Konflik Texas mendorong monarki Bourbon Spanyol bertindak tegas, dan memberikan saran penyelesaian melalui kebijakan hibah yang diharapkan mampu memuaskan banyak pihak. Warga Anglo-Amerika yang membawa budak menuju tanah subur untuk menumbuhkan kapas. Mereka menerobos batas-batas, memasuki wilayah Meksiko, dan memicu konflik, yang mencoba diselesaikan dengan kesepakatan yang meliputi menukar tanah dengan harga murah (hampir gratis), pembebasan pajak awal, serta bagi pemukim baru ditawari masuk agama Kristen Katolik dan kewarganegaraan Meksiko.

Baca juga : Krisis Bawang Putih

            Sistem lahan hibah setidaknya berjalan lebih dari apa yang diharapkan oleh Spanyol. Akan tetapi, para imigran yang kalah jumlah dengan orang Meksiko mengalami tekanan, dan proses asimilasi budaya ke dalam budaya Hispanik pun tidak terjadi. Orang Anglo – Amerika terus berbicara bahasa Inggris dan mempratekkan Iman Protestan. Akibatnya, terjadi konflik horizontal antara kelompok imigran dan penduduk lokal terjadi di Texas. Pemerintah pusat Meksiko meresponnya dengan memaksakan proses asimilasi, dan mempersekusi kepentingan ekonomi mereka. Akhirnya, meletuslah pemberontakan terbuka, yang juga diperparah dengan hasrat Meksiko untuk menguasai pabrik pembuatan bir di Texas.

Baca juga : Generasi Muda Menemukan Indonesia

Selain persoalan tersebut, juga terdapat perkara lain, yakni Meksiko sudah melarang perbudayakan sejak tahun 1829, yang tentu bertentangan dengan kepentingan warga Anglo-Amerika. Pada 1830, Meksiko mengambil kebijakan menutup perbatasan untuk imigran baru. Meskipun pelanggaran tetap terjadi, perbatasan antara Meksiko dan Amerika Serikat terlampau longgar untuk secara ketat berada dalam pengawasan. Peningkatan bea ekspor-impor menjadi kebijakan Meksiko untuk mempengaruhi perniagaan Texas dengan Amerika Serikat. Ancaman aneksasi Texas oleh Amerika Serikat bukan sekadar wacana, beberapa tentara bayaran berupaya telah melewati perbatasan dan memulai keributan.

Pemerintah Meksiko menugaskan unit militer untuk memperketat penjagaan wilayah tersebut. Stepen Ausin, anak pendiri koloni Anglo-Amerika memprotes kebijakan sentralistik Meksiko yang acapkali merugikan mereka. Golongan liberal Meksiko dan politisi Amerika Serikat saling dukung untuk menghentikan kediktatoran Santa Anna. Stepen Austin menganjurkan pemisahan Texas dengan Meksiko, dan mengorbitkan nama Republik Bintang Lone. Stepen Austin mewujudkan impiannya dengan mempersenjatai orang-orang Texas dalam upaya membendung 6000 bala tentara Santa Anna (Meksiko). Namun, Stepen Austin tidak menyerah, bahkan justru pemberontakan kian membara. Santa Anna mengepung pertahanan Stepen Austin selama beberapa hari, dan pada 6 Maret 1835, Austin masih belum menyerah dan kembali melancarkan serangan balasan. Seiring sejalan Santa Anna berhasil menembus dinding pertahanan, tetapi mengorbankan ratusan pasukannya. Dalam pertempuran menerobos dinding, pasukan Santa Anna berjatuhan, bahkan berujung kemenangan Texas. Santa Anna murka, dan melanjutkan pengepungan yang lebih ganas. Selama beberapa minggu, kota Goliad dikepung, dan kolonel James Fannin terpaksa menyerah, kemudian sisa asukannya dieksekusi (Lynn V. Foster, A Brief History of Mexico : 122-125).

Baca juga : Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia

Pembantaian diikuti dengan kematian 365 tahanan Calvinis, yang nantinya menggemparkan public Amerika Serikat. Para relawan Amerika Serikat mengumpulkan persediaan makanan, dan dana untuk membeli persenjataan, kemudian mengirimnya ke Texas. Akhirnya, Texas memperoleh momentum dan menyerang balik. Tentara Meksiko kocar kacir, sedangkan Santa Anna di penjara. Santa Anna menandatangani perjanjian damai, dan tentara Meksiko ditarik dari selatan Rio Bravo. Texas menjelma menjadi republik yang merdeka, dan dari tahun 1836 hingga 1845 Texas tetap independen.

Disamping itu, dari tahun 1839 hingga 1842, gejolak politik dan reformasi militer menggelora di Meksiko. Intervensi Perancis menyulut permusuhan dan Meksiko menjadi kehilangan haluan. Sementara di Amerika Serikat, Presiden John Tyler memperkenalkan resolusi kepada Kongres untuk membahas aneksasi Texas. Meksiko terlampau sibuk dengan masalah internal, yang mana negara bagian, Yucatan, termotivasi untuk memisahkan diri juga.

