J.C Van Leur, bagi saya adalah seorang sejarawan kolonial yang mempelopori sejarah kritis di Indonesia. Buah pikiran Van Leur nantinya melahirkan perspektif Indonesiasentris yang memutarbalikkan perspektif Belanda, Nerlandosentris. Dalam perspektif Nerlandosentris, penulisan sejarah menyajikan orang-orang Belanda sebagai tokoh utama. Jikalau orang-orang Belanda dipuja sebagai pahlawan, tentunya musuhnya disebut pemberontak. Oleh karena itu, Van Leur berupaya menyuguhkan peran orang-orang pribumi dalam penulisan sejarah. Ia menulis beberapa karya, salah satunya, buku Perdagangan & Masyarakat Indonesia: Esai-Esai Sejarah Sosial dan Ekonomi Asia.

Baca juga : Lubang Hama dan Rumah Maut ; Menoropong Sejarah Kelam Jakarta Melalui Puisi

            Van Leur menasehati para sejarawan agar menghindari penulisan sejarah yang ia ibaratkan menulis dari atas geladak kapal VOC atau gudang-gudang loji. Geladak kapal VOC atau gudang-gudang loji adalah kiasan penggunaan sudut pandang orang-orang Belanda yang subjektif untuk sekilas mengamati dari kejauhan. Maksud sederhananya, arsip-arsip yang dijadikan sumber sejarah perlu dikritik lebih lanjut, mengingat ditulis menurut orang-orang Belanda. Hal ini berlaku pula terhadap sumber-sumber sejarah yang berasal dari penulis kronik berkebangsaan lainnya.

            Mengupas Sultan Khairun Jamil dapat membedah mitos superioritas militer Portugis dan Belanda dalam penulisan sejarah Indonesia. Terlebih menakar kekuatan militer kerajaan-kerajaan Nusantara yang seharusnya tidak boleh dipandang remeh. Inferioritas kerajaan-kerajaan Nusantara yang tergambar dalam literatur sejarah Indonesia terjadi karena sumber sejarah tidak didekontruksi terlebih dahulu. Alhasil, penulisan sejarah yang hadir berlandaskan keterangan penulis kronik Eropa, baik dari saudagar Belanda, pengelana Portugis ataupun penjelajah Spanyol.

Baca juga : Politik Stigma Belanda, Tarekat dan Stigma Gendheng

            Kerajaan-kerajaan di Nusantara terkesan inferior (lebih lemah daripada Eropa) karena penulisan sejarah yang kurang mengkritisi muatan politis dalam sumber-sumber sejarah. Kronik-kronik yang ditulis pengelana Portugis untuk raja Portugal atau gubernur Malaka, Goa, atau Manila mengenai situasi Maluku benar adanya, namun tidak sepenuhnya benar.

            Ingat, orang Portugis adalah tokoh utama dalam kronik-kronik yang mereka tulis sebagaimana orang Belanda ataupun orang Inggris. Jadi, jangan terkejut jikalau menjumpai banyak tulisan sejarah yang seolah-olah menunjukkan keunggulan militer Barat (Portugis atau Belanda) atas kerajaan-kerajaan di Nusantara. Meskipun kemenangan Portugis ata Belanda yang menentukan itu lebih karena menggunakan strategi licik, bukan melalui peperangan.

            Pada 1553, Sultan Khairun Jamil dari kerajaan Ternate mengumpulkan sekutu-sekutunya dalam pertemuan untuk membahas upaya membendung laju kristenisasi serta mengusir Portugis dari Kepulauan Timur. Kolano Katarabumi ditunjuk untuk mengorganisir militer dan menumpas orang-orang Kristen dan pasukan Portugis. Kolano Katarabumi beserta tentaranya menyerbu Morotia, kemudian merangsek ke wilayah Sugala, Tutumaloleo, Aru, Lolonga, Pune, Galela, Tolo, Cawa dan Tobelo.

            Gubernur Portugis dari Kepulauan Timur, Diego Lopez de Mesquita tidak mampu menghentikan agresi militer Kolano Katarabumi, sehingga mengusulkan perjanjian damai yang mengharuskan Sultan Khairun Jamil dan Diego Lopez de Mesquita bersumpah dihadapan kitab suci mereka masing-masing. Setelah perjanjian damai dikukuhkan, Sultan Khairun Jamil diundang ke Benteng Gamlamo untuk menghadiri perjamuan persahabatan yang justru mengantarkannya menuju maut. Sultan Khairun Jamil dikhianati, ia dibunuh, lalu jasadnya dibuang ke laut.

Baca juga : Menuju Perdagangan Budak Afrika; Dari Kerajaan Sungai ke Koloni Eropa

            Babullah Datu Syah, anak Sultan Khairun Jamil dinobatkan sebagai raja baru dan bersumpah akan mambalas dendam. Sultan Babullah memutus perjanjian damai dan menghimpun kembali kekuatan militernya, kemudian mengutus Kapita Kolasineo untuk membantai orang-orang Portugis di Buru, kepulauan Hoamoal, Ambon, Galela, pantai selatan Halmahera, Morotai dan Tolo. Mendengar Sultan Babullah akan menyerang benteng Gamlamo, Gubernur Portugis yang tersisa, Nuno Pareira de Lacerda mengajukan perjanjian damai (M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950: 83-85).

            Babullah Datu Syah mengalami nasib yang serupa dengan ayahnya setelah menerima perjanjian damai dari pihak Portugis. Sepertihalnya Sultan Khairun Jamil, Sultan Babullah beserta pengawalnya juga dijebak Portugis. Pedro Sarmiento mengundang Sultan Babullah untuk mengunjungi kapalnya. (Mengapa Sultan Babullah bisa terbujuk untuk bertemu di atas geladak kapal yang jelas-jelas perangkap?, besar kemungkinan) Pedro Sarmiento membujuk Sultan Babullah dengan menawarkan informasi keberadaan ayahnya, Sultan Khairun Jamil. Sultan Babullah beserta pengawalnya dilumpuhkan oleh empat puluh tentara bertubuh kekar dari Hitu. Sultan Babullah meninggal dunia pada 1583 dalam pelayaran menuju Goa (markas Portugis di India) dan mayatnya dibuang ke laut seperti ayahnya, Sultan Khairun Jamil.

Baca juga : Kampoong : Antara Hunian dan Hinaan

            Portugis sangat licik, meskipun armada lautnya perkasa di atas lautan, bahkan mampu menaklukkan armada laut Turki Utsmani (baca juga : Mematahkan Dominasi Portugis di Samudera Hindia). Namun, cara licik bukan tidak mungkin digunakan. Hal yang hampir serupa dengan cara Belanda meredam pemberontakan Diponegoro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here