karena disana banyak berdiri pondok pesantren terkenal. Namun, mengapa Situbondo mengklaim sebagai Kota Santri?. Meskipun faktanya disana juga terdapat banyak pondok pesantren, bahkan pesantren Salafiyah Sayafi’iyah merupakan tempat diselenggarakannya muktamar NU ke-27 pada tahun 1984 yang berujung perumusan Khittah Nahdliyah.

Baca juga : Homo Bataviensis

mAkan tetapi, saya salah menyangka. Kata SANTRI yang dimaksud bukanlah seseorang yang mempelajari disiplin ilmu agama Islam di Pondok Pesantren, melainkan akronim dari Sejuk, Aman, Nyaman, Tentram, Indah. Terbukti sungai di Situbondo Kota bersih dari sampah, mungkin karena spanduk peringatannya menggunakan bahasa daerah setempat “Jek Moang ka Songai”(Jek: Jangan, Moang: Buang, ka: ke, Songai: Sungai).

Hari kedua di Situbondo, saya berkesempatan menemani ibu kos berbelanja pagi di Pasar Sumber Kolak. Terkadang saya bingung ketika mendengarkan percakapan ibu kos dengan berbagai pedagang. Antara bahasa Pandhalungan dan bahasa Madura asli sangat sulit dibedakan, apalagi mengamati dialeknya. Sepulang dari Pasar Sumber Kolak, ibu kos memberitahu kalau hampir semua pedagangnya adalah orang Madura totok.

Baca juga : Misi Menyelamatkan Perancis

Sebagian besar masyarakat Situbondo berkomunikasi dengan bahasa Pandhalungan. Istilah Pandhalungan berarti berbicara/berkata dengan tiada tentu adabnya/sopan-santunnya. Wilayah masyarakat Pandhalungan merujuk kepada suatu kawasan di wilayah pantai utara dan bagian timur Provinsi Jawa Timur yang mayoritas penduduknya berlatar belakang budaya Madura. Masuknya unsur-unsur kebudayaan Madura pada kebudayaan Jawa dalam masyarakat Situbondo yang memunculkan kebudayaan Pandhalungan disebabkan karena migrasi orang-orang Madura secara sporadis dan berkelanjutan.

Baca juga : Anak Bangsa, Rasa Anak Tiri

Orang-orang Madura yang menjajakan dagangannya di Pasar Sumber Kolak memanfaatkan melimpahnya hasil usaha perikanan. Dari tahun 1950 sampai 1970, perekonomian warga Situbondo berangsur-angsur mulai beralih dari industri gula dan perkebunan kolonial menuju usaha perikanan. Upaya nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda oleh pemerintah Indonesia ternyata tidak mampu mengembalikan perekonomian Situbondo sebagaimana pada masa kolonial. Akhirnya banyak warga Situbondo yang memilih bekerja sebagai TKI di luar negeri, seperti suami dari ibu kos saya.

            Kehadiran orang-orang Madura yang memberikan berbagai ragam corak dalam masyarakat Situbondo berhubungan erat dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19. Kawasan pantai utara Jawa Timur tergolong wilayah sepi penduduk dengan banyak lahan potensial yang subur. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda membuka gerbang migrasi bagi orang-orang Madura untuk menghuni berbagai wilayah di kawasan Tapal Kuda (Hageman J. 1858: 324-325).

            Orang-orang Madura diperbolehkan membabat hutan di kawasan Tapal Kuda dengan syarat harus dipergunakan untuk perkebunan tanaman komersil. Penawaran pemerintah Hindia Belanda tersebut disambut dengan migrasi berkala. Sekitar 10 hingga 15 migran Madura melewati Sumenep dan Kalianget, kemudian beranjak menuju pelabuhan Panarukan. Dari situ, para migran Madura menyebar ke berbagai wilayah di Situbondo ataupun berpindah ke Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan maupun Jember (Mudji Hartono, Migrasi Orang-Orang Madura di Ujung Timur Jawa Timur; Suatu Kajian Sosial – Ekonomi : Jurnal ISTORIA Vol. VIII No. 1, Sept 2010).

Baca juga : Gamelan Jawa Mengarungi Gelombang Sejarah

Sepanjang pertengahan abad ke-19, modal asing membanjiri Hindia Belanda. Era liberisasi mendorong perkembangan perusahaan-perusahaan perkebunan. Di Situbondo saja terdapat enam perkebunan dan pabrik gula di Kabupaten Situbondo yang terletak di Panji, Prakajen, Wringin Anom, Olean, Asembagus, dan Demas. Orang-orang Madura dimigrasikan juga terkait kepentingan pemerintah Hindia Belanda yang mendukung pertumbuhan investor asing.  Orang-orang Madura dijadikan pekerja perkebunan dan buruh pabrik gula yang dapat dibayar murah (Koloniaal Verslag 1892′ Bijlage C, No.22:3).m

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here