14 September 1991, terbit opini bertajuk Iran dan Model Pembangunan yang diakhiri dengan pertanyaan serius mengenai sampai sejauh mana perubahan yang ditimbulkan dari melibatkan golongan menengah untuk berpartisipasi memajukan industrialisasi tanpa merusak tata nilai serba Islam yang diterapkan para Mullah sebagai elite politik Iran?. Dan ditutup dengan pesimisme penulisnya, yang menggangap proyek tersebut terlampau berat bagi Iran. Bahkan, penulis opini yang akrab disapa Gus Dur tersebut, menjawab sendiri pertanyaan yang ia lemparkan, ‘tidak mudah, justru nantinya akan membawa dilema-dilema rumit di masa depan’. Akan tetapi, ramalan Gus Dur melenceng. Kini, Iran berkembang melampaui ekspektasi Gus Dur.

Baca juga : Menentukan Masa Depan India

Gus Dur di Tanah Persia

            Gusdur pernah menginjakkan kaki di tanah Persia, bahkan mendengar pidato Hojatul Islam Ahmad Khoimeni dan Ayatullah Zanjani. Gus Dur terkejut, dan mengabarkan kisahnya ketika mendengar pidato pembangunan ekonomi dengan mendorong peningkatan produksi secara massif untuk membuka babak baru industrialisasi, yang justru keluar dari mulut seorang kiai tulen. Gusdur mencatat gairah populisme yang menggelora di Iran sebagai refleksi dari sikap keagamaan Imam Ali bin Abi Thalib. Khulafaur Rasyidin keempat tersebut menjadi teladan sikap tolong menolong kepada yang membutuhkan.

Baca juga : Mewabahnya Junk Food

            Dua puluh tujuh tahun berlalu, apa yang dikatakan Gus Dur diulang kembali oleh jurnalis Amerika, Andre Vitchek, yang menggambarkan solidaritas Iran terhadap banyak bangsa-bangsa tertindas seperti Yaman, Palestina, dan Suriah. Andre Vitchek juga menceritakan kejujuran dan kebanggan orang Iran, serta berbagai kebijakan manusiawi yang didamba-dambakan rakyat Indonesia. Seluruh fasilitas pendidikan dan perawatan medis ditanggung pemerintah Iran sepenuhnya. Transportasi umum yang tersubsidi dan ruang publik yang terkesan sangat diperhatikan, sudah membuktikan tekad pemerintah Iran dalam mesejahterahkan rakyatnya.

Baca juga : Siapa Sebenarnya Muslim Rohingya?

Rahasia Iran

            Mengapa Iran bisa melampaui ekspektasi Gus Dur?, dan bagaimana cara Iran melampaui ekspektasi Gus Dur?, adalah dua pertanyaan yang jawabannya tidaklah sederhana. Kedua pertanyaan tersebut menyangkut sejarah panjang bangsa Persia dan kebijakan politik kebudayaan Iran.

            Iran merupakan salah satu negara di kawasan Timur Tengah yang tidak terarabkan. Tentu menarik, mengingat Iran termasuk dalam wilayah kekuasaan Islam-Arab pada masa Khulafaur Rasyidin. Peradaban Persia tergolong tua, dan sudah sangat lama bersetuhan dengan kebudayaan Hellenistik, yakni semenjak penaklukan Alexander Agung.

Baca juga : Kiprah Politik Moh. Ali Jinnah

            Ribuan tahun orang Arab berkuasa, yang terjadi bukan proses Arabisasi, melainkan akulturasi budaya, sehingga kebudayaan Persia masih tetap menonjol. Bahkan, globalisasi tidak menyingkirkan identitas kebudayaan bangsa Iran, justru berbaur saling mendukung untuk kemajuan. Pembauran berbagai kebudayaan dapat ditinjau dari seleksi pemberian gelar Ayatollah.

            Gelar Ayatollah adalah gelar yang dinisbatkan kepada seorang ulama, yang menduduki posisi tertinggi dalam tampuk kekuasaan di Iran, bahkan berada diatas presiden. Syarat memperoleh gelar tersebut sangat susah, bukan sekadar menguasai filsafat, etika dan berbagai ragam keilmuan Islam, tetapi juga harus memahami ilmu pengetahuan Barat yang dapat diadopsi untuk membangun kemakmuran. Selain itu, seorang Ayatollah akan menjadi suri tauladan bagi rakyat Iran.

            Pemahaman dan pemikiran multidimensional yang dimiliki seorang Ayatollah, mendorong lahirnya berbagai kebijakan yang mampu menyokong pembangunan fisik dan mentalitas masyarakat Iran. Kebijakan Ayatollah yang mempertimbangkan sisi kemanusiaan dan keislaman, tentu disamping sektor pembangunan, membuat negeri Persia tidak terlampau bebas seperti negara-negara Barat, tidak terjebak konservatisme agama sebagaimana Arab Saudi, dan tidak terjerumus dalam militeristik selayaknya Korea Selatan. Sehingga senantiasa memupuk benih-benih pembaharuan pemikiran Islam yang mengendepankan dimensi kemanusiaan, yang berakhir dengan kesadaran rakyat Iran dalam bahu-membahu memajukan negara dan menjunjung rasa toleransi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here