Judul               : Muslim Tanpa Masjid; Mencari Metode-Metode Aplikasi Nilai-Nilai al-Qur’an pada Masa Kini

Penulis             : Kuntowijoyo

Penerbit           : Penerbit IRCiSoD (DivaPress) bekerja sama dengan penerbit Matabangsa

Edisi                : Pertama, Juli 2018

Tebal               : vii + 451

ISBN               : 978-602-7696-53-2

            Telah banyak cendekiawan yang menafsirkan Al-Qur’an untuk memahami Islam. Akan tetapi, hanya segelintir saja cendekiawan yang berupaya memberikan formulasi dalam menjawab tantangan jaman. Dan salah satu cendekiawan yang mampu merespon isu-isu kekinian dengan menerapkan ajaran-ajaran sosial dalam teks Al-Qur’an berdasarkan konteksnya adalah Kuntowijoyo.

            Kuntowijoyo, seorang sejarawan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada yang telah menelurkan pelbagai karya akademis di bidang studi Ilmu Sejarah. Disamping itu, Kuntowijoyo juga dikenal sebagai sastrawan dan budayawan yang pelbagai karya sastranya sudah memperoleh pengakuan publik. Bukan hanya karya sastra dan akademisnya yang berpengaruh, melainkan juga karyanya yang sarat akan semangat pembaharuan pemikiran Islam.

Sepertihalnya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia dan Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi, karya Kuntowijoyo lainnya yang bertajuk Muslim Tanpa Masjid; Mencari Metode-Metode Aplikasi Nilai-Nilai al-Qur’an pada Masa Kini juga menghadirkan pembaharuan pemikiran Islam dalam kumpulan esainya.

Dalam mengeksplorasi sejarah Islam Indonesia, Kuntowijoyo menggunakan metode yang ia sebut dengan strukturalisme transendental. Kuntowijoyo memaparkan penjelasan tentang strukturalisme transendental dalam pendahuluannya, yang intinya Islam adalah sebuah struktur, yang juga telah mengalami perubahan dan memiliki kemampuan untuk mengubah dirinya sendiri tanpa kehilangan keutuhannya. Diperlukan enam kesadaran dalam memahaminya, yang meliputi kesadaran tentang perubahan, kesadaran kolektif, kesadaran sejarah, kesadaran tentang fakta sosial, kesadaran tentang masyarakat abstrak, dan kesadaran tentang pentingnya objektifikasi.

Baca juga : Pasang Surut Perekonomian Nelayan

Terlepas dari isu-isu politik yang mendistorsi definisi ulama, lebih jauh Kuntowijoyo telah menafsirkan perubahan kedudukan ulama dengan membandingkan dalam kategori masyarakat pra-industrial, semi-industrial, dan industrial. Meninjau dari karya Clifford Geertz, Agama Jawa; Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa, Kuntowijoyo memaparkan analisisnya yang menunjukkan peran sosial ulama yang seiring sejalan tergantikan. Dalam menjelaskan perguliran ke generasi baru yang akrab disebut generasi Millenial, tentu, metode strukturalisme transendentalnya Kuntowjoyo masih relevan. Bahkan, sepeningggalan Kuntowijoyo, ulama mengambil peran sosialnya dengan memanfaatkan media kekinian. Dan sesuai dengan konteksnya, ulama sebagai mitra, komunikasinya melalui elektronik, berperan dalam ranah intelektual, dan perekrutannya secara sporadis.

Jangan heran dengan perubahan status, media komunikasi yang digunakan, peranan sosialnya dan pola rekruitmennya. Sebab Islam dan umat Muslim mustahil tidak mengalami perubahan. Kuntowijoyo mengerti betul hal tersebut, sehingga berupaya menyumbang gebrakan baru untuk mencegah kebekuan pemikiran umat Muslim dan kristalisasi ajaran Islam yang masih merujuk studi kasus gejala sosial Abad Pertengahan.

