Setelah banjir besar yang menenggelamkan umat (nabi) Nuh A.s. Bencana dashyat ini menyisakan segelintir pengikut (nabi) Nuh A.s. Shem anak (nabi) Nuh A.s mendirikan pemukiman pertama di Kafr Nahon. Sebuah daerah kecil di Safed yang terletak di provinsi Kanaan, dan dihuni orang orang Yahudi pimpinan Shem. Daerah kecil ini pernah menjelma menjadi kerajaan orang orang Yahudi. Sampai saat kepemimpinan dipegang oleh Jacob (nabi Yakub A.s), Safed tetap menjadi kota makmur. Kemakmuran kota Safed jauh melebihi kota-kota orang Yahudi lainnya seperti Zagzaga, Yerusalem, Tiberias, Askalon dan Hasan (Bilbays) yang tidak begitu makmur.

Baca juga : Polemik Perang Revolusi Fisik

Kota legendaris yang penuh akan nilai historis ini memiliki berbagai peninggalan-peninggalan dari leluhur mereka berupa kuil-kuil kuno. Kota ini telah menjadi Ka’bah bagi orang-orang Yahudi. Seperti layaknya kota Mekkah yang tandus, namun masuk nominasi kota kaya raya, karena sebab yang sama, yakni tempat wisata religi.

              Antara Safed dan Mekkah mempunyai ikon historis yang memberi kemakmuran luar biasa. Menarik wisatawan dari daya tarik religius, kuli kuno di kota Safed sudah menjadi objek wisata religi sejak kepemimpinan Shem, begitu pun Ka’bah yang sudah menjadi objek wisata religi sejak peradaban Arab kuno. Kedua kota tersebut nyatanya tetap eksis hingga sekarang. Pemandangan mistis melekat pada bangunan bangunan kuno disana, bahkan kabbalah yang kodang itu juga berasal dari tempat ini.

          Menurut kenyakinan mereka, sia sia bagi seorang Yahudi mengaku dirinya bagian dari kaum Yahudi, namun dia tidak mengunjungi kota Safed, meskipun hanya sekali dalam hidupnya. Jika tidak mampu melakukannya, seorang Yahudi tidak bisa mengosok wajahnya dengan debu (debu suci asli kota Safed), minum minuman dari air (air suci asli kota Safed; seperti air zam zam di Mekah bagi orang muslim) atau tidak bisa mengasapi dirinya dengan (asap dari) daun musim gugur dari pohon asli dari tanah Safed.

Baca juga : Kebudayaan Indis, Dari Zaman Kompenie sampai Revolusi

Kota tua bangsa Yahudi yang sangat bersejarah dengan bangunan bangunan suci yang masih terawat. Dalam buku Book of Travels dealing with the Hajj Jilid 9 tertulis catatan rinci dari semua kuil dari putra dan putri Yakub dan Bani Ismail. Rumah duka keluarga Yakub, rumah-rumah Efraim anak Yusuf, rumah Ishak, rumah Ismail dan rumah Ayub serta seribu catatan-catatan lainnya.

Baca juga : Kiprah Politik Moh. Ali Jinnah

          Kota Safed menjadi tujuan utama bagi imigran-imigran miskin Yahudi yang  berkeinginan mengubah nasib hidup dengan bertempat tinggal di Kota Safed. Oleh karena itu, terkadang berat hati bagi orang-orang Yahudi untuk menerima dengan lapang dada kebijakan kesultanan Utsmaniyah yang memindahkan mereka dari Safed ke kota Kristen yang baru ditaklukkannya. Pemerataan penduduk yang kesultanan  Utsmaniyah harapkan, seringkali mengalami hambatan. Suap-menyuap acapkali berhasil membatalkan beberapa orang yang hendak dipidahkan (Izzet I. Bahar, 1977). Terlebih, bagi warga Yahudi, kota Safed sangat potensial untuk meraup keuntungan.

          Menurut catatan Evliya Celebi, 12.000 orang Yahudi pernah tinggal di Safed, tetapi pada saat  ini (September 1648) jumlah mereka hanya 2.000 jiwa. Kota Safed memiliki tiga Bedestans (pasar berciri khas kesultanan Utsmaniyah), dua diantaranya kosong karena penduduknya menutup toko-toko dan beralih menyewakan penginapan bagi wisatawan. Disamping itu, masjid Sheikh Ni’ma tetap lestari, dan kokoh berdiri berdampingan dengan Bedestan Sinan Pasha yang megah, dengan dua puluh toko berdinding batu serta lima belas anak tangga dan pintu besi yang menyambut pembeli.

          Semua barang berharga dapat ditemukan di Kota Safed, selain dari Bedestan Sinan Pasha masih terdapat 120 toko yang bisa dijumpai. Rumah rumah di Safed dibangun dari Ashlar putih dan kontruksi kayu hanya digunakan pada pintu saja. Istana Sinan Pasha merupakan bangun terindah di Safed. Bangunan penuh hiasan tersebut berisi tujuh puluh ruangan disediakan untuk kediaman penguasa kota. Suasana gunung yang sejuk tersaji bersama cuaca dan iklim yang mendukung perkebunan – perkebunan zaitun dan murbei. Lembah Lamyun yang menawan, danau Minya yang memukau dan ratusan gua eksotis turut mempercantik pemandangan kota Safed.

Baca juga : Kisah Kegagalan Gandhi

Taman-taman hiburan dan mata air Melikü’t-Tahir (al-Zahir Baybars) yang mengalir menuruni perbukitan sekitar kota turut melengkapi surga dunia yang kerapkali disengketakan penguasa-penguasa dari berbagai kerajaan. Yang jelas, dibalik gemerlap keindahan kota Safed, seringkali terjadi konflik berdarah, penindasan, perampasan, dan pembantaian yang jejaknya terkubur dalam sejarah dan kenangan (Evliya Celebi, 2011).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here