Perandaian bukanlah sejarah. Andai adalah cerminan ekspektasi yang gagal sedangkan sejarah sangat bertolak belakang hal itu. Menurut E.H Carr, sejarah merupakan proses interaksi kontinu antara sejarawan dan fakta-faktanya, dialog tanpa akhir antara masa kini dan masa lalu (E.H Carr, Apa itu Sejarah : 35). Ditinjau dari makna harfiahnya, perandaian bukanlah fakta sejarah, namun Philip K. Hitti mencampur-adukkannya dalam tulisan sejarahnya.

Baca juga : Gamelan Jawa Mengarungi Gelombang Sejarah

“(Edward) Gibbon dan para sejarawan lain sesudahnya, akan melihat masjid-masjid di Paris dan London – di tempat yang kini berdiri sejumlah gereja – serta akan mendengar al-Qur’an, bukannya injil, ditelaah di Oxford dan pusat-pusat pembelajaran lainnya, seandainya orang Arab memenangi pertempuran itu”, tulis Philip K. Hitti dalam History of Arabs.

Philip K. Hitti merupakan Orientalis terkemuka yang menjabat sebagai ketua jurusan Bahasa-Bahasa Timur dengan keahlian sastra semit. Philip K. Hitti mengkaji sejarah Timur Tengah melalui berbagai kronik dan literatur klasik berbahasa Arab. Ia terpukau dan sempat berandai-andai mengenai pertempuran di daerah antara Tours dan Poitiers (Perancis) jika tentara Arab mampu memusnahkan Charles Martel dan pasukannya.

Baca juga : Perbudakan Modern Gadis-Gadis Cantik Eropa Timur

Charles Martel adalah putra dari Pepin dari Herstal yang mendirikan dinasti Carolingian dan mengakhiri dinasti Merovingian dalam kerajaan Frank. Pepin dari Herstal menaklukkan kembali Neustria dan Burgundi, wilayah leluhur suku Frank yang sempat melepaskan diri. Setelah kematian Pepin dari Herstal, kerajaan Franka tertimpa perang saudara. Charles Martel kabur dari penjara dan menghimpun balatentara untuk bertempur melawan Ragenfrid yang mengendalikan kerajaan Franka. Ragenfrid yang merasa berhak mewariskan tahta kerajaan Frank berdasarkan garis keturunan dinasti Merovingian gugur dalam pertempuran di Cologne (Godefroid Kurth, “The Franks”, The Catholic Encyclopedia, Vol.6).

Baca juga : Kampoong : Antara Hunian dan Hinaan

Charles adalah nama aslinya sedangkan Martel merupakan julukannya yang berarti palu. Charles Martel lahir dari istri kedua Pepin, Alpaida. Berbagai literatur klasik menyebut Charles Martel sebagai anak haram, padahal praktek perseliran dalam kerajaan Perancis sangatlah lumrah. Istri pertama Pepin, Plectrude menjadi dalang atas pencemaran nama baiknya karena iri atas pengangkatannya sebagai raja Franka, bukan putranya. Ia mendapat julukan “Martel” karena mampu melumat habis musuh-musuhnya tanpa ampun. Bahkan, Charles Martel tidak segan-segan membiarkan musuhnya meloloskan diri dan menghimpun kekuatan militer untuk membalas dendam (Paul Fouracre, The Age of Charles Martel: 3-20).

Baca juga : Memahami Karir Politisi Raffles ; Reputasi, Manipulasi dan Invasi

Pada 717, Al-Hurr ibn Abd al-Rahman al-Tsaqafi melintasi wilayah Pyreness dan memasuki tanah kaum Franka. Al-Hurr mengambil peluang emas atas pertikaian antara duke Aquitaine dan pejabat militer kerajaan Franka. Akan tetapi, ekspedisi militer Al-Hurr kurang membuahkan banyak hasil. Penerusnya, al-Samh ibn Malik al-Khaulani pada 720 mengadakan ekspansi militer yang mampu Septimania, Narbonne dan gugur dalam penaklukan kota Toulouse.

Pasca perang saudara pada 715-718, Charles Martel menyingkirkan musuh-musuh politiknya, membersihkan kerusuhan-kerusuhan dan membendung berbagai ekspedisi militer dari kerajaan tetangganya yang agresif. Charles Martel bertempur dengan musuh yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Orang-orang Arab-Berber terus-menerus menggerus wilayah kekuasaannya dan ekspedisi militer gubernur (amir) Spanyol, Abd Rahman ibn Abdullah al-Ghafiqi menjadi pertempuran yang menentukan.

Baca juga : Si Penjilat, Sosok Lain Ibnu Khaldun

Pada 732, Abd Rahman melintasi Pyrenees Barat dan menaklukkan Duke Eudes yang berkuasa di tepi sungai Garonne. Abd Rahman meluluhlantakkan Bordeux, membakar gereja-gereja dan benteng Poiters. Abd Rahman yang ambisius menerjang menuju Tours. Di persimpangan Clain dan Vienne serta perbatasan Tours dan Poiters, tentara Abd Rahman bertemu dengan Charles Martel. Pertempuran sengit berlangsung selama tujuh hari, pasukan infanteri Charles Martel yang berseragam kulit srigala dan berambut panjang kusut tergerai sampai bahu menghadapi orang Arab-Berber dengan formasi persegi, tengah berlubang. Kaveleri Arab-Berber gagal melumpuhkan pasukan infanteri Charles Martel, bahkan Abd Rahman tewas dalam pengejaran. Tentara Arab-Berber yang putus asa mengelabuhi pasukan Charles Martel dan kabur bersama kegelapan malam (Philip K. Hitti, History of Arabs: 636-637).

Baca juga : Lingkaran Setan Perbudakan di Eropa

Charles Martel berhasil meraih kemenangan berkat kegigihannya menghimpun sekutu yang gelisah terhadap aktivitas militer tentara Islam. Sebelumnya, tepatnya pada 725, Charles Martel mengukuhkan kembali otoritasnya atas wilayah Bavaria (Belanda) dengan mengadakan operasi militer. Charles Martel tidak hanya mengkonsolidasi kekuatan militer, namun juga memperkuat aliansi. Charles Martel menjalin relasi dengan Tassilo untuk menaklukkan Pavia pada 754-756. Ia juga menjalin persekutuan dengan Lombard, kerajaan yang memutuskan hubungan dengan Pavia (Bernard S.Barchrach, Charlemegne’s Early Campaigns 768-777; A Diplomatic and Military Analisys: 142-144).

Sosok Charles Martel sesungguhnya lebih hebat daripada anaknya (Pepin) maupun cucunya (Charlemegne). Charles Martel mewariskan kecerdikan politik kepada anaknya, Pepin, sedangkan Charlemegne meniru kecerdasan militernya. Jangan heran, Charlemegne menjadi penakluk daratan Eropa pada era abad pertengahan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here