Homo Bataviensis berkerumun memadati jalan-jalan setapak. Berpakaian eksotik dengan motif warna-warni cerah gaya gothik Eropa Abad Pertengahan yang mencerminkan gemerlap kemegahan kota Batavia. Anak-anak mudah menaiki perahu menyusuri kanal-kanal diiringi alunan musik merupakan gambaran hiperbola Valentijn mengenai suasana malam Batavia yang pada kenyataannya justru sebaliknya (Bernard H.M Vlekke, Nusantara : Sejarah Indonesia : 180).

Baca juga : Teror, Turki dan Teriakan Para Gadis

Badan kepolisian belum terorganisasi dengan baik, jalan-jalan setapak pun minim penerangan sehingga seringkali dimanfaatkan untuk tindakan kriminalitas. Perjanjian damai dengan Banten pada 1684 mengurangi tensi ketegangan dan kecurigaan yang memberikan ruang bagi Kompeni VOC untuk lebih memperhatikan keamanan kota Batavia. Pihak Kompeni VOC mengoptimalkan badan kepolisian dengan membentuk polisi lapangan yang bertugas berpatroli pada malam hari (seperti hansip).

Baca juga : Perbudakan Modern Gadis-Gadis Cantik Eropa

Berdasarkan studi laporan perjalanan, para pelancong umumnya mencatat kekerasan dan pembunuhan yang tidak manusiawi. Jean Baptiste Tavenier memberitakan perangai buruk nyonya-nyonya Homo Bataviensis yang pencemburu, mudah curiga dan kejam dalam membalas dendam. Seorang nyonya memutilasi dan memasak daging budak perempuannya untuk dihidangkan dalam perjamuan makan keluarga lantaran curiga adanya hubungan gelap antara budaknya dengan suaminya (Bernard Dorlens, Orang Indonesia & Orang Perancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX : 102-103).

Baca juga : Peristiwa Perang Bubat : Antara Fakta dan Fiksi

“…sedikit perasaan kemanusiaan dan agama bersemi di hati, tak terhindarkan timbulnya rasa haru karena belas kasihan melihat manusia, yang lahir bebas seperti semua manusia lainnya, dipaksa dengan kekerasan menjadi budak; ribuan manusia malang dirantai dua-dua, pria-wanita, dipaksa melewati hari-hari menyedihkan dengan beban kerja yang sangat berat, sedikit saja kesalahan akan dihukum dengan cara sangat kejam, ada yang dicabik srigala, yang lain digantung, dibakar hidup-hidup, ditombak, jenis hukuman yang paling sering dikenakan di Batavia…”, tulis Pierre Poivre (baca juga artikel Homo Bataviensis).

Kasus kriminalitas, penindasan kapten terhadap serdadu rendahan dan kesadisan majikan atas budak-budak menelan korban jiwa, namun pemusnah massal paling mengerikan bukanlah tangan manusia melainkan wabah epidemi.

Baca juga : Konspirasi Global : Perang Jawa dan Aliansi Anti-Kafir

Sir Joseph Banks yang berkunjung ke Batavia selama tiga bulan pada 1770 mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Para penumpang kapal kapten James Cook lainnya yang semula dalam keadaan prima, setiba di Batavia banyak yang terlunta-lunta sekarat dan meregang nyawa. Iklim tropis dan lingkungan Timur yang tidak bersahabat diperparah dengan kualitas air bersih beserta terbengkalai berbagai bangkai dan tumpukan sampah mengundang wabah epidemi (James R. Rush, Jawa Tempo Doeloe: 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985 : 26-28).

 

Pada 1730-1733 banyak pegawai pelayaran Kompeni VOC dan para penumpang kapal sudah terkapar tewas setiba di kepulauan Nusantara, sebagian sakit parah sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit. Korban terus-menerus berjatuhan dan mencapai klimaks pada 1737 yang mana angka kematian penderita penyakit di kapal berkisar 11,8 % dan 36,4% di rumah sakit. Ratusan nyawa melayang di rumah sakit kota Batavia. Disana mayat-mayat manusia menunggu giliran dikuburkan sehingga rumah sakit Batavia dijuluki De Mordkuil atau lubang kubur (Leonard Blusse, Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC : 54-56).

Pierre Poivre, seorang penjelajah Perancis melaporkan kengerian pengalaman empat bulan bertahan hidup di Batavia. Ia menyaksikan penguburan massal setiap hari yang menurut perkiraannya jumlah korban mencapai 300 orang per-tahun. Sepintas pengamatan Pierre Poivre menyimpulkan mewabahnya epidemi malaria disebabkan sanitasi buruk berbau busuk yang sebagian mengering akibat sinar matahari. Genangan-genangan air bercampur dengan sampah dan lumpur itulah yang menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk malaria (baca juga Lubang Hama dan Rumah Maut: Meneropong Sejarah Kelam Jakarta Melalui Puisi).

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here