Texas kembali diambang perang. Nasib Texas dipertaruhkan. Republik Bintang Lone mengklaim perbatasan barat Rio Grade diperluas wilayahnya dua kali lipat dari ukuran semula. Meksiko merasa sangat dirugikan, apalagi menyangkut jantung tua koloni, New Mexico, sekitar Santa Fe dan setengah dari apa yang sekarang menjadi provinsi Colorado. Amerika Serikat dibawah Presiden James K. Polk tidak hanya mengklaim wilayah yang disengketakan, tetapi juga ingin menambahkan California dan sisa New Mexico menjadi satu paket. Amerika Serikat berani membeli $ 5 juta untuk New Mexico dan minimal sebesar $25 juta untuk California. Sekitar 1 juta mil wilayah Meksiko pun dipertaruhkan. Perwakilan Amerika Serikat, James K. Polk datang ke Meksiko untuk negosisasi tawaran, dan Meksiko marah atas keputusan sepihak tersebut (Charles River (Ed.), The Mexican-American War; The History of Controversial War that Resulted in Annexation of Southwest and California : 23-24).

Baca juga : Menuju Kemerdekaan Pakistan

James K. Polk menghina identitas nasional, dan Meksiko mengganggapnya sebagai deklarasi perang. Dan memang langkah Amerika terkesan menunggu insiden untuk membenarkan tindakan mencapok wilayah Meksiko dengan alasan pertahanan. Setelah perang sudah dapat dibenarkan, General Zachary Taylor menggiring pasukannya melewati wilayah Meksiko. Pasukan Meksiko menghalanginya, dan melukai enam belas tentara Zachary Taylor. James K.Pol menyakinkan Kongres, bahwa insiden tersebut telah membuktikan agresivitas Meksiko, serta ancamannya terhadap Amerika Serikat kedepannya (John S. D. Eisenhower, Zachary Taylor : 29-30).

Meksiko dirundung kudeta berdarah, sedangkan Amerika Serikat mereorganisasi pasukannya. General Stephen Kearny berbaris di Santa Fe, dan memicu konflik awal dari serangkaian pertempuran yang berat sebelah. Ia melibas segala hambatan dari tentara Meksiko, dan berhasil menuju California untuk menemui John Sloat beserta John Fremont yang memegang angkatan laut. Meksiko menolak menyerah, dengan segala daya mengerahkan 20.000 tentara yang direorganisir secara tergesa-gesa oleh Santa Anna.

          Pertempuran di BuenaVista menemui jalan buntu, dan keesokan harinya seketika berakhir karena Santa Anna kembali ke Mexico City secara misterius. Wilayah utara Meksiko hilang. Invasi Amerika Serikat ke Mexico City memberikan kerugian yang besar, sehingga sebagian pemimpinnya memilih mengakhiri perjuangannya. Sementara para pemimpin Meksiko berdebat, Amerika Serikat dibawah Jendral Winfield Scott memimpin pertempuran ke ibukota. Mendarat di Veracruz, Scott dengan cerdik memotong pasukan bersenjata di pulau benteng tua dengan mendarat di atas kota dan sekitarnya dari belakang. Dia membombandir warga tak berdaya dan mengabaikan permohonan untuk membiarkan perempuan tak berdosa dan anak-anak mengungsi. Korban sipil dua kali lipat dari militer.Veracruz akhirnya menyerah, dan Scott berbaris menuju Mexico City (Clayton R. Newell, The Regular Army Before The Civil War 1845-1860 : 13-15).

Santa Anna mencoba memotongnya tapi dikalahkan, warga menolak kota Veracruz dihancurkan. Ibukota mencoba mempersiapkan perang selanjutnya. Beberapa kota di Meksiko tidak mungkin untuk mempertahankan dan mengajukan perdamaian melalui negoisasi. Pemimpin provinsi menolak berkontribusi pada pemerintahan pusat yang korup. Kongres enggan memberikan dukungan yang berakhir dengan kegagalan-kegagalan baru dalam pertempuran. Pasukan Amerika Serikat kalah jumlah dengan pasukan Meksiko, yang berjuang keras dalam pertempuran Churubusco di pinggiran kota. Santa Anna menggunakan negoisasi untuk mengulur waktu dan menghimpun kekuatan.

Pertempuran di Molina del Rey menewaskan 4000 orang Meksiko dan 1000 orang Amerika. Scoot membariskan pasukannya di benteng kota kiri, Chapultepec Puri. Benteng dikelilingi ranjau darat dipertahankan oleh akademi militer berjumlah sekitar 1000 tentara dan kadet muda. Pada bulan September Scoot memerintahkan pasukannya menyerbu benteng, ranjau bawah tanah tidak meledak, pasukan dapat mencapai dinding. Kadet muda bergabung dalam perjuangan memilih kematian daripada menyerah. Pertempuran terakhir yang mematikan. Santa Anna mundur dan pergi ke pengasingan. Resultan perjanjian Guadalupe Hidalgo (2 Februari 1848) berisi Meksiko harus kehilangan wilayah utara yang luas, dan terpaksa menukar wilayahnya dengan uang 18 juta dollar atau kurang dari setengah anggaran tahunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here