Secara umum, kebudayaan Indis adalah produk hibrida dari kebudayaan Jawa (Timur) dan Belanda (Barat). Perjumpaan orang-orang Barat (Belanda) dengan dunia Timur (Jawa) mendorong akulturasi budaya yang melahirkan kebudayaan Indis. Akulturasi budaya bermula dari proses adaptasi orang-orang Belanda terhadap iklim Tropis dan Lingkungan Timur yang berlanjut kolonialisasi atas daerah Pesisir Utara Jawa (Baca juga artikel sebelumnya Homo Bataviensis dan Badut Belanda).

Baca juga : Evolusi Teknologi Persenjataan di kepulauan Nusantara

Kebudayaan Indis menambah deretan budaya yang berakulturasi dengan kebudayaan Jawa. Pertemuan orang-orang Jawa dengan budaya asing yang telah berlangsung berkali-kali tidak serta-merta menghapus local genius dan karakter budaya Jawa. Berbagai kebudayaan asing, bahkan yang berkendaraan agama tidak dapat mencabut karakter budaya Jawa, bahkan justru membaur.

Eksistensi kebudayaan Indis yang disadari oleh Djoko Soekiman berurat akar dari pemahaman komprehensif atas tujuh unsur kebudayaan Koentjoroningrat yang disertai observasi mendalam. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa buku Kebudayaan Indis; Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi karya Djoko Soekiman ini mengambil kajian antropologi-sejarah.

Baca juga : Mengenang Pelabuhan Tanjung Perak

Mengacu pada tujuh unsur kebudayaan Koentjoroningrat, Djoko Soekiman mengidentifikasi kebudayaan Indis. Pertama, bahasa. Djoko Soekiman menemukan berbagai contoh bahasa Belanda yang membaur dengan bahasa lokal. Pertanda bahasa ini berhubungan dengan aktivitas sosial yang tidak terlepas dari komunikasi intensif.

Pergundikan, perniagaan dan hal-hal lain yang mengharuskan interaksi sosial antara orang-orang Barat (Belanda) dengan orang-orang Timur (Jawa) dapat menelurkan berbagai fenomena bahasa. Kedua, sistem pengetahuan yang mencakup perilaku, kebiasaan dan pendidikan. Perpaduan unik dalam ranah edukasi formal dan informal tercermin dari muasal pengadopsiannya. Penganut kebudayaan Indis mengadopsi pendidikan formal meniru Barat, namun untuk pendidikan informalnya justru mengambil cara orang-orang Jawa yang menyerahkan pengasuhan kepada pembantunya (babu, jongos, maupun sopir).

Baca juga : Silang Sengkarut Premanisme di Jakarta

Ketiga, perlengkapan hidup yang meliputi peralatan rumah tangga, alat produksi, transportasi, senjata, pakaian dan rumah tempat tinggal. Gaya hidup yang merepresentasikan kebudayaan Indis lebih mengedepankan simbolisme, prestise jabatan dan ikonografi-ikonografi lainnya yang menggambarkan status sosialnya (kedudukan). Silang sengkarut simbol kejawaan dan kebelandaan bercampur aduk dalam berbagai komponen perlengkapan hidup.

Perjamuan makan (Indische Rijsttafel) yang menghidangkan menu masakan Jawa dan Eropa telah menggambarkan adanya perpaduan dalam metode memasak, ritual makan dan alat-alat dapurnya. Keempat, gaya hidup. Gaya hidup mewah khas kebudayaan Indis seringkali dilengkapi dengan perabotan-perabotan rumah yang eksentrik. Arsitektur bangunan hingga aksesoris rumah seperti lonceng mewujudkan kebudayaan Indis yang menarik nan unik.

Baca juga : Charles Martel, Membendung Ekspansi Islam ke Eropa Barat

Kelima, mata pencaharian. Kategori ras yang diskriminatif cukup menyumbang kesenjangan sosial-politik dan ekonomi. Mencermati hal itu bisa ditinjau dari pembagian mata pencaharian. Kaum Indo-Eropa dan kalangan pribumi biasanya diserap dalam pekerjaan-pekerjaan kasar, serdadu sewaan dan bagi yang mengenyam pendidikan Barat berkemungkinan menjadi bagian dari tenaga administrasi negara. Keenam, kesenian.

Membahas kesenian dalam kebudayaan Indis menjangkau seni kriya dan seni pertunjukan. Kita mengenal komedi Stambul dari Surabaya (Sidoarjo sekarang) yang diperkenalkan August-Mahieu. Selain itu, seni pertunjukan visual yang menampilkan cerita rakyat dalam layar film.

Ketujuh, religi. Agama Kristen dari Barat meresap dalam budaya lokal. Gereja Ganjuran di Yogyakarta yang mengikuti sinkretisme Katolik tanpa membuang praktik-praktik kebudayaan bukanlah satu-satunya. Dr. Joseph Schmutzer menggunakan gamelan, kidung, wayang dan atribut Jawa lainnya dalam menyebarkan agama Kristen. Selain Dr. Joseph Schmutzer, Coenraad Joseph Coolen juga tokoh agama Kristen yang prakek zendingnya juga memanfaatkan atribut-atribut Jawa (Baca juga : Penipu Sinkretis : Coenraad Laurens Coolen dan Kristen Kejawa-jawaan).

 

 

Daftar Pustaka

 

Baay, Regie, Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda, (Depok: Komunitas Bambu, 2010).

Hutari, Fandy, Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal; Kumpulan Esai, Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia, (Solo : Insist Press, 2011)

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2000).

Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink, A History of Christianity in Indonesia, (Leiden: Brill, 2008).

Niwandono, Pradipto, Yang Ter(Di)lupakan: Kaum Indo dan Benih Nasionalisme di Indonesia, (Yogyakarta : Penerbit Djaman Baroe, 2011).

Soekiman, Djoko, Kebudayaan Indis; Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, (Depok : Komunitas Bambu, 2014).

Rahman, Fadly, Budaya Kuliner Indonesia; Masa Kolonial 1870-1942, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2016).

Rush, James. R (Ed.), Jawa Tempoe Doeloe; 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985, (Depok : Komunitas Bambu, 2013).

Said, Edward W., Orientalisme; Menggugat Hegemoni Barat dan Menundukkan Timur Sebagai Subjek, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010).

Vlekke, Bernard, Nusantara; Sejarah Indonesia, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here