Sesungguhnya, Ulil Abshar Abdallah juga mengadopsi pemikiran yang hampir serupa dengan Kuntowijoyo. Dalam opini yang ia terbitkan di Kompas, Ulil Abshar Abdallah meletakkan Islam sebagai sebuah organisme yang hidup dan dapat berkembang sesuai dengan denyut nadi umat manusia. Meskipun Kuntowijoyo tidak menjelaskannya secara tersurat, tentu alasannya tetaplah mirip seperti Ulil, yang menganggap Islam sudah menjadi menjadi monument mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, yang setelahnya tak boleh disentuh tangan sejarah.

Baca juga : Meraih Kemerdekaan dan Kedigdayaan; Amerika Serikat Melompat Jauh Kedepan

Memungut istilahnya Ulil, Kuntowijoyo juga mengkhawatirkan kecenderungan umat Islam Indonesia untuk memonumenkan Islam. Hal demikian justru bertentangan dengan semangat awal kedatangan Islam, yang mana Muhammad bin Abdullah dapat disebut agen perubahan yang bukan hanya sekadar menyebarkan agama baru, namun juga menebar pembaharuhan dalam ranah hukum dan sosial kultural. Karena penafsiran Islam dapat ditafsirkan secara konstektual, non-literal, dan substansial, maka Kuntowijoyo melalui pendekatan strukturalisme transendental optimis dalam menghadirkan Islam kekinian, yang tak menutup kemungkinan cocok dengan generasi Millenial.

Islam lintas generasi yang Kuntowijoyo dambakan dapat dimengerti ketika membaca buku Muslim Tanpa Masjid; Mencari Metode-Metode Aplikasi Nilai-Nilai al-Qur’an pada Masa Kini yang masing-masing esainya memetik studi kasus dari peristiwa sejarah. Esainya bertajuk Tjokroaminoto, Natsir, dan Habibie; Tiga Tonggak Sejarah Umat, Kuntowijoyo membikin skema periodik yang menjelaskan pertautan dalam sejarah Umat Islam Indonesia.

Baca juga : Sultan Khairun Jamil dan Manipulasi Sejarah Superioritas Militer Portugis

Pada masa kolonial, Tjokroaminotodari organisasi SI (Serikat Islam) menggunakan sentimen untuk menghimpun massa. Menurut Kuntowijoyo, yang disebut umat dalam jaman itu adalah wong cilik, yang dimobilisasi Tjokroaminotodalam keanggotaan koperasi SI. Sementara pasca kemerdekaan, tokoh Islam Indonesia adalah Natsir dari Masyumi. Berdasarkan klasifikasi Kuntowijoyo, Natsir menekankan aspek ideologis, sehingga umat Islam yang dimaksud bersifat dikotomis, dan terwakili dalam istilah Islam tradisionalis dan Islam modernis. Sedangkan memasuki Orde Baru, Kuntowijoyo menganggap Habibie dari ICMI sebagai tokoh Islam yang merepresentasikan umat Islam yang pluralis dengan pandangan dunia bertaraf global.

Baca juga : Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia

Bagaimana pun karya Kuntowijoyo ini patut ditaruh dalam rak koleksi buku Islam progresif. Dan sebaiknya umat Islam Indonesia bersyukur, Kuntowijoyo dan karya-karyanya telah membukakan pintu ijtihad dan memecah kebekuan berpikir. Serta, yang terpenting dari sumbangan pemikirannya adalah bagaimana umat Islam dari generasi apapun berhak menerapkan ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan konsteks jamannya. Begitu pula dengan generasi Millenial yang tak perlu terombang-ambing lagi oleh arus gelombang informasi. Sebab buku Muslim Tanpa Masjid; Mencari Metode-Metode Aplikasi Nilai-Nilai al-Qur’an pada Masa Kini ini dapat menjadi referensi sekaligus panduan yang senantiasa relevan meski jaman bergulir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here