Ibnu Hazm, dalam karya terkenalnya The Ring of the Dove memaparkan bahwa tiada cinta yang harus dilarang jika disimpan secara pribadi, di luar publik pengetahuan. Akan tetapi, anehnya ia juga mendukung madzhab imam Malik, perilaku para sodomi sangat kejam, hukuman yang pantas bagi pelanggaran ini harus dilempari batu, baik sudah menikah ataupun belum. Pengaruh tradisi helenistik yang menyiratkan cinta sesama pria (homoseksual) lebih maskulin daripada cinta dengan lawan jenis (heteroseksual)[1] dengan maksud menghasilkan kreativitas, cita-cita mulia dan tindakan terhormat (Miguel Antonio De Freitas Boronha Disertasi, Male Homosexuality in Islamic Normative The Mujun literature of al-Andalus and the Maghreb between the 10th and 13th centuries: 46-52).

Konsepsi cinta yang memberikan penghargaan atas kecantikan pria yang di anggap lebih unggul ketimbang wanita dapat dijumpai dari karya pemikir kontradiksi nan misterius.

“Bagiku wanita adalah ramuan aromatik yang daya harumnya cenderung segera menghilang. Kaum wanita seperti bangunan besar yang jika tidak terus-menerus dirawat akan cepat terjatuh dalam kesirnaan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kecantikan jantan lebih benar, sebab semakin kokoh berdiri, dan memiliki keunggulan lebih tinggi, karena dapat bertahan lama, dan tanpa tempat berlindung, menyerang bagian tertentu yang paling sederhana untuk mengubah kecantikan wajah wanita tanpa pengakuan”, tulis Ibnu Hazm.

Baca juga : Tahta dan Tragedi :Kisah Suram Leluhur Muslim Rohingnya di Tanah Rakhine

Dalam praktek pederasty pada abad pertengahan Islam, al-Tifashi menjelaskan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh pasangan homoseksual ketika pertama kali bercinta.

“Sebuah keberuntungan memiliki tanggung jawab atas inisiasi mereka (anak laki-laki) memasuki masa remaja. Seorang anak muda lebih baik terlibat dalam praktik semacam ini karena pria yang lebih tua adalah teman yang paling sesuai baginya”, pengakuan tertulis al-Tifashi.

Masih persoalan praktek pederasty, Abu Husain Ahmad Ibnu Yahya Ibn Ishaq al-Rawandi dalam bukunya yang berjudul Pronunciation and Correction menyebutkan bahwa Ibrahim Ibn Saiyar al-Nazzam, kepala sekte Mu’tazilah yang cerdas dalam pengetahuan teologi skolastik ternyata menikmati hubungan terlarang dengan seorang anak laki-laki Kristen yang ia sangat ia cintai.

Selanjutnya kisah petualangan cinta Giacomo Girolamo Casanova (1725-1798). Karya Casanova dapat menjadi referensi terpercaya dalam menelusuri praktek homoseksual di jantung kesultanan Utsmaniyah (Turki Ottoman). Dari biarawati sampai istri pejabat pernah bercinta dengan Casanova yang dikenal sebagai penulis, penerjemah, bandar lotere, pemikir cerdas, petualang bebas, pecandu judi, penikmat kuliner, pemain biola, mata-mata, perayu ulung serta tentara pemalas. Sosok legendaris yang berulangkali menaklukkan hati wanita ini ternyata pernah terjerumus penyimpangan seksual.

Selama bertugas sebagai tentara di Konstantinopel, Casanova yang terjebak pekerjaan berperaturan ketat nan membosankan. Situasi mengantarkannya ke hiburan seksual yang menyimpang yakni mencicipi hubungan homoseksual dengan pria Turki yang kelak menjabat menteri luar negeri Kesultanan Utsmaniyah. Yang menarik, Casanova mengaku tidak menyukai pesta seks yang lazim dilakukan kalangan atas di Kesultanan Utsmaniyah (Giacomo Casanova, Pengakuan Casanova : Kisah Nyata Sang Petualang Cinta : 291).

Kisah kaum homoseksual berikutnya berasal dari jantung peradaban Islam Jawa. Bagi masyarakat Jawa hubungan homoseksual merupakan hal tabu yang jarang sekali dibicarakan secara terbuka ke publik. Tradisi dan adat istiadat Jawa yang menjunjung budaya partiarkhi tentu menolak seksualitas yang menyimpang dari nilai-norma yang telah berlaku. Sumber tulisan yang berasal dari wikipedia berbahasa Inggris mempromosikan dan menghimbau bagi siapapun yang dapat menemukan catatan kaki yang dapat mempertanggung jawabkan kabar mengenai pengecualian langka praktik homoseksual oleh pejabat istana Mataram.

Tulisan wikipedia yang meragukan itu menyatakan kalau kabarnya berasal dari sebuah catatan abad ke-18 (tapi apa?), anehnya juga menyebut jika itu dugaan saja pada kalimat berikutnya, dan semakin membingungkan apabila meninjau kalimat selanjutnya yang mengatakan; tidak jelas apakah itu benar-benar didasarkan pada kebenaran atau hanya sebuah rumor kejam untuk mempermalukan saja.

Saya telah mencari ke literatur klasik, referensi-refensi terpercaya dan arsip-arsip Belanda maupun dari perpustakaan (kantor kearsipan) Mataram (Mangkunegaran dsb) tapi masih belum menemukan. Desas-desus itu mengabarkan praktik homoseksual yang dilakukan elit Jawa, Arya Purbaya. Berdasarkan kajian ilmu sejarah yang ketat serta masih berada dalam bayang-bayang tradisi Eropasentris yang mengedepankan rasionalitas dan bukti tertulis, maka dapat disimpulkan kadar autensitas sumber dari desas-desus yang tentutnya tergolong rendah.

Baca juga : Bandar Pelabuhan Internasional : Riwayat Tuban Tempoe Doeloe

Padahal tradisi dan budaya Jawa berbeda dengan Eropa, jadi pendekatan sejarah lokal membantu menjelaskan fenomena sejarah semacam itu. Sikap malu yang menjadi lanskap budaya Timur bertolak belakang dengan budaya Barat yang lebih terbuka (Rekomendasi buku bunga rampai terbitan berbahasa Inggris berjudul Medieval Sexuality – A Casebook). Jadi seksualitas bentuk apapun terbuka ke publik sehingga kronik sejarah seperti itu yang tabu bagi dunia Timur dapat tertuang secara gamblang.

Mengenai kasus Arya Purbaya yang merupakan seorang pejabat istana Mataram pasti memperdulikan reputasi dan citranya. Pengaruh kekuasaannya dapat meminimalisir keadaan dimana secara tidak langsung menutup mulut penutur yang menjadi saksi atas praktik homoseksualnya. Terlebih lagi, bagi orang Jawa praktik itu termasuk hal baru, aneh dan nyeleneh. Jadi membekas dalam ingatan saksi mata yang nantinya menuturkannya atas dasar keprihatinan ataupun sebaliknya kebanggan diri karena mempunyai informasi menarik. Alhasil, informasi beredar dari mulut kemulut yang tentunya banyak informasi yang terdistorsi (terdapat penambahan dan pengurangan cerita).

Gosip unik itu pun sampai terdengar ke telinga pencatat kronik (siapa?, mungkin orang Belanda yang gemar mendokumentasikan cerita menarik tentang wilayah Nusantara yang asing baginya). Ada kemungkinan Arya Purbaya pernah bercinta atau bergaul dengan orang homoseksual yang berkebangsaan Eropa (bisa jadi orang Belanda – mengingat hubungan kerajaan Mataram dan kongsi dagang VOC yang erat pada sekitar abad ke-18). Skandal homoseksual Arya Purbaya bagi saya benar terjadi karena tidak mungkin berkembang isu homoseksual di Jawa abad ke-18.

Dan bila terdapat gosip mirip seperti itu pasti diterjemahkan oleh alam pikir orang Jawa sebagai fenomena unik dan dicatat karena memang sangat langka. Menurut literatur-literatur klasik yang menggambarkan seksualitas orang Jawa seperti serat Centhini tidak pernah mengisahkan praktik homoseksual. Yang paling menguatkan argumen saya adalah desas-desus tentang hubungan homoseksual orang Jawa sepanjang abad ke-18, bahkan seabad sebelum maupun sesudahnya hanya tentang Arya Purbaya. Selain itu, kasus homoseksual Arya Purbaya termasuk kepergok sudah berhubungan badan, sebab tipe homoseksual pederasty di anggap normatif bagi masyarakat Jawa sebagai bagian dari proses anak-laki-laki puber menuju pendewasaan yang di artikan dalam sudut pandang maskulinitas seperti keperkasaan dsb.

 

[1] Pengaruh tradisi helenistik mengenai homoseksual dapat anda jumpai dalam literatur sejarah Yunani kuno, paling mudah ya Sparta yang cukup banyak difilmkan, misalnya movie parodi Meet the Sparta